Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

8 Des 2023

JURNAL PUITIK 1: KAWAN LAMA

Kau memulai ini semua dengan pertanyaan-pertanyaan perihal untuk apa catatan harian yang kausebut “jurnal” ditambah kata “puitik” setelahnya ini agar tampak sungguh puitis hidupmu, padahal nyatanya sungguh miris dan tragis di beberapa fragmen jalan takdirmu yang kauharap berakhir manis.

Kaubuat jurnal ini seolah-olah tokoh utamanya adalah pembaca dengan sudut pandang kedua agar terasa sungguh intim seperti suara batin yang menuntunmu ke sebuah angkringan demi menikmati secangkir sepi dan beberapa tusuk takdir dengan beberapa kawan lama dan pikiran yang baru ditiriskan dari panganggan kenangan.

Di sudut waktu, kau bersua dengan ayah-ibunya yang sebenarnya tak hendak kautemui malam itu, karena bagimu tubuhmu masih terlalu kaku untuk sebuah temu-sapa dan kata-kata yang sengaja kaurangkai demi hati mereka luluh dan hatimu tak jadi runtuh.

Di pertigaan rindu, kau sungguh mendamba temu dengannya bahkan jika waktu mengizinkanmu menyapanya beberapa detik saja dan itu demi hatimu sembuh dari rasa sakit yang lahir dari rindu menggebu tapi tak kunjung menuai temu.

Kaubiarkan saja malam itu larut dalam segelas teh yang kauseduh di dapur kantor dan kaunikmati di meja kerjamu, lalu kauaduk takdir di depanmu dengan pilihan-pilihan terbaik yang dapat kauupayakan dengan hati penuh dan pikiran utuh.

Sepulang kerja, lelah memelukmu erat, sekuat rindu malam itu menjerat, seketat lilitan persoalan hidup yang kian hari kian menyakiti layaknya pisau bermata dua punya dua potensi: punggungnya menahan ujian, sementara wajahnya melukai harapan.

Nyatanya, meski malam hampir larut dan esok mesti kerja lagi berharap rezeki dan dia lekas terjemput, desakan duniawi yang mendukung rumah surgawi tak pernah absen di catatan digital atau kalender yang wajahnya hitam dan hanya sedikit yang merah mengental.

Akhirnya, kata rehat terlalu pekat mendekat pagi yang lamat-lamat merupa lambai tangan seorang wanita mensyarat mata juga telinga yang tak boleh lelah meski dunia jungkir balik menghadapi lucunya manusia.

Tak sempat memasuki dunia mimpi, kau bahkan terlalu dini menjelma realita di depan mata yang menyaksikan jatuh-bangun, putus-nyambung, bahkan hilang-timbulnya rasa pada pertemuan pertama dan beberapa temu setelahnya.

Dan kau kembali ke jalan, berlari sebentar, olahraga sekadar, dan berjanji bangun lebih pagi dan berangkat kerja lebih awal—memulai semuanya kembali dengan kualitas lebih layak dan pantas.

Malang, 3—4 Desember 2023

31 Mei 2023

MENIKAH, AWALNYA ADALAH NIAT


Setelah berupaya beranjak dari beberapa tahun penuh kegamangan. Akhirnya, kau mulai membuka lagi buku-buku dan berbagai media yang membincang pernikahan.

Pernah sengaja melupakan semuanya agar tampak sungguh baik-baik saja. Padahal, sakit dan patah di mana-mana.

Sudah saatnya mengingat kembali agar diri siap menjalani prosesnya lagi. Dan, pada satu halaman buku kau menemukan hakikat pernikahan yang menguatkan diri.

“Menikah ... awalnya adalah niat. Kemudian kita melafalkan kalimat khitbah yang indah, bersediakah ukhti menjadi ustadzah rumah ini.

Mengapa kalimat ini? Karena rumah kita kelak adalah madrasah peradaban cahaya. Madrasah yang harus meluluskan Shalahudin dan khansa' kecil lalu melepasnya ke medan jihad.” —Salim A. Fillah, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan: 143

Semoga disegerakan di waktu yang tepat.

Tabik!

