Berkarya butuh “asupan”, sementara membaca adalah cara terbaik penuhi kebutuhan itu.
Bergabunglah dengan kelompok belajar: s.id/mulaiberkarya untuk menambah maklumat. Saya berbagi “arsip temuan” atau jurnal kutipan setiap hari sejak awal 2020 sampai sekarang. Topiknya ada tiga: proses kreatif (pengembangan diri), pemikiran (spiritual), dan puisi (sastra).
Silakan bergabung di kelompok belajar: s.id/mulaiberkarya. Siapa tahu kamu berniat untuk memulai jurnal kutipan dan mulai berkarya.
***
saya ingin jadi lebah
kerja baca-kutip-tulis
adalah upaya
—Agoy Tama
“Sungguh Allah suka jika diambil rukhshahNya.” —Salim A. Fillah
“Jangan pernah berpikir seandainya saya begini atau begitu, saya pasti akan mengerjakan semua ini lebih baik. Kerjakan dulu yang terbaik, kamu akan jadi seperti yang kamu kerjakan itu.” —Fahd Pahdepie
“Ya Allah, tambahkan kepada kami ilmu, anugerahkan pada kami pemahaman, dan tuntunlah kami untuk menjaga adab karenaMu di segala keadaan.” —Salim A. Fillah
“Karena kita semua adalah Duta Besar Islam untuk semesta. Akhlaq kitalah yang pertama kali dilihat sebagai perwakilan kebenaran yang kita imani, jalan hidup yang kita bela, dan ibadah yang kita baktikan.” —Salim A. Fillah
“Iman itu ada akarnya, namanya keyakinan. Keyakinan itu dihidupkan dg ilmu lalu menjadi amal shalih; amal shalih untuk menggapai langit, memperkenalkan diri kita kepada Allah dan makhluk-makhluk mulia di sekitarnya sampai kita terkenal di langit daripada di bumi.” —Salim A. Fillah
“Segala amal yang bermanfaat bagi sesama manusia, maka kita mendapatkan pahalanya.” —Salim A. Fillah
“... Setiap orang adalah guru bagi kita. Ya, setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat.” —Salim A. Fillah
“Sebab amat indah hati seorang hamba, yang takut tapi rindu, yang harap tapi malu, dan yang mencinta tapi merasa hina di hadapanNya.” —Salim A. Fillah
“Khawatir tentang dunia adalah kegelapan di dalam dada. Tetapi gelisah soal akhirat adalah cahaya yang menerangi jiwa.” —Sayyidina ‘Utsman ibn ‘Affan, Radhiyallaahu ‘Anhu
“Menang kalahnya seseorang, atau sukses gagalnya seseorang, tidak ditentukan oleh apakah ia kaya atau ia miskin, melainkan oleh kekalahan atau kemenangan mental orang itu terhadap kekayaan atau kemiskinan.” —Emha Ainun Najib
“Seringkali sajak yang ditulis dengan membawa pertanyaan-pertanyaan kritis akan membuka banyak ruang pemaknaan baru yang segar dan kadang juga mengejutkan.” —Hasan Aspahani
“MISALNYA, pada zaman yang sama dengan Chairil Anwar, hidup seseorang yang menulis puisi yang sangat bagus tapi dia tak pernah menyiarkan karya-karyanya hingga ia meninggal. Karyanya pun hilang tak pernah dibaca oleh siapapun. Sehebat apapun karyanya, penulis puisi itu tidak menyumbangkan apa-apa bagi perkembangan sastra Indonesia.” —Hasan Aspahani
“Puisi esai adalah batu gamping yang terus digosok-gosok agar tampak berkilau dan kemudian disebut-sebut sebagai sejenis intan yang baru.” —Hasan Aspahani
“Puisi esai adalah penyakit.” —Hasan Aspahani
“Dengan amsal itu, pada kekuatan konsep itulah sesungguhnya kualitas seni puisi dipertaruhkan, dan reputasi kepenyairan ditunjukkan.” —Hasan Aspahani
Karena ada yang mesti diucapkan demi kecintaan“Puisi adalah bahasa percakapan yang memeluk pesan dengan erat, lalu melepasnya di dalam hati tanpa jerat.” —Agoy Tama
Karena ada yang mesti dikidungkan demi keyakinan
Istirah usai kerja ialah upah ketekunan
Suara tulus menghibur di gelisah kehidupan
— Soeparwata Wiraatmadja (l. 1938)
“Tulisan yang baik menurut saya yang membantu kita memahami kedalaman batin.” — Ayu Utami
“... buat saya, kita sebagai manusia, bukan hanya sebagai penulis, memang harus memiliki nilai yang kita asah dan kita jaga. Kalau itu yang dianggap idealisme, maka idealisme itu bukan untuk sebagai penulis tetapi sebagai manusia.” —Ayu Utami
“Bahasa itu adalah pikiran itu sendiri. Tanpa bahasa kita tidak bisa mikir.” —Ayu Utami
“Pikiran itu juga adalah alat kekuasaan, sehingga, siapa yang berkuasa, akan menggunakannya. Karena itu, kita juga harus menguasai bahasa supaya kita tidak ditipu oleh orang-orang luar, pihak lain yang memanipulasi, jadi kita sendiri harus tahu bagaimana pikiran dan bahasa itu bekerja agar kita tidak gampang dimanipulasi oleh yang lebih mampu atau berkuasa.” —Ayu Utami
