hari ini,
apakah manusia
sudah benar-benar
tak punya perasaan?
lantas apa,
apa manusia
masih benar-benar
layak disebut manusia?
08/12/18
Tampilkan postingan dengan label 2018. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2018. Tampilkan semua postingan
8 Des 2018
4 Des 2018
PAPAN OPINI
Kita adalah suara
bagi bunyi-bunyi yang sepi.
Kita adalah lidah bagi mulut-mulut
yang dibungkam penguasa.
Kita adalah kaki bagi tubuh
yang dipaksa lumpuh.
Kita adalah papan opini
bagi kebenaran yang dipaksa sembunyi.
Kita adalah corong-corong hati nurani.
4-12-2018
28 Okt 2018
PEMUDA DAN KEBANGKITAN PERADABAN 5.0

Kita adalah tonggak-tonggak peradaban. Kita adalah api yang berkobar. Kita adalah semangat tak terkalahkan. Kita adalah pendobrak perubahan.
Kita adalah pemuda.
Hanya di tangan kita segala perubahan itu berawal. Hanya di tapak langkah kaki kita segala kebangkitan itu berpangkal. Dan hanya di kepala kita segala revolusi terbaik itu berasal. Sebab, yang mendidih di kepala kita hanyalah ide, pemikiran, dan hukum-hukum yang Allah berikan untuk diterapkan dan ditegakkan dalam kehidupan. Inilah yang kita perjuangkan.
Karena kita adalah motor penggerak bagi kebangkitan yang dijanjikan tegak.
Kita adalah pemuda.
---
Mari berkaca pada masa itu; ketika Rasulullah mengawali dakwahnya dengan memilih mengajak para pemuda ikut dalam misi besarnya—menguatkan gema Islam di Makkah juga Madinah. Melahirkan suara-suara lantang menguarkan kebenaran pada telinga-telinga orang jahiliyah, membentuk pikiran cemerlang sosok-sosok pemuda pejuang, dan semangat juang pun mengobar dalam tubuh yang kekar.
Langkah-langkah pun melesat berbekas di medan perang. Tekad menguat; mental berani mati demi kebenaran yang digenggam. Musuh-musuh pun diterjang tanpa takut tumbang. Semangat mengakar pada akidah yang benar; resiko apa pun dijelang demi kebangkitan Islam.
Merekalah pemuda-pemuda dengan didikan Islam, berakidah yang kuat dan berkepribadian yang dahsyat.
---
Sejatinya, membangun kembali peradaban yang pernah gemilang—terang menjangkau seluruh dunia—adalah merangkai kembali keping-keping yang tercecer dari keutuhan kejayaan sebelumnya. Sementara membangun peradaban Islam adalah menyusun kembali batu bata agama dan negara menjadi bangunan megah—penjaga dan pelindung umat manusia.
Dan pemuda adalah kunci pembuka bagi peradaban Islam. Sebab, pemuda memiliki potensi besar untuk bergerak dan mewujudkan kebangkitan Islam.
Kebangkitan itu adalah majunya pemikiran, yang terwakili dalam akidah aqliyah politis yang layak menjadi kaidah bagi pemikiran-pemikiran masyarakat dan menjadi sumber bagi pancaran sistemnya, serta sebagai asas bagi peradabannya. Kebangkitan hakiki hanya akan lahir dari rahim Islam. Sebab, Islam berpijak pada akidah yang kuat dan bernaung pada sistem yang hebat—yang mengatur segala aspek kehidupan, tanpa terkecuali.
---
Pemuda adalah penyangga negara yang memiliki kekuatan dan potensi besar. Sebagaimana sistem khilafah yang memiliki paradigma bahwa kesejahteraan adalah ketika kebutuhan (sandang, pangan, papan) terpenuhi.
Apa yang bisa kita lakukan hari ini? Apakah cukup berdiam diri menanti peradaban gemilang itu bangkit kembali? Sejatinya bukan tentang kapan peradaban itu bangkit kembali; tetapi tentang apa yang telah kita lakukan untuk menjemput kebangkitan peradaban itu sendiri. Karena sesungguhnya peran pemuda adalah membangun pemikiran umat dan menemukan penyelesaian dari segala permasalahan umat.
---
Mari kembali berkaca pada masa itu; ketika khilafah mampu melahirkan pemuda-pemuda terbaik sepanjang masa. Tersebutlah Muhammad Al Fatih, seorang pemuda yang sejak balig hingga meninggal, shalat rawatib dan tahajud pun tak pernah tertinggal. Pencapaian terbaiknya adalah menaklukkan Konstantinopel pada usia yang sangat muda, 21 tahun.