31-5-2023

10 Apr 2019

CAMBUK NASIHAT PADA BILANGAN 24


Dua puluh empat, bukan lagi angka yang sedikit. Harusnya ada kedewasaan yang tumbuh di dalamnya. Harusnya ada ilmu yang menjaganya. Dan mestinya sudah ada jejak panjang zikir di tiap tapak kakinya. Namun, saya yang hari ini berada di bilangan itu, merasa belum memiliki nilai-nilai itu. Maka, barangkali saya perlu mengirimkan surat teguran atau semacam cambuk nasihat untuk diri sendiri.

Dear, Agoy Tama.
Di sana, semoga baik-baik saja.

Apa kabar hatimu yang selalu berdebar berupaya untuk tetap tegar? Semoga ada saja yang selalu mampu membuatmu kuat. Dan bila tidak ada, ingat bahwa selalu ada Allah yang tidak pernah tidak memberikan nikmat. Kau tahu, hari ini adalah bagian dari nikmat Allah yang kau dapat. Bersyukurlah, kau masih sempat merasakan genap di usiamu yang ke-24.

Setiap tahun, kau selalu merasa bahwa 10 April adalah hari yang biasa-biasa saja. Tidak perlu ada yang dirayakan. Tidak perlu ada acara tiup lilin. Tidak perlu ada kado dan ucapan “selamat” dari orang-orang. Kau selalu begitu. Hanya saja, yang tidak pernah terlewatkan, kau selalu berdoa untuk menjadi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Itu saja, sudah lebih dari cukup, katamu.

“Hidup senantiasa berulang,” itu yang kau yakini selama ini, bukan?
Sebuah keyakinan yang tidak semua orang mau untuk menerimanya begitu saja. Tetapi, kau selalu percaya bahwa hidup memang berulang. Itu yang kau tuangkan dalam dirimu untuk memaknai arti kata “waktu” yang sesungguhnya.

Bagimu, waktu yang ada di dalam hidupmu itu senantiasa berulang. Akan ada saatnya seseorang berada pada satu titik mula, kemudian menuju titik yang lain, dan pada akhirnya kembali lagi. Mungkin hari ini mereka bahagia, namun waktu berputar, mereka menderita, dan waktu tetap berputar; dan kelak, pada akhirnya mereka akan kembali pada titik bahagianya lagi. Sebab, waktu senantiasa berputar dan kembali kepada titik semula dan seterusnya. Begitu arti kata “waktu” yang selalu kau genggam erat di tangan kirimu.

Banyak hal yang harus kau ingat-ingat kembali di ruang kepalamu itu. Seperti patah hatimu pada bilangan 22 menuju 23 waktu itu. Patah hati yang meremukkan segala mimpi-mimpi yang sedang kau upayakan untuk mewujud nyata. Patah hati yang menjadikanmu lemah dan berjalan seolah tidak lagi bernyawa. Patah hati itu yang membuatmu hilang arah dan tersungkur dalam kubang kepayahan. Ah, memang tidak ada habisnya membahas keterpurukkan lama yang sejatinya tidak begitu berguna—justru kadang menambah berat langkah saja. Sepertinya tidak perlu lama-lama kau ingat peristiwa itu. Ambil hikmahnya saja. Sekarang, coba ingat ingat hal lain yang barangkali mampu menjadi cambuk nasihat yang mengantarkanmu pada diri yang lebih baik dari sebelumnya.

Pada bilangan 21 waktu itu, kau pernah mengirimkan pesan singkat kepada orang tuamu. Kau menyesali semuanya. Kau meminta maaf atas segala khilaf dan salah yang kau perbuat di dalam keluarga. Kau menyampaikan apa yang tidak pernah sampai sebelumnya di telinga orang tua yang membesarkanmu. “Maaf, usia sudah segini tapi belum bisa ngasih apa-apa,” pesanmu di perantauan waktu itu.

Lagi, pada bilangan 22 kau menggelarkan 5 mimpi yang akan kau kejar di tahun itu. Namun, tidak semuanya mampu terkejar. Entah, karena kau malas berdiri atau lelah berlari. Namun, pada bilangan 23 tahun lalu, kau mengaca dalam-dalam. Melihat diri, mengoreksi, dan merenungi seluruh apa yang sudah kau ikhtiarkan. Rupa-rupanya, kau harus menyadari bahwa mimpi itu bukan untuk dikejar sampai dapat, tetapi mimpi adalah “daya” untuk terus berlari sampai tiba di liang lahat. Maka, teruslah bermimpi. Meski berat, itu cukup untuk membuatmu terus berlari.