“... tantangan terdalam seorang penulis menurut saya adalah tidak berani untuk melihat lebih dalam pada dirinya sendiri.” —Ayu Utami
“... menulis itu adalah proses berpikir dan kesadaran itu sendiri.” —Ayu Utami
“Jadi memang kalau mau melihat tulisan sastra itu, ya tulisan yang mampu melihat kedalaman dan kompleksitas manusia dan ditulis dengan keterampilan yang tinggi.” —Ayu Utami
“Hal yang paling menyenangkan dalam menulis itu, kamu akan bisa mengubah segala macam untuk keuntunganmu sendiri karena menjadi tulisan.” —Ayu Utami
“Saya menulis puisi seperti puisi-puisi yang saya senang membacanya dan menulis prosa seperti prosa-prosa yang saya senang membacanya.” —Dea Anugrah
“Yang terpenting dalam alih wahana itu kan tafsir.” —Dea Anugrah
“Sekarang agaknya yang melingkupi kita terutama bukan lagi rasa takut kepada bayang-bayang negara, melainkan kebingungan memisahkan “yang benar” dari “yang palsu”, “yang penting” dari “yang cuma kelihatan penting”, dan sebagainya—seperti mencari buku yang dapat dibaca di Perpustakaan Babel.” —Dea Anugrah
“Penerjemah semestinya tak hanya memahami bahasa asal karya, tetapi juga konteks waktu ketika karya itu diciptakan (kata virtual dalam puisi “The Prelude” karya William Wordsworth, misalnya, berarti kuat, bukan maya), visi sang penulis, dan lain-lain.” —Dea Anugrah
“Writer’s block itu seperti dosa. Kalau kita tidak memikirkannya, ia tidak ada. Seperti kata Szymborska: dua puluh tujuh tulang, tiga puluh lima otot, dan dua ribu saraf pada tiap ujung jari-jari kita sudah lebih dari cukup untuk menulis apa saja.” —Dea Anugrah
“Perkara media sosial agak ruwet. Pada satu sisi ia memudahkan kita bergaul dan berjualan, tapi di sisi lain ia menimpuk kita dengan banyak sekali urusan yang kita tidak perlukan. Media sosial bisa menggiring seorang penulis untuk menulis seperti keinginan khalayak alias menjadi penyambung lidah netizen. Apakah perbedaan netizen dan gerombolan biri-biri? Kadang, suara biri-biri enak didengar dan perlu.” —Dea Anugrah
“Sapardi menyampaikan bahwa pengalaman puitik adalah sesuatu yang unik, dan keotentikannya hanya akan terjamin apabila penyair berhasil melahirkan bahasa yang unik. Ini bisa tercapai lewat eksperimen-eksperimen yang tekun.” —Hasan Aspahani
“Menerjemahkan itu latihan menulis.” —Sapardi Djoko Damono
“Chairil cari puisi dunia dan menerjemahkannya untuk bikin bahasa sendiri.” —Sapardi Djoko Damono
“Tidak semua yang saya tulis ada hubungannya dengan sesuatu. Saya mengandalkan imajinasi.” —Sapardi Djoko Damono
“Jangan tulis sajak cinta. Jauhi dahulu bentuk-bentuk yang sangat familiar dan biasa itu. Karena bentuk yang semacam itu adalah yang paling sulit.” —Rainer Maria Rilke
“Di dalam tradisi yang bertaburan dengan karya bagus dan sebagian cemerlang itu, diperlukan kekuatan besar dan penuh dewasa untuk bisa memberi sumbangan individual. Maka itu, dari tema-tema umum, berpalinglah pada apa yang diberikan oleh kehidupanmu sehari-hari; Lukislah dukacita dan keinginan-keinginanmu. Pikiran-pikiran yang melintas dalam dirimu. dan keyakinanmu dalam suatu keindahan tertentu. Lukiskan semuanya itu dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh, rendah hati dan ikhlas. Gunakanlah benda-benda di sekitarmu, imaji-imaji dirimu dan kenangan-kenanganmu untuk mengekspresikan dirimu.” —Rainer Maria Rilke
“Tidak usah kau tanyakan pada siapapun apa sajakmu itu sajak yang baik. Juga tak perlu kau upayakan agar majalah dan koran-koran menaruh perhatian terhadap karya-karyamu itu. Karena karyamu itu adalah milikmu yang sejati dan berharga, suatu bagian dan suara dari kehidupanmu.” —Rainer Maria Rilke
“Tidak ada cara yang lebih ganas menghalangi pertumbuhanmu kecuali dengan melihat ke luar, dan upaya mengharapkan jawaban dari luar, terhadap pertanyaan-pertanyaanmu yang agaknya hanya perasaanmu yang paling dalam dan saat-saatmu yang paling hening bisa menjawabnya.” —Rainer Maria Rilke