Selain itu, muncul nama Ibnu Sina, berjuluk “Bapak Pengobatan Modern” yang terkenal sampai ke Barat. Dan nama lain yang muncul adalah Imam Syafi’i, yang di usia tujuh tahun mampu menghafal seluruh ayat Al-Qur’an. Imam Syafi’i adalah imam besar yang dari luas keilmuannya lahirlah 174 kitab—yang dikaji dan dijadikan rujukan hingga saat ini.
Khilafah memiliki visi politik untuk menjadikan negara kuat dan terdepan—yang tidak mudah dijajah oleh musuh-musuh Islam. Khilafah memiliki langkah strategis termasuk pemberdayaan generasi muda dalam menyongsong peradaban gemilang yang dapat menghantarkan kepada penghargaan tertinggi, sebagai umat terbaik di muka bumi.
Kita adalah pemuda. Bersama, wujudkan kebangkitan Islam. Allahu Akbar!
Malang, 28/10/18
24 Okt 2018
CARA MENGHORMATI YANG BENAR DAN KEDUNGUAN YANG SEMARAK

: sebuah puisi protes terhadap pernyataan ketua umum GP Ansor
dan panglima tertinggi banser, Yaqut cholil Qoumas, tentang bendera tauhid
dan kutukan terhadap perbuatan oknum banser yang membakar bendera Ar-Royah
Kalau cara menghormati yang benar adalah dengan cara membakar;
betapa sabarnya Namrud kepada Ibrahim?
Kalau cara menghormati yang benar adalah dengan cara membakar;
betapa mukhlisnya Aswad Al-Ansi atas perlakuannya kepada Abu Muslim Al-Khaulani?
Padahal Namrud itu raja yang angkuh, sesat, ingkar, dan kufur nikmat.
Sementara Aswad Al-Ansi adalah pembohong besar, nabi palsu,
yang mendaku utusan Tuhan dari negeri Yaman.
Kalau cara menghormati yang benar adalah dengan cara membakar;
betapa terhormatnya kayu bakar, rokok, sumbu kompor, termasuk kalori
dan semangat butamu membela bendera ormasmu itu!
Logika sesat seperti ini tak perlu dilestarikan;
sebab, hanya kedunguan yang mampu menciptakan.
Untuk melihat kebenaran, cukuplah menengok hati kecilmu;
mensyukuri nikmat dengan cara menggunakan akal sehat.
Bagaimana pun, membakar bendera bertuliskan kalimat Tauhid
dengan dalih penyelamatan adalah tindakan bodoh—
hasil kolaborasi antara semangat buta dan kebencian yang menguasa.
Apalagi dianalogikan dengan kasus sobekan ayat Qur’an;
yang adabnya memang harus dibakar karena takut tercecer
dan terinjak—begitulah cara memuliakannya.
Lantas, apakah beradab jika yang dibakar itu
adalah Al-Quran yang utuh—dengan dalih memuliakannya?
Yang kau bakar itu kalimat Tauhid yang utuh; bukan sobekan!
Lantas, mengapa kau bakar ramai-ramai?
Seperti sedang merayakan kekalahan musuh bebuyutan;
Semacam ritual kemenangan suatu persaingan.
Ah, kedunguan semakin semarak hari ini;
dirayakan di hari-hari besar nasional,
dihayati di lapangan-lapangan upacara bendera,
bahkan dibagi-bagi di gedung-gedung istana negara.
Lantas, mau dibawa ke mana akal sehat dan hati nurani kita?
Semoga Allah memuliakanmu sebagaimana caramu memuliakan-Nya!
Malang, 24/10/18
18 Okt 2018
DRAMA REZIM ZALIM
Tokoh antagonisnya sesungguhnya adalah tokoh yang melabeli dirinya sendiri sebagai tokoh protagonis dalam cerita—memaksakan kehendak, berlaku sewenang-wenang.
Memerankan tokoh pemimpin yang merakyat, tetapi mencekik rakyat dengan kebijakan-kebijakan ala penjahat. Seperti adegan ketika menyusuri selokan demi selokan, dijepret ajudan dengan kamera andalan, diunggah dengan framing yang tepat dan menguntungkan. Seolah peduli dengan nasib rakyat, tetapi esok hari segala harga seketika meroket tinggi. Begitu pun angka impor beras meninggi, meresahkan petani yang peras keringat menanam padi, dan harus menuai kenyataan bahwa antara harga beras dan perjuangan menanam padi tak lagi mengimbangi.