Terakhir sebelum menutup surat ini, kau harus menyampaikan banyak terima kasih kepada siapa saja yang telah mengantarkanmu pada titik ini. Jika belum bisa menjadi yang terbaik, setidaknya bisa memberikan sesuatu yang lebih baik untuk mereka. Silakan, ada ruang untukmu mengalirkan perasaan-perasaan yang boleh jadi telah lama kau simpan!

***

Terima kasih telah memberi saya ruang. Saya akan memenuhinya dengan rasa terima kasih kepada banyak orang. Tentu setelah rasa syukur saya kepada Maha Cinta yang memberi saya banyak cinta di hari-hari sebelumnya sampai hari ini. Kepada Maulana Muhammad Rasulullah yang memberikan dekap hangat di seluruh semesta ini. Kelak, semoga ada ruang temu yang menyatukan saya dan engkau, ya, Rasul! Saya rindu.

Saya tidak akan pernah ada jika tidak ada dua manusia yang saling mencinta dan berjuang bersama. Kepada orang tua saya, terima kasih; sejak lahir hingga sebesar ini, saya masih sering “digendong” mereka (untuk) ke mana-mana. Lagi-lagi saya harus meminta maaf karena belum mampu membahagiakan mereka seutuhnya. Atas khilaf dan salah, biarkan pudar dihantam terik upaya saya untuk mengangkat bahagia terbit di mata mereka. Sejatinya kata-kata tidak pernah cukup. Kelak, saya akan pulang membawa bukti dan menunjukkan bakti. Doakan saya jadi lebih baik di tanah rantau. Kini jarak memang lebih jauh, tetapi semoga rasa kasih sayang tetap utuh.

Kepada guru-guru saya. Terima kasih telah mengajarkan saya tentang hidup. Perihal hakikat manusia ada, tentang tujuan di dunia, dan akan ke mana manusia setelah mati. Semua itu yang sejatinya mengubah sudut pandang saya memaknai hidup.

Kepada teman-teman saya, semuanya. Terima kasih telah menjadi teman tumbuh dalam segala hal. Benar kata kalian: sendiri itu nggak asyik, susah jadi baik!

Kepada orang-orang yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Terima kasih sudah ada dan menjadi “monumen” terbaik dalam perjalanan hidup saya. Kelak, jika saya tidak melihat kalian surga, saya orang pertama yang akan mencari kalian dan menjadi saksi bahwa kalian adalah orang baik. Namun, jika saya yang tidak bersama kalian di surga, saya mohon untuk mencari dan memohonkan ampun untuk saya agar saya bisa merasakan nikmatnya surga bersama kalian. Yang baik, memang akan selalu bertemu dengan yang baik. Semoga ada jumpa-jumpa istimewa di teduhnya naungan surga!

***

Begitulah perasaan dan doa-doamu mengudara ke langit. Semoga kelak menjadi butir-butir hujan yang mengapus rasa sakit. Ingatlah selalu kata-katamu sendiri, bahwa doa adalah kata-kata yang berdaya.

Depok - Jakarta Selatan, 10 April 2019
Dua tahun terakhir yang berharga:
Pada Bilangan 22
Pada Bilangan 23

26 Agu 2018

BAGAIMANA GAMBARAN JELASNYA TENTANG AKIDAH DAN IDEOLOGI?



Aku tak pandai menggambar. Aku hanya bisa merangkai kata-kata. Maka, aku akan menggambar dengan kata-kata. Perhatikan!

Setiap bangunan tentu memiliki pondasi sebagai awalan. Pondasi berfungi sebagai penopang bangunan agar tak mudah rubuh. Pondasi harus sangat diperhatikan. Sebab, jika ada kesalahan sedikit saja dengan pondasinya, maka bangunan akan terancam bermasalah. Dari sini kita mendapatkan sebuah konsep, yaitu: jika pondasinya kuat, maka bangunannya pun kuat—berbanding lurus.