“Itulah cinta ibarat bensin yang menggerakkan mesin.” —Abu Al-Ghifari, 2002: 12
“Tapi tidak sedikit manusia yang seperti binatang, menganggap cinta adalah seks. Tak heran jika muncul perilaku binatang; kumpul kebo, pelacuran, dan pacaran yang jauh dari hakikat cinta itu sendiri." — Abu Al-Ghifari, 2002: 13
"Mengapresiasi artinya menghargai. Menghargai itu pertama-tama adalah iktikad baik, sikap, solidaritas, baru kemudian kemampuan atau kapasitas untuk bisa menghargai." — Emha Ainun Najib
"Penonton tidak memerlukan apa-apa kecuali keinginan untuk memuaskan seleranya yang sesaat, sedangkan apresiasi memerlukan “qiraah” (kemampuan dan kesediaan membaca apa yang sedang berlangsung beserta segala sesuatu yang melatari dan menjadi tujuan prosesnya) dan ro’iyah (kapasitas dan kemampuan mencontoh sikap-sikap seorang pemimpin dalam setiap proses memahami kebudayaannya sendiri)." — Emha Ainun Najib
"Kita terlalu banyak mikir-mikir segala keislaman yang bagus. Pada saat yang sama perilaku kita, kebudayaan kita, sistem-sistem hubungan kemanusiaan kita, belum teracik menjadi suatu bangunan islami seperti yang selalu kita gembor-gemborkan." — Emha Ainun Najib
"Kita ingin masuk surga dengan sekali lompat, itu pun kita tidak bersedia melompat dengan kaki kita sendiri. Kita ingin ada tali entah dari mana yang mengerek kita ke surga. Artinya, dalam mekanisme intelektual, kita bersikap menunggu respons. Dalam proses kebudayaan, kita bersikap konsumtif. Itu pun dengan kadar ketidaksabaran yang menjijikkan." — Emha Ainun Najib
"Kalau Anda menjumpai karya sastra, itu juga bukan berasal dari para sastrawan mendadak, melainkan tahap dari pengalaman dan kelahiran mereka yang baru." — Emha Ainun Najib
"Qiraah dan roi’yah dilahani untuk berproses betul dalam manusia para santri. Baik qiraah terhadap diri mereka sendiri maupun terhadap persoalan-persoalan lingkungan mereka, dari kebudayaan sehari-hari sampai politik besar. Tanpa mengerti bagaimana menjalani iqra ini maka kita menjadi tetap “jahiliah”." — Emha Ainun Najib
"Betapa ayat Al-Qur’an seluruhnya berlaku kontekstual dan substansial bagi setiap seniman dan karya seni." — Emha Ainun Najib
“Keyakinan akan firman Allah membutuhkan proses conditioning iman. Memerlukan cuaca ketaatan kepada Allah di segala bidang. Sedemikian rupa sehingga kita dekat sekali dengan segala kehendak Tuhan. Itulah yang tak ada di negeri kita…,” kata Mat Sudi di akhir khutbahnya. — Emha Ainun Najib
“Masing-masing orang diberikan kemampuan sesuai dengan kehendak-Nya dan selaras dengan perjalanan kisahnya.” — Abdul Majid Aziz Azzindani, Jalan Menuju Iman, hlm. 12
"Bagi Joko Pinurbo, puisi yang inspiratif adalah puisi yang bukan hanya memperkaya cara pandang kita terhadap berbagai persoalan hidup, melainkan juga yang menawarkan kemungkinan lain mengenai cara berpuisi." — Indonesia Tera
"Mungkin itu pelajaran pertama saya tentang puisi: kita tak perlu paham untuk terpikat pesonanya." — Hasan Aspahani
"Saya merasa harusnya saya juga bisa menulis puisi, membuat satu teks tentang sesuatu dengan bahasa biasa tapi dengan cara tertentu, cara yang kelak saya pahami sebagai perangkat puitika, dan dengan cara itu bisa membangkitkan pesona." — Hasan Aspahani
"Begitulah, bahasa berevolusi. Untuk bahasa Indonesia dengan perkembangan secepat dan sepesat ini, barangkali bisa dikatakan yang terjadi adalah revolusi bukan evolusi." — Hasan Aspahani
"Menyair, saya percaya, adalah usaha membuka jalan ke masa depan bahasa." — Hasan Aspahani
"Puisi pada hakikatnya adalah jalan sunyi. Hal-hal yang mudah sekali terabaikan." — Hasan Aspahani
"Ada dua hal bagi kita yang membuat kita tertarik pada sesuatu: bakat dan minat." — Hasan Aspahani
"Minat yang terus tumbuh itu mengatasi bakatku yang cekak." — Hasan Aspahani
"Saya memperkaya diri dengan hal-hal yang membuat saya terus mencintai dan betah di dunia puisi. Saya membangun perpustakaan kecil, melengkapi buku-buku puisi dari penyair yang saya gemari, yang diam-diam saya curi jurus-jurusnya. Iya, betul, mencuri." — Hasan Aspahani