Tak hanya itu, ada adegan yang sempat romantis dengan citra yang manis; ketika janji-janji di awal pemilihan dilafalkan dengan begitu puitis. Dan ternyata, pada akhirnya janji hanya tinggal janji. Rasa manis seketika hambar cenderung pahit meracuni hati.
Dan akibat perwatakan rezim yang dijalankan oleh boneka-boneka kapitalis birokrat yang disetir oleh Barat, hari ini negara menjadi kacau dan menimbulkan berbagai konflik yang pelik. Mulai dari pembubaran ormas Islam, persekusi ulama, pembubaran majelis-majelis ilmu, bangkitnya PKI, harga pangan melonjak, hutang negara membengkak, BBM naik, sampai bencana-bencana yang datang memakan korban dan menghancurkan berbagai insfrastruktur yang dibangga-banggakan. Ternyata, Sutradara kehidupan yang sesungguhnya murka besar atas rezim yang jauh dari keimanan dan ketaatan pada Tuhan.
Ah, memang butuh banyak waktu untuk menarasikan rezim ini atas segala kezalimannya. Tetapi, tak butuh banyak waktu untuk rakyat memilih bergerak, melawan, dan mengopinikan bahwa sistem kapitalis-demokrasi harus diganti dengan sistem Islam yang memperlakukan rakyat lebih manusiawi.
Pada akhir cerita, rakyat bersuara, bersatu bersama, bangkit dengan iman di dada, mengibarkan panji liwa’ dan royah untuk syariah dan khilafah—rakyat makmur-sejahtera—menjangkau-menaungi seluruh dunia.
Malang, 18 Oktober 2018
Foto: Habib Nur Amali
29 Sep 2018
LANGIT TAKDIR
doa-doa mengudara ke langit-langit takdir
bekerja menggalang awan menjelma mendung
berharap bala bantuan datang seperti hujan yang hadir
tak reda-reda hingga retak tanah tak lagi menyandung
guncangan hanyalah tanda bagi iman yang mudah goyah
guncangan hanyalah isyarat bagi dosa yang makin menguasa
guncangan hanyalah lambang bagi maksiat yang terus merajalela
guncangan hanyalah firasat bagi semesta yang lekas menemu ajalnya
meski ia hanya, tetapi ia teguran yang nyata
sejarah telah merekam banyak jejaknya
semesta tak mampu menyangkal tentang kedahsyatannya
bumi dan langit menjadi saksi atas segala luapan emosinya
kita adalah hutan-hutan yang hangus dibakar kedengkian
kita adalah rumah-rumah yang hilang ditelan kekikiran
kita adalah jalanan aspal yang retak diremas keangkuhan
kita adalah tanah-tanah yang remuk dilumat kebohongan
kita sejatinya adalah bencana itu sendiri
sungguh, kerusakan di darat maupun di lautan
kebanyakan adalah ulah manusia sendiri
luruhkan kemaksiatan, junjung kebaikan
*Ditulis untuk fenomena Gempa Donggala dan Palu 28 September 2018
bekerja menggalang awan menjelma mendung
berharap bala bantuan datang seperti hujan yang hadir
tak reda-reda hingga retak tanah tak lagi menyandung
guncangan hanyalah tanda bagi iman yang mudah goyah
guncangan hanyalah isyarat bagi dosa yang makin menguasa
guncangan hanyalah lambang bagi maksiat yang terus merajalela
guncangan hanyalah firasat bagi semesta yang lekas menemu ajalnya
meski ia hanya, tetapi ia teguran yang nyata
sejarah telah merekam banyak jejaknya
semesta tak mampu menyangkal tentang kedahsyatannya
bumi dan langit menjadi saksi atas segala luapan emosinya
kita adalah hutan-hutan yang hangus dibakar kedengkian
kita adalah rumah-rumah yang hilang ditelan kekikiran
kita adalah jalanan aspal yang retak diremas keangkuhan
kita adalah tanah-tanah yang remuk dilumat kebohongan
kita sejatinya adalah bencana itu sendiri
sungguh, kerusakan di darat maupun di lautan
kebanyakan adalah ulah manusia sendiri
luruhkan kemaksiatan, junjung kebaikan
*Ditulis untuk fenomena Gempa Donggala dan Palu 28 September 2018
27 Sep 2018
EMPAT PUISI JALAN MAUT
“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati
dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”
(QS. Ar-Rum: 19)
PERJALANAN PULANG
melanjutkan perjalanan pulang
setelah beku di kediaman yang fana
tak ada yang tinggal: sungguh
selain sisa abu waktu yang tanggal: luruh
melanjutkan perjalanan pulang
sehabis tubuh jatuh dan rebah
tak ada yang tanya: ke mana?
selain gundukan tanah yang mengubur: bagaimana?