Sementara akidah itu adalah pondasi awal bagi manusia untuk hidup dengan benar. Fungsinya adalah menopang bangunan iman kita agar tak mudah goyah. Akidah tak boleh lemah dan rapuh. Akidah harus kuat dan mampu diuji kesahihannya. Sebab, jika ada kesalahan dengan akidahnya, maka seluruh aktifitasnya akan ikut bermasalah.

Sejatinya, akidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan (An-Nabhani, 2006: 43). Sementara mabda atau ideologi dijelaskan oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani sebagai aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Dan peraturan inilah yang berfungsi sebagai solusi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara akidah serta untuk mengemban mabda atau ideologi.

Lebih jauh lagi kita akan menemu istilah thariqah dan fikrah. Keduanya adalah cakupan dari mabda atau ideologi. Thariqah adalah tentang cara pelaksanaan pemecahan berbagai problematika hidup manusia, pemeliharaan akidah, dan penyebaran risalah dakwah.

Sedangkan fikrah mencakup akidah dan berbagai pemecahan masalah hidup.

Mabda atau ideologi dapat muncul dalam pikiran seseorang, baik melalui wahyu Allah yang diperintahkan untuk mendakwahkannya atau dari kejeniusan yang nampak ada pada diri seseorang tersebut.

Mabda atau ideologi yang muncul dalam pikiran seseorang melalui wahyu Allah adalah proses yang benar dan mabda atau ideologi yang pasti kebenarannya (qath’i). Karena bersumber dari Al-Khaliq, yaitu Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan mabda atau ideologi yang muncul dalam pikiran seseorang karena kejeniusan yang nampak dalam dirinya adalah mabda atau ideologi yang salah (bathil). Karena berasal dari akal manusia yang terbatas, yang tidak dapat menjangkau segala sesuatu yang nyata.

Selain itu pemahaman manusia tentang proses lahirnya sebuah peraturan selalu saja menimbulkan banyak perbedaan, perselisihan, dan pertentangan, serta selalu terpengaruh lingkungan tempat ia hidup. Sehingga membuahkan sebuah peraturan yang saling bertentangan; yang mendatangkan kesengsaraan bagi manusia. Sebab itu, mabda atau ideologi yang muncul dalam pikiran seseorang dari kejeniusan yang nampak dalam dirinya adalah mabda atau ideologi yang salah, baik dilihat dari segi akidahnya maupun peraturan yang lahir dari akidah tersebut.

Maka, atas dasar inilah azas suatu mabda atau ideologi adalah ide dasar yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan.

Ah, ceritaku kali ini terasa agak berat, ya. Tetapi, aku harap kau bisa mengikuti semua cerita-ceitaku hingga selesai. Mungkin tidak benar-benar selesai. Kelak ada saatnya aku akan benar-benar menyelesaikan semuanya bersamamu, di sisa-sisa hidupku, sampai ajal menjemput kita masing-masing.

Malang, 26/08/18

25 Agu 2018

APA LANDASAN TERKUAT KITA MEMILIH SEPAKAT UNTUK BERSATU?



Jika ada seseorang bertanya kepadamu tentang landasan kita memilih sepakat untuk bersatu, kira-kira apa jawabanmu?

Ohya, sebelum aku mendengarkan seluruh jawabanmu, aku ingin pertanyaan itu dihadapkan kepadaku terlebih dahulu; dan aku akan menjawab dengan seterang-terangnya, semampuku.

Kau tahu, bagaimana konsep landasan agar kuat dan tak mudah runtuh? Bagiku, sesuatu apapun akan kuat dan tak mudah runtuh jika landasannya pun kuat dan kokoh. Suatu kasus, misalnya. Mengapa banyak terjadi tawuran antarsupporter sepak bola, padahal mereka satu negara dan bahkan seagama? Ada lagi: mengapa banyak perang antarsuku, permusuhan antargeng atau komunitas, dan perseteruan lainnya; kira-kira mengapa semua itu terjadi?

Sebelum kelak aku memintamu untuk berpendapat tentang hal ini, aku benar-benar ingin semuanya dihadapkan kepadaku terlebih dahulu. Aku akan mencoba menjawab semua pertanyaan itu dengan pemahamanku sebagai seorang pembelajar tentang segala sesuatu. Kelak, kau akan tahu salah satu karakterku dalam memperoleh sesuatu.