"Saya tak cemas jika karena satu dan lain hal saya harus berhenti menulis, sebelum dihentikan kematian. Saya ingin terus menulis, bila mungkin, dan saya terus berusaha memungkinkan itu." — Hasan Aspahani
"Yang penting adalah – seperti yang dikatakan penyair besar kita Sutardji Calzoum Bachri – kita menyadari bahwa menyair adalah suatu pekerjaan serius. Tapi dia katakan penyair tidak harus menyair sampai mati. Dia boleh meninggalkan kepenyairannya kapan saja." — Hasan Aspahani
"Kemudian, dalam Kamus Istilah Sastra (1990), Panuti Sudjiman menuliskan bahwa entri licentia poetica mengartikan ‘kebebasan pengarang untuk menyimpang dari kenyataan, dari bentuk atau aturan, untuk mencapai suatu efek’." — Yudhistira
"Pengarang bukan hanya berhak untuk melanggar kaidah-kaidah bahasa. Lebih dari itu, mereka bebas untuk menyimpang dari kenyataan." — Yudhistira
"... batasan lisensi puitis adalah kesadaran pengarang, baik penyair, penulis, maupun pekerja kreatif lainnya." — Yudhistira
"Lisensi puitis sebaiknya tidak menjadi alasan untuk membenarkan ketidaktahuan kita yang lantas mendorong laku penyimpangan tanpa tujuan." — Yudhistira
"Apabila kita tidak mengetahui efek apa yang ingin kita tuju, berarti penyimpangan yang kita lakukan bukanlah lisensi puitis, melainkan ketidaksengajaan semata." — Yudhistira
"Karena saya pernah ingat kritikus sastra Prancis Charles Augustin Sainte-Beuve (1804 – 1869) pernah mengatakan bahwa dalam diri setiap manusia ada jiwa penyair, yang keburu mati muda." — Hasan Aspahani
"Saya lebih percaya, bahwa penyair dalam diri itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya mati suri." — Hasan Aspahani
"Saya percaya, anak kecil adalah penyair yang luar biasa. Sambil mengumpulkan kata-kata yang pertama, anak kecil belajar mengucapkan sajak-sajaknya yang pertama." — Hasan Aspahani
"Kematian penyair dalam diri kita itu bisa jadi terbunuh oleh kemalasan kita untuk mencari pengucapan baru. Memang kita bukan anak kecil lagi. Anak kecil selalu mencari dan belajar mengucapkan apa saja: lapar, haus, panas, dingin, sepi, bosan dan bayi mengucapkan dengan berbagai cara yang bisa ia temukan. Keinginan untuk mencari dan menemukan pengucapan itulah yang mestinya dipertahankan dari bayi dalam tubuh dewasa kita." — Hasan Aspahani
"Copying is how we learn." — Austin Kleon
"You start when you’re young and you copy. You straight up copy." — Shel Silverstein
"All artists begin by copying." — Austin Kleon
"One of the best ways to internalize someone’s work is to copy it by hand." — Austin Kleon
"Copy out things that you really love. Any book. Put the quotation marks around it, put the date that you’re doing the copying out, and then copy it out. You’ll find that you just soak into that prose, and you’ll find that the comma means something, that it’s there for a reason, and that that adjective is there for a reason, because the copying out, the handwriting, the becoming an apprentice—or in a way, a servant—to that passage in the book makes you see things in it that you wouldn’t see if you just moved your eyes over it, or even if you typed it. If your verbal mind isn’t working, then stop trying to make it work by pushing, and instead, open that spiral notebook, find a book that you like, and copy out a couple paragraphs." — Nicholson Baker
"Hand copying a document can produce an intimate connection to the text and its meaning. The handwriter may discover things about this document that they never knew, a passage that challenges or moves them. They may even leave with a deeper connection to the founders and the country, or even a sense of encouragement." — Morgan O'Hara
"I think copying someone’s work is the fastest way to learn certain things about drawing and line. It’s funny how there is such a taboo against it. I learned everything from just copying other people’s work." — Lynda Barry
"Aku terhadap ilmu seperti seorang ibu yang mencari anak semata wayangnya yang tersayang dan hilang. Dan ketika menyimak ilmu, sungguh aku berharap bahwa seluruh tubuhku adalah telinga." — Imam Asy Syafi’i
"Demikianlah sebab guru yang mandeg belajar adalah murid yang paling gagal. Berhenti memburu ilmu adalah cela bagi yang tua dan celaka bagi yang muda." — Salim A. Fillah