Malang, 01 Juli 2018
ADA DAN TIADA
kita pernah tiada lalu ada
mengabisi waktu sisa-sisa
kita pernah ada lalu tiada
menangisi waktu sia-sia
Malang, 01 Juli 2018
DARI SELA JARI-JEMARI KITA
telapak tangan bergaris
arah takdir yang tertulis
menyeka gerimis di pipi
payung hati menutupi
dari sela jari-jemari kita
ada yang memancar dan begitu saja
dari sela jari-jemari kita
ada yang memancar dan menengadah
Malang, 01 Juli 2018
RAHASIA WAKTU
tak ada yang tahu rahasia waktu
maut mamanggil - kita menggigil
berlumur sakit di sekujur tubuh
ketika penggerak raga diambil
tak ada yang tahu hentian waktu
ajal memenggal - kita menanggal
tak ada daya apa pun tuk menghalau
selamat tinggal dunia yang tak kekal
Malang, 02 Juli 2018
*Empat Puisi “Jalan Maut” dimuat di Malang Post, edisi 23 September 2018
dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”
(QS. Ar-Rum: 19)
PERJALANAN PULANG
melanjutkan perjalanan pulang
setelah beku di kediaman yang fana
tak ada yang tinggal: sungguh
selain sisa abu waktu yang tanggal: luruh
melanjutkan perjalanan pulang
sehabis tubuh jatuh dan rebah
tak ada yang tanya: ke mana?
selain gundukan tanah yang mengubur: bagaimana?
Malang, 01 Juli 2018
ADA DAN TIADA
kita pernah tiada lalu ada
mengabisi waktu sisa-sisa
kita pernah ada lalu tiada
menangisi waktu sia-sia
Malang, 01 Juli 2018
DARI SELA JARI-JEMARI KITA
telapak tangan bergaris
arah takdir yang tertulis
menyeka gerimis di pipi
payung hati menutupi
dari sela jari-jemari kita
ada yang memancar dan begitu saja
dari sela jari-jemari kita
ada yang memancar dan menengadah
Malang, 01 Juli 2018
RAHASIA WAKTU
tak ada yang tahu rahasia waktu
maut mamanggil - kita menggigil
berlumur sakit di sekujur tubuh
ketika penggerak raga diambil
tak ada yang tahu hentian waktu
ajal memenggal - kita menanggal
tak ada daya apa pun tuk menghalau
selamat tinggal dunia yang tak kekal
Malang, 02 Juli 2018
*Empat Puisi “Jalan Maut” dimuat di Malang Post, edisi 23 September 2018
15 Agu 2018
DI BALIK TERJADINYA BENCANA ALAM SEMESTA


/1/
guncangan gempa semesta,
debar-debur ombak laut yang tumpah,
dan gejolak alam lainnya;
bukan semata-mata terjadi tanpa sebab dan hikmah.
sebagaimana amirul mukminin,
sayyidina ‘umar ibn al-khaththab, mengetukkan tongkatnya ke bumi—
kala guncangan gempa semesta itu terjadi di negerinya, madinah—
lantas berkata: “wahai bumi adakah aku berbuat tak adil?”
sejurus kemudian kembali berkata dengan lantangnya:
“wahai penduduk madinah, adakah kalian berbuat maksiat?
tinggalkan perbuatan itu, atau aku akan meninggalkan kalian!”
begitu, disampaikan ibnu hajar al-asqalani, dalam fathul baari’, ix/244.
tetapi, masih banyak yang keras hati dan keras kepala berkata:
“tak perlu kaitkan gempa dengan maksiat dan azab Allah!”
“ini murni fenomena alam yang sedang tak baik-baik saja!”
“barangsiapa yang kaitkan gempa dengan maksiat
sesungguhnya dialah orang yang paling bodoh!” dan seterusnya ...
seakan-akan pemikiran seperti itu memang benar adanya,
setiap bencana yang terjadi memanglah sebuah fenomena alam;
namun, apakah benar semua itu hanya sekadar fenomena alam biasa?
jika benar begitu, mengapa reaksi khalifah ‘umar ibn al-khaththab
sampai begitu gusar pada dirinya sendiri dan penduduk madinah?
bahkan ia akan meninggalkan semua penduduk madinah
bila mereka tak mau meninggalkan kemaksiatan mereka.
lantas, sebenarnya ada apa di balik terjadinya berbagai bencana alam
yang Allah timpakan kepada hamba-nya?