Bagiku, landasan itu ada hubungannya dengan ikatan. Sementara jenis-jenis ikatan itu ada beberapa macam menurut Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, seorang Ulama, Politikus Muslim rujukanku dalam ilmu dan gerakan politik.

Disebutkan oleh beliau, jenis ikatan pertama adalah nasionalisme. Ikatan nasionalisme terjadi tatkala manusia hidup berdampingan dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari situ. Di dalam ikatan ini, naluri mempertahankan diri berperan dan mendorong manusia untuk membela negaranya, tempat mereka lahir dan tempat mereka melanjutkan kehidupan setiap harinya. Dari sinilah ikatan nasionalisme itu bermula. Semisal ketika ada manusia dari negara lain mencoba mengancam untuk menyerang dan menaklukkan negara tertentu, maka ikatan ini menguat. Tetapi, jika tak ada ancaman apa-apa, maka ikatan ini melemah, bahkan sirna. Demikian lemahnya nilai dari ikatan ini.

Kedua, adalah ikatan kesukuan (sukuisme). Ikatan kesukuan ini hampir mirip dengan ikatan kekeluargaan; hanya saja sedikit lebih luas. Di dalam ikatan ini, naluri mempertahankan diri berperan dan mendorong manusia untuk berkuasa atau berebut kekuasaan, sehingga besar kemungkinan muncul sifat fanatisme golongan. Lebih lanjut, kata Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani (2006: 40), mereka dikuasai oleh hawa nafsu dalam usahanya membela anggotanya terhadap anggota suku yang lain. Dengan demikian, ikatan semacam ini tidak sesuai dengan martabat manusia. Ikatan ini senantiasa menimbulkan berbagai pertentangan intern, kalau tidak disibukkan dengan berbagai perselisihan dengan pihak luar (keluarga, suku, bangsa, dan lain-lain). Maka, tidak jarang kita temukan berbagai permusuhan, peperangan, dan perseteruan antarsuku.

Ketiga, adalah ikatan kemaslahatan. Ikatan kemaslahatan ini sifatnya hanya sementara. Dan berbahaya jika digunakan untuk mengikat antara manusia satu dengan manusia lain; padahal tujuannya adalah kebaikan dan berharap langgeng kebaikan itu diperjuangkannya. Sebab, ikatan ini landasannya adalah kepentingan. Sementara kepentingan itu bisa selesai dan pada akhirnya—boleh jadi—akan tercapai. Jika kepentingan itu tak ada lagi, maka berakhirlah ikatan antara anggotanya. Tak ada lagi yang peduli antara satu dengan yang lain. Selesai.

Keempat, adalah ikatan kerohanian yang tidak memiliki peraturan; dan aktifitasnya hanya terbatas pada kegiatan spiritual saja. Ikatan ini abai dengan aktifitas lainnya, seperti kehidupan sehari-hari. Sebab, di dalam ikatan ini tidak mempunyai aturan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang ada. Maka, ikatan ini tidak layak dijadikan pengikat yang kuat untuk mencapai sebuah kebangkitan atau kemajuan. Karena sudah jelas bahwa landasan ikatan ini terbatas dan hanya menyentuh wilayah-wilayah tertentu saja. Jadi, tak bisa digunakan sebagai landasan untuk mencapai cita-cita dalam sebuah kesepakatan persatuan.

Terakhir, dijelaskan oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani (2006: 42) bahwa ikatan yang benar untuk mengikat manusia dalam kehidupannya adalah aqidah aqliyah (akidah yang sampai proses berpikir) yang melahirkan peraturan hidup menyeluruh. Inilah yang disebut sebagai ikatan ideologis (berdasarkan pada suatu mabda/ideologi). Mudahnya, ikatan ideologis ini berhubungan dengan mabda/ideologi. Sementara landasannya adalah akidah yang dihasilkan dari proses berpikir sebelumnya; dan yang melahirkan peraturan hidup menyeluruh. Tentang akidah dan ideologi, barangkali esok akan aku ceritakan kepadamu.