"'Jadikan ilmu sebagai garamnya, dan Adab itulah tepungnya', kata Imam Asy Syafi’i menggambarkan 'roti' penopang kehidupan." — Salim A. Fillah
"Hampir-hampir Adab itu senilai duapertiga agama." — Imam Ibn Al Mubarak
“Pada seorang Guru yang sebenar berilmu, akan kau reguk Adab yang tak disediakan oleh buku-buku.” — Ibn ‘Athaillah As Sakandary
“Walau telanjur kita dianggap berilmu, jangan malu untuk berkata 'Aku tak tahu', dengannya Allah-lah yang kan jadi Sejatinya Guru, membimbing kita selalu.” — Salim A. Fillah
“You can make anything by writing.” — C.S. Lewis
“Ada cinta di dunia itu universal, tetapi seperti apa cinta dan dari mana asalnya itu partikular.” — Bagus Takwin, Bermain-main dengan Cinta
“Ini taat aja engga, tapi merasa dikekang oleh agama. Logikanya di mana?” ― Zaky A. Rivai
“Kalau kamu mau hidup bebas, maka kamu harus bersiap dengan kebebasan orang lain juga.” ― Zaky A. Rivai
“Untuk membuatnya bisa berjalan, setiap gagasan harus diberi kaki. Untuk membuatnya bisa berlari hingga batas-batas yang terjauh, kau harus membuatnya berkeringat.” —Fahd Pahdepie, Muda Berdaya Karya Raya, hlm. 194
“Semua yang kau beri akan kembali. Semua yang kau minta akan menagih.” — Fahd Pahdepie, Muda Berdaya Karya Raya, hlm. 197
“Jadi, menulis puisi adalah kerja pikiran, bukan kegiatan klenik yang tak terkontrol oleh nalar.” —Joko Pinurbo, Berguru kepada Puisi, hlm. 14
“Kepulangannya cuma fisik belaka, lantaran jiwanya masih terpaut di seberang sana. Dalam kata-kata A. Teeuw (1980), ‘kembali tapi tidak pulang’. Ironi semacam inilah yang disebut-sebut sebagai salah satu daya pikat puisi Sitor.” —Joko Pinurbo, Berguru kepada Puisi, hlm. 17
“Kalau kini hidup terasa begitu baik, begitu membahagiakan, saya merasa bahwa saya adalah laki-laki yang diselamatkan oleh pemikirannya, dlindungi oleh tulisannya dan kata-katanya, diberkati oleh air mata istrinya!” — Fahd Pahdepie, Muda Berdaya Karya Raya, hlm. 206
“Rizqa tersenyum. 'Pada waktunya, kamu akan punya banyak waktu, kok. Tapi, jangan salahkan anak-anak jika saat itu tiba, mereka yang nggak punya waktu.'” — Fahd Pahdepie, Muda Berdaya Karya Raya, hlm. 214
“Menurut saya, tak ada kompetisi dalam hubungan suami-istri. Sebab kita berada di tim yang sama, tidak sedang berlomba." — Fahd Pahdepie, Muda Berdaya Karya Raya, hlm. 220
“Orang cenderung ingin didengarkan tetapi gagal ketika harus mendengarkan.” — Fahd Pahdepie, Muda Berdaya Karya Raya, hlm. 230
“Bahwa memprioritaskan kebahagiaan dan kesuksesan keluarga, kadang-kadang jauh lebih penting dari menghabiskan waktu untuk urusan-urusan yang terlihat besar dan megah, seperti kantor, organisasi, dan lainnya.” — Fahd Pahdepie, Muda Berdaya Karya Raya, hlm. 231
"adalah pohon yang menetap di kakinya,istana bagiku kelak."
— Widya Mareta, Puasa Puisi, "Pohon Ibu", hlm. 21
“Puisi, di samping yang lain-lain, meminta kemampuan kepada kita untuk menyodorkan atau menuliskan pengalaman dengan cara tertentu.” — Saini K.M
“Kalau kamu tertarik, menulislah. Tanpa memikirkan kaidah puisi itu apa dan bagaimana. Ikuti saja intuisimu. Baca puisi yang baik sebanyak-banyaknya, kamu menyukai puisi karena tertarik pada teorinya atau karena terpesona pada puisi yang kamu baca? Pasti karena puisi yang kamu baca, kan? Nah, selanjutnya kalau kamu benar-benar mencintai puisi maka kamu harusnya akan mencari informasi lebih banyak tentang apa yang kamu cintai itu agar kamu bisa mencintai dan menggaulinya dengan lebih sebaik-baiknya.” — Hasan Aspahani
“If a book is tedious to you, don’t read it; that book was not written for you.” —Jorge Luis Borges
“The intellectual is, quite simply, a human being who has a pencil in his or her hand when reading a book.” —George Steiner
“Kata itu netral. Tafsir manusia membuatnya berpihak. Imajinasi warganet membuatnya liar. Kendalikanlah!” —Ivan Lanin
“... media sosial akan menjadi wadah yang baik bagi penciptaan puisi-puisi seandainya para penulis sendu itu mempunyai semangat berkarya seperti para penyair besar.” —Arip Apandi