/2/
apa benar, kita sudah menjadi manusia yang benar-benar
sudah menggunakan pendengaran kita dengan benar?
apa sungguh, kita sudah menjadi manusia yang sungguh-sungguh
sudah menggunakan akal kita untuk memikirkan tentang segala sesuatu?
“sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu
terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.
al qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat,
akan tetapi membenarkan (kiab-kitab) yang sebelumnya
dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk
dan rahmat bagi kaum yang beriman.”
dalam quran surat yusuf 109-111.
lihatlah bagaimana ketika kaum nuh binasa diterjang banjir besar
akibat mendustakan nuh dan mengingkari seruannya
saksikanlah bagaimana ketika kaum luth hancur dihujani batu
akibat mendustakan luth dan mengingkari seruannya
renungkanlah bagaimana ketika kaum ‘ad musnah dihempas angin kencang yang dingin
akibat mendustakan hud dan mengingkari seruannya
lihatlah bagaimana ketika kaum tsamud mati bergelimpangan
ditimpa suara keras yang mengguntur
akibat mendustakan shaleh dan mengingkari seruannya
saksikanlah bagaimana ketika firaun dan pengikutnya binasa ditelan lautan
akibat mendustakan musa dan mengingkari seruannya
renungkanlah, saat ini, mengapa semua ini terjadi?
apakah kita telah mendustakan muhammad dan mengingkari seruannya?
Malang, 15/08/18
14 Agu 2018
KOPI TANPA GULA II
sudah biasa dengan yang pahit-pahit
kataku memang tak perlu lagi cari yang manis—
kau saja sudah lebih dari cukup
maksudku,
kau adalah gula bagi dirimu sendiri
bahkan boleh jadi,
kau adalah gula bagi orang lain
"gula, garam, atau apapun saja, yang penting
bisa bermanfaat bagi siapa saja," jelasmu.
"tetapi garam tak pernah berjodoh dengan kopi, bukan?" sergahku.
"sebab segala sesuatu punya khasiat dan tempat masing-masing..."
selain itu, label bahwa kau adalah gula atau kau adalah garam
juga tergantung dari sudut pandang mana dan sudut pandang siapa
kau dilihat dan diterjemahkannya:
barangkali kau adalah gula bagi kopi malam-malamku
boleh jadi kau adalah garam bagi masakan orang lain
Malang, 14/08/18
13 Agu 2018
KOPI TANPA GULA I

ketika kopiku tak lagi pahit di lidah
sebab kutambahkan beberapa sendok gula pasir ke dalamnya
kau bilang aku bukan penikmat kopi sejati—
kau kira apa aku juga seorang nokturnal yang semalaman suntuk
menulis puisi dan mencandu kopi?
ah, apapun itu!
lagi-lagi kau membuatku terpaksa melahirkan kata-kata
memilin tali-temati makna rasa yang sengaja kupendam
yang sempat terencana kelak pada suatu penggal cerita
pada akhirnya juga akan berdebam
akhirnya aku pilin juga kata-kata balasan dari kata-katamu
tentang aku yang bukan penikmat kopi sejati
kubilang, “sebab aku bukan penikmat kehidupan.
kecuali bila ada kamu, gula.” sebuah kiasan yang kemanisan
esok hari kau kirimkan pilinan kata-kata itu;
kata-kata yang mungkin kau kira dengan kata-kata itu
aku akan jatuh tersungkur tak punya muka lagi di hadapmu
dan aku malu untuk mengakui kekalahanku
ada yang harus kau tahu ternyata,
aku memang tak suka kopi tanpa gula
dan kau jungkalkan aku dengan kata-kata:
“kau tak mencerminkan seorang pemuda!”
deg! hati tersentak, jiwa menghentak
sempat kurajut beberapa kalimat pembungkam untuk kata-katamu itu:
“biar saja, karena aku bukan sebuah cermin yang selalu mampu dan mau
mengikuti apa kehendakmu dan segala tingkah laku kehidupanmu!”
tetapi setelah itu kuputuskan untuk mengurungkannya
barangkali, sebab aku tak suka kopi tanpa gula.
Malang, 13/08/18
12 Agu 2018
PULANG DAN KEMBALI
11 Agu 2018
HATIMU TEMPAT SAMPAH?
BIRU LANGIT DAN JALAN YANG SULIT
Langganan:
Postingan (Atom)