Lantas, mengapa banyak terjadi tawuran antarsupporter sepak bola, padahal mereka satu negara dan bahkan seagama? Mengapa banyak perang antarsuku, permusuhan antargeng atau komunitas, dan perseteruan lainnya; kira-kira mengapa semua itu terjadi?

Sampai di sini, aku harap kau tahu dan paham tentang bagaimana aku akan menjawab semua pertanyaan itu.

Satu pertanyaan besar yang belum sepenuhnya kujawab: apa landasan terkuat kita memilih sepakat untuk bersatu?

Tentu sejak awal kau tahu, aku memilihmu bukan karena kita satu negara, bukan karena kita satu suku, bukan karena bisnis tawar-menawar kemaslahatan dan kepentingan lain, juga bukan karena aktifitas spiritual semata. Akan tetapi, karena kita meyakini bahwa manusia, alam semesta, dan kehidupan tak diciptakan tanpa karena. Kita percaya bahwa dengan bersatu, manusia saling bertemu; berbagi kasih sayang; mengumpul pahala menjulang. Alam semesta pun menjadi rumah dan tempat bertumbuhnya kebaikan-kebaikan amal ibadah. Serta kehidupan berjalan dengan kaki-kaki yang kuat; kaki-kaki yang menopang tubuh kehidupan dengan amanah Tuhan di pundaknya, dengan visi terbaik dan misi paling mulia: mengajak dan menyeru! Barangkali lusa akan kusampaikan ulang atau kita baca berdua perihal visi dan misi yang telah kita tuliskan dalam selembar kertas—yang kita simpan—tatkala awal memutuskan untuk berkenalan satu sama lain.

Lantas, apa landasan terkuat kita memilih sepakat untuk bersatu?

Sebagaimana nasihat Ibnu Qayyim Al-Jauzy tentang konsep kekutan sesuatu itu tergantung bagaimana kuatnya landasannya. Barangkali aku akan kan menyederhanakannya dengan kata-kata dan bahasaku sendiri; agar kau tahu bagaimana caraku menjelaskan tentang segala sesuatu kepada seseorang yang kupilih sebagai pendamping hidupku sendiri.

Kurang lebih seperti ini konsepnya: jika ingin cinta itu bertahan dan kuat sampai kapan pun jua, maka carilah landasan yang juga kuat sampai kapan pun jua. Jika mau cinta itu terus ada dan hidup kekal selamanya, maka carilah landasan yang juga terus ada dan hidup kekal selamanya. Jika berharap cinta itu tak terbatas oleh sekat apapun saja, maka carilah landasan yang tak terbatas oleh apapun saja. Dan sungguh, tak ada mampu bertahan dan kuat sampai kapan pun saja, tak ada yang akan terus ada dan hidup kelal selamanya, dan tak ada yang tak terbatas oleh apapun saja, kecuali hanya satu: Allah Yang Mahaperkasa, Allah Yang Maha Kekal, dan Allah yang mempunyai sifat azali; tak berawalan dan tak berakhiran. Dan Dialah Allah, sebagai landasan terkuatku memilih sepakat untuk bersatu, hidup bersamamu. Kau tahu itu. Aku mencintaimu karena Allah.

*

Mencintai karena fisik, barangkali hanya akan bertahan beberapa puluh tahun saja. Boleh jadi, sepuluh tahun pertama bersama, cinta itu akan surut seiring kulit yang berkerut. Cinta itu akan lambat laun akan berkurang seiring gigi tua yang mulai jarang. Cinta itu akan meniada seiring rambut putih yang renta. Cinta itu tak akan lama jika fisik sebagai landasan cintanya.

Mencintai karena harta, barangkali hanya akan bertahan sementara; dan hal ini sungguh sangat membahayakan. Sebab, jika landasan cintanya adalah karena ada harta, kelak jika harta itu lenyap maka akan lenyap pula cinta itu.

Mencintai karena apapun saja selain Allah, maka cinta itu pada akhirnya akan lekas binasa—semua hanya soal waktu. Sebab, pada akhirnya, dunia dan segala isinya akan menemu ajalnya masing-masing.

Malang, 25/08/18

22 Agu 2018

CUKUPKAH PERBEDAAN ITU DIJADIKAN ALASAN UNTUK BERPISAH DAN TAK MAU LAGI BERSAMA?