“... semua penyair besar adalah mereka yang punya kebiasaan maniak membaca. Sapardi itu pembaca puisi-puisi Shakespeare.” —Arip Apandi
“Pembacaan para penyair besar Indonesia itu berangkat dengan etos memilih, mengupas, dan membuang. Etos di situ adalah pertemuan mereka dengan karya-karya para pendahulunya; membaca puisi-puisi kelas dunia; membuang remah-remahnya; lalu menerapkan sesuatu yang berguna pada konsep kepenulisan mereka sendiri. Dengan begitulah para penyair besar Indonesia menjadi besar. .” —Arip Apandi
“Tentu, semua orang bebas meluapkan ekspresinya di media sosial. Akan tetapi, menumpahkan ekspresi ke dalam bentuk puisi itu ada syaratnya: membaca, membaca, dan membaca.” —Arip Apandi
“... tidak hanya sekadar membaca, namun juga mesti diiringi dengan semangat mengulik dan mempelajari bagaimana mereka para penyair besar menyampaikan rindu, cinta, dan kesepian dalam puisi-puisinya.” —Arip Apandi
“Bagi saya menulis sastra, khususnya puisi, seperti halnya menuliskan ‘wejangan’ atau ‘pitutur’ bagi pembacanya.” —Aming Aminoedhin
“Saya menulis puisi bermaksud menyalurkan pikiran-pikiran/ide-ide kreatif saya tentang bagaimanakah seseorang tersebut bisa berbuat baik, setelah membaca puisi itu. Tidak hanya wejangan dan pitutur atau petuah saja, tapi juga terkadang berisi kritik, agar manusia tergelitik dengan kesalahan yang ada dalam dirinya selama ini.” —Aming Aminoedhin
“Penyair yang baik adalah dia yang jeli mengamati hubungan-hubungan kata. Ia memahami benar makna denotatif setiap kata. Ia cermat melihat kemungkinan-kemungkinan pemindahan makna-makna itu untuk menciptakan pengucapan yang khas, menciptakan makna-makna konotatif baru, dan menciptakan metafora yang segar dalam puisinya.” —Hasan Aspahani
“Dalam metafora – sebagai mana bahasa kias lain – ada sasaran/tujuan (tenor) dan wahana/sarana (vehicle). Yang pertama adalah apa yang hendak dijelaskan yang kedua apa yang dipakai untuk menjelaskan itu.” —Hasan Aspahani
“Intinya adalah pepatah tadi membuktikan bahwa sesuatu hal bisa dijelaskan lewat perihal lain, yang keduanya punya makna yang jauh sekali berbeda.” —Hasan Aspahani
“Akan tetapi tentu bukan keindahan itu benar yang jadi harga sebuah pepatah yang ditenagai oleh metafora.” —Hasan Aspahani
“Kemampuannya untuk meningkatkan efisiensi dan tenaga atau daya ungkap bahasa itulah yang membuatnya hidup dan menghidupkan bahasa. Dengan sebuah pepatah atau peribahasa, suatu pesan dapat digambarkan dengan tepat sekali.” —Hasan Aspahani
“Komedian bisa bertanya dengan efek jenaka, ‘meja makan di rumahmu nomor sepatunya berapa?’ Jika ini sebuah tohokan (punchline), maka premis-nya adalah ‘kaki meja’ itu.” —Hasan Aspahani
“Metafora adalah perangkat penting dalam puisi, maka pakailah, berdayakan dia. Jangan memakai metafora yang instan, yang siap pakai, dan tinggal comot.” —Hasan Aspahani
“Hati-hati karena bisa tak sengaja terambil metafora mati. Penyair justru harus melihat dan memanfaatkan kemungkinan menghidupkan metafora yang mati. Matahari misalnya. Dengan bantuan perangkat puitika lain, personifikasi misalnya, bisa dihidupkan, dibangkitkan dari kematiannya.” —Hasan Aspahani
“Matahari menggeliat, kata Sapardi dalam sebuah sajaknya. Kita bisa juga membayangkan “hari terbangun dan mengucak matanya”. Atau kemungkinan-kemungkinan lain.” —Hasan Aspahani
“Sungguh yang saya temukan adalah bahwa suaramu benar-benar tentang selusin suara orang lain yang telah kamu ubah.” —Austin Kleon
“Semua yang kamu butuhkan untuk membuat karya yang luar biasa ada dalam kehidupan biasa. Kamu hanya perlu memperhatikannya.” —Austin Kleon
“Konon puncak ketidaktahuan melahirkan ketakjuban. Sesuatu yang sesungguhnya tak terjelaskan, hanya mungkin dihayati dengan rasa takjub.” —Taufiq Wr. Hidayat
“Bagi Ismail Marzuki, yang cerlang dan gemilang tak harus berada dalam terang. Yang cerlang dan gemilang hanya tampak di dalam kegelapan.” —Taufiq Wr. Hidayat
“Iman mengandung kepastian, tetapi juga memendam ketidakpastian-ketidakpastian yang meragukan, cemas, dan berharap-harap. Lalu bagaimana ia dapat menuju terang, jika ia tak pernah merendah hati berhikmat pada kegelapan?” —Taufiq Wr. Hidayat
“Beberapa hal mendasar ternyata terletak di luar jangkauan kemampuan, sehingga membutuhkan pertolongan Allah.” —Emha Ainun Nadjib
“Memberikan cerita pada sebuah produk adalah substansi di era pemasaran konten saat ini. Semakin baik cerita dan filosofinya, maka semakin melekat produk itu di benak konsumen. Semakin mudah pula bagi konsumen untuk rela menceritakan kembali kisah tersebut.” —Arif Rahman (2018)
“Manusia menciptakan puisi dengan melalui empat tahap, yaitu observasi, kontemplasi, penyaringan emosi, dan komposisi.” —Ivan Lanin
“Perasaan hati dan pendalaman batin dilibatkan oleh manusia dalam penciptaan puisi itu. Dua hal itu yang mewujudkan daya gugah tinggi pada puisi ciptaan manusia.” —Ivan Lanin
“Sementara itu, komputer menjalani keempat proses tersebut secara mekanistik dan algoritmik tanpa melibatkan rasa dan batin. Ia hanya bersandar pada pengetahuannya akan konstruksi bahasa, tanpa sentuhan realitas dan imajinasi.” —Ivan Lanin
“Puisi buatan komputer tidak memiliki roh yang sama dengan puisi ciptaan manusia.” —Ivan Lanin
“Menurut Pak Riri, keunggulan rasa dan batin harus digunakan untuk membuka ruang kreativitas baru agar manusia tidak pernah tergantikan oleh mesin.” —Ivan Lanin
“... AI belum dapat mengambil peran penyair. Namun, kehadiran AI menuntut penyair lebih kreatif dalam berkarya.” —Ivan Lanin
“Seorang psikolog kognitif & penyair asal Amerika, Keith Holyoak (2022), menyatakan bahwa 'Ketiadaan pengalaman batin membuat AI kekurangan atas sesuatu yg paling dibutuhkan utk mengapresiasi puisi: rasa kebenaran puitis berdasarkan pengalaman subjektif, bukan realitas objektif.'” —Yudhistira
“Media massa, yang diterbitkan bagi khalayak ramai, mesti berbahasa baku, yaitu bahasa jurnalistik, supaya mudah dipahami oleh pembaca dari pelbagai lapisan usia, pendidikan, dan budaya.” —Jarar F. Siahaan
“Saya menganggap bahasa yang dipakai di media sosial sebagai bahasa hibrida antara bahasa tulis dan bahasa lisan. Wujudnya tulisan yang cenderung formal, tetapi penyampaiannya seperti lisan yang cenderung nonformal karena sifatnya yang interaktif.” —Ivan Lanin
“Bahasa yang dipakai pada takarir media sosial lebih lentur daripada bahasa jurnalistik yang dipakai dalam media massa lain (cetak dan elektronik).” —Ivan Lanin
“Pemakaian bahasa sesuai dengan bidang penggunaan disebut laras bahasa. Secara sederhana, laras bahasa dapat dikelompokkan menjadi enam, yaitu laras bahasa sastra, kreatif, jurnalistik, bisnis, ilmiah, dan hukum.” —Ivan Lanin
“Laras bahasa sastra merupakan laras bahasa yang paling luwes, sedangkan laras bahasa hukum merupakan laras bahasa yang paling kaku.” —Ivan Lanin
“Karya sastra berupa puisi, prosa, dan drama merupakan bagian dari laras bahasa sastra. Sastrawan memiliki lisensi puitis (licentia poetica) yang membebaskan mereka untuk mendayagunakan bahasa demi mewujudkan keindahan.” —Ivan Lanin
“Puisi dan sastra pada umumnya masalah bahasa ya, masalah bagaimana sastrawan itu menggunakan bahasa. Kalau bahasanya baru, dia mendobrak, bukan puisinya, tapi bahasanya.” —Sapardi Djoko Damono
“Chairil besar karena mendobrak pengucapan pada zaman itu. Dia mempunyai gaya baru dalam penulisan puisi dan gaya itu diperlukan untuk mengungkapkan keadaan diri sendiri dengan zaman waktu dia hidup. Karena zaman waktu dia hidup kan berbeda dengan zaman waktu perang.” —Sapardi Djoko Damono
“Lingkungan Chairil beda, tapi puisinya tentang cinta, kerinduan, kemarahan. Itu sama saja. Tapi cara memprotes dan menyampaikan cinta itu sangat berbeda. Chairil menggunakan bahasa baru, bukan dari bahasa buku, melainkan bahasa lisan sehari-hari yang terus berkembang.” —Sapardi Djoko Damono
“Derai-Derai Cemara kan indah sekali sajaknya, sangat tenang dan tidak menunjukkan Chairil yang biasanya disebut kebanyakan bertingkah ‘binatang jalang’ atau pemberontak. Sama sekali berbeda.” —Sapardi Djoko Damono
“Karena itu puisi yang hanya menghamparkan pernyatan berisi konsep atau rumusan kering, jargon kaku, slogan-slogan klise bahkan basi tak akan memikat pembaca. Seperti menelan makanan kering yang belum terkunyah dengan baik. Seret.” —Hasan Aspahani