Dunia ini dan seluruh yang ada di dalamnya, sejatinya disusun dari perbedaan-perbedaan. Kau bisa mengamatinya mulai dari apa-apa yang ada di sekitarmu. Atau barangkali kau bisa mengamatinya mulai dari dirimu sendiri. Tanganmu, misalnya. Jika benar-benar kau amati, maka akan kaudapati bahwa sejatinya tangan kiri dan tangan kananmu benar-benar berbeda. Kebayang atau tidak, jika semisalnya kedua tanganmu bukanlah sepasang? Maksudnya, jika misalnya kedua tanganmu adalah tangan kanan semua, akan seperti apa jadinya? Begitu pun dengan kedua telinga dan kedua kakimu. Tak akan sempurna fungsinya jika keduanya bukanlah sepasang. Dan akan sulit untuk menjadikan keduanya saling bekerja sama dalam segala hal. Sebab, keduanya bukanlah sepasang yang serasi.

Tidak berhenti di situ, kau bisa pikirkan tentang langit dan bumi yang menjadi tempat tinggal kita saat ini. Apakah keduanya sama? Tidak, keduanya adalah sesuatu yang berbeda. Tak perlu aku jelaskan apa-apa yang menyusun keduanya, ya. Aku rasa, kau bisa menalar semuanya.

Bagiku, perbedaan adalah persamaan untuk sepakat memilih berbeda. Hanya saja terkadang barangkali kita memandang dari sudut yang salah. Sehingga banyak yang menyalahkan perbedaan. Banyak yang menjadikannya bahan permusuhan. Dan tak sedikit yang menjadikannya sebab perpecahan. Padahal, jika kita bisa menyikapinya dengan baik, boleh jadi justru akan tercipta sebuah kekuatan yang tak mampu dihancurkan. Sebab, kebersamaan itu adalah segala yang utama daripada perpecahan.

Perbedaan hanya perlu disyukuri, bukan dijadikan alasan untuk saling menyalahkan. Perbedaan hanya perlu diterima, lalu dipasang-serasikan; bukan ditolak dengan jalan permusuhan. Perbedaaan hanya butuh perbedaan yang lain untuk menjadi pasangan. Sebab, terkadang yang bersatu tak harus sama. Ada bagian-bagian yang tak dimungkinkan dikuasai sendiri. Ada celah-celah yang barangkali hanya orang lain yang mampu menempati dan menjadi bagiannya untuk difungsikan. Karena kita tahu, bahwa diri kita ini adalah makhluk yang saling membutuhkan satu sama lain. Kita berbatas. Kita saling butuh untuk terjadinya interaksi dan komunikasi. Kita saling butuh untuk menghadirkan suasana hidup yang benar-benar hidup. Kita saling butuh untuk melanjutkan hidup. Dan kita butuh untuk saling melengkapi.

Barangkali, kelak kita akan mengalami dan merasakan sebuah momen ketika kita berbeda pendapat. Kita akan mendapati ego masing-masing yang boleh jadi akan meninggi dan tak mau dikalahkan. Kita berada pada keadaan yang sama-sama keras kepala. Tak ada yang mau mengalah. Dan tak ada yang mau merasa dikalahkan. Masing-masing dikuasai kediriannya yang sama sekali tak bisa dikatakan sudah dewasa dan mengerti. Padahal beda pendapat itu biasa; yang luarbiasa itu ketika berbeda, tetapi tetap satu dan saling menghargai.

Maka, mari saling mendewasakan diri. Belajar menghargai perbedaan. Belajar mendengar pendapat orang lain dan menahan diri untuk menjatuhkan harga diri orang lain. Buka jendela pikiran kita seluas-luasnya, agar tak pengap dengan pemikiran sendiri; supaya tak mudah menyesatkan buah dari pemikiran orang lain selain buah dari pemikiran kita sendiri.

*

Berbeda itu bukan soal. Yang jadi soal itu ketika berbeda, lalu mempersoalkannya. Berbeda itu bukan masalah. Yang jadi masalah itu ketika berbeda, lalu mempermasalahkannya. Berbeda itu wajar. Sewajarnya kita untuk memilih sepakat dalam perbedaan dan sepakat untuk hidup bersama dalam kebersamaan yang membahagia—sebab gejolak cinta yang memukul-mukul mesra di dalam hati kita.

Dan berjanjilah, kelak ketika detik jam mendetakkan waktu. Angka-angka ditunjuk bergantian tak merasa tertuduh—sebab, tak ada yang tahu di angka keberapa jarum jam itu berhenti menunjuk, sewaktu-sewaktu. Maka, berjanjilah untuk tetap setia bersama dalam barisan meski perbedaan seringkali muncul kepermukaan.

Dan percayalah, perbedaan tak akan melunturkan rasa yang telah lekat dalam hati. Perbedaan tak akan mampu menghapus rangkaian aksara yang sakral kulafazkan dalam degup yang hebat; di tengah kuyup tanganku menjabat tangan walimu dengan erat.

Mungkin satu-dua kita berbeda. Tetapi, semua itu tak cukup menjadi alasan untuk kita berpisah. Banyak hal yang menjadi alasan kita bertahan dan memilih untuk tetap setia bersama.

Malang, 22/08/18

20 Agu 2018

APAKAH KITA HARUS MELUPAKAN MASA LALU?



Aku ingin sejenak mengajakmu menengok perihal masa lalu. Banyak yang bertanya soal: apakah kita harus melupakan masa lalu?

Bagiku, masa lalu adalah salah satu ruang terbaik untuk belajar menjadi lebih baik. Sebab, ada kisah di dalamnya. Ada pengalaman, pengamalan, kegagalan, keberhasilan, dan semua yang kita butuhkan untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Kau bisa tahu jalan mana yang akan membawamu pulang, jalan mana yang akan menyesatkanmu hilang, jalan mana yang berlubang, jalan mana yang aman, sampai jalan mana yang buntu; semua kau tahu dari kisah dan pengalamanmu di masa lalu.

Sebenarnya, tak hanya dari masa lalumu saja kau bisa belajar. Tetapi, kau juga bisa belajar dari masa lalu orang lain. Maka, penting kiranya kau juga memperhatikan masa lalu orang lain: perhatikan dan pelajari, tentang bagaimana dia bisa menjadi sosok yang luarbiasa seperti hari ini; tentang bagaimana dia mengawali langkah perubahannya; tentang apa saja yang dia lakukan semasa berjuang menuju posisinya sekarang; tentang apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi lebih baik, seperti apa yang dia capai hari ini.

Masa lalumu adalah hari-harimu yang kau lewati sampai hari ini. Jadi, hari ini, di mata esok adalah masa lalu yang akan menjadi pelajaran bagi esok dan lusa. Dengan harapan, esok tak lagi jatuh sebagaimana hari ini, dan lusa berhasil bangkit juga mampu mencapai apa-apa yang dicita-citakan sejak kemarin, di masa-masa yang lalu.

Masa lalu, bagiku, adalah satu hal yang sangat berharga dalam langkah-langkah dan jalan yang akan kita tempuh berikutnya. Seperti guru, ia mengajarkan apa yang harusnya dihindari dan apa yang harusnya diambil. Mulai hari ini, kau harus benar-benar belajar lebih menghargai masa lalu. Sebab, barangkali kelak aku akan menjadi masa lalumu. Esok atau lusa, boleh jadi apa saja yang telah kita lakukan bersama akan menjadi masa lalu yang jauh. Masa lalu yang tak mampu kita ulang kembali. Tetapi, kita bisa menghargainya dengan cara mempelajarinya, mengambil apa-apa yang baik di dalamnya, dan membuang jauh yang tak baik di dalamnya.

Lantas, apakah kita harus melupakan masa lalu?

Malang, 20/08/18

BERBINCANG DENGANMU



Aku ingin berbincang banyak denganmu. Tentang segala sesuatu yang ada dalam diriku. Perihal ide atau gagasan, pemikiran, dan perasaan-perasaan.

Maka, aku ingin menempatkanmu duduk di sampingku, tenang, dan mendengarkan. Kau hanya perlu mendengarkan. Kelak, ada gilirannya ketika aku akan tenang dan menjadi pendengar terbaikmu.

Malang, 20/08/18