“Tugas penyair adalah menyeimbangkan pelibatan dua hal itu: pikiran dan perasaan, permenungan dan keterharuan. Kata yang dipilih, ungkapan yang diciptakan, kiasan atau perbandingan yang dihadirkan, harus jalin menjalin, saling menjaga, memberi ruang, mengutuhkan seluruh unsur persajakan yang dipilih untuk diberdayakan dalam puisi kita.” —Hasan Aspahani
“Apabila momen puitis datang, tangkaplah. Caranya dengan mencatat. Ingat, bukan sekadar mengingat, tetapi mencatat.” —Hasta Indriyana
“Empat hal dasar yang diperhatikannya ialah diksi yang kuat, citraan yang hidup, metafora yang segar, serta rima dan irama yang selaras. Selain itu Jokpin juga menimbang keunikan perspektif dan kreativitas dalam mengolah dan memainkan kata-kata.” —Ivan Lanin
“Ketika membahas karya orang lain, Jokpin tampaknya selalu mencari benang merah di antara puisi-puisi dalam antologi itu. Benang merah itu sering dikaitkannya dengan latar belakang si penulis.” —Ivan Lanin
“Adalah menarik bahwa sajak-sajak terkuat Sitor justru sajak-sajak yang digubah dalam bentuk terikat yang ketat, yang bersumber pada pola-pola persajakan lama seperti pantun dan syair.” —Joko Pinurbo, Berguru kepada Puisi, hlm. 18
“Di antara mereka hanya satu-dua yang tersangkut di tong sejarah. Puisi-puisi ditulis, kemudian lenyap. Kumpulan diterbitkan, kemudian tertimbun oleh peristiwa-peristiwa. Sebab kita hanya butuh juara-juara. Kita hanya mau yang terbaik. Kita hanya menghitung nucleolus-nucleolus.” —Emha Ainun Nadjib
“Puisi ditulis, kemudian dikomunikasikan dengan (1) cukup tulisan itu sendiri, dan (2) dengan lisan. Dua media komunikasi yang merupakan ‘dua dunia’ yang amat berbeda.” —Emha Ainun Nadjib
“Komunikasi tulisan pada umumnya lebih pasif. Terutama karena ia hanya bergantung pada tingkat permintaan di pasaran, dan puisi bukanlah ‘bibit unggul’ sebagai komoditi. Penerbitan buku puisi adalah penerbitan ‘perjuangan’. Seret lakunya. Majalah ‘Horison’ terbata-bata, dan kumpulan puisi tak jarang cukup dibagi-bagi antar kawan.” —Emha Ainun Nadjib
“Sebab di dalam berkomunikasi kita harus mau tahu terhadap alam dunia orang yang kita hadapi. Kita toh tidak ingin menjadi tiran yang membabi-buta.” —Emha Ainun Nadjib
“Setiap penyair punya jawaban dan sikapnya sendiri-sendiri. Tapi memang itulah salah satu perbedaan antara komunikasi puisi tulisan dan lisan. Pada yang pertama, puisi tulisan itu dibaca oleh orang yang memang mau membeli dan membacanya. Tapi puisi lisan, kita lebih sering berhadapan dengan orang yang belum tentu mau, apalagi siap, mendengarkan puisi kita. Tantangan dan tuntutannya sangat lain.” —Emha Ainun Nadjib
“Metafora—sebagai sebuah gaya bahasa—dengan begitu telah membantu kita menjelaskan atau mengekspresikan perasaan kita dengan baik, dalam arti mudah dipahami oleh mitra bicara kita.” —Hasan Aspahani
“Metafora adalah peristiwa dalam bahasa, yaitu ketika kita memakai sifat-sifat, pengertian, atau makna suatu hal (tentu saja itu terangkum dalam sebah kata) untuk menjelaskan hal lain (yang juga terhimpun dalam kata lain), yang keduanya secara maknawi berjarak.” —Hasan Aspahani
“Dalam puisi metafora – bukan sekadar gaya bahasa – merupakan perangkat puitika penting.” —Hasan Aspahani
“Penyair yang baik adalah dia yang jeli mengamati hubungan-hubungan kata. Ia memahami benar makna denotatif setiap kata. Ia cermat melihat kemungkinan-kemungkinan pemindahan makna-makna itu untuk menciptakan pengucapan yang khas, menciptakan makna-makna konotatif baru, dan menciptakan metafora yang segar dalam puisinya.” —Hasan Aspahani
“Jujur, isi buku gua juga 50% pengalaman yang gua kumpulin dari eksperimen gua; 50% 'insight' dari gua baca buku, ikut kelas, webinar, ngobrol sama mentor. Jadi, gua juga nggak bikin riset baru, tapi gua bisa menyajikan dengan cara-cara baru yang lebih baik.” —Fellexandro Ruby
Pateda (2011:11) menjelaskan bahwa alat bicara manusia yang menghasilkan bunyi bahasa terdiri dari dua unsur, yaitu bentuk (form) dan makna (meaning). Sedangkan Gleason (1961:2) mengemukakan dua unsur tersebut dinamakan “expression” dan “content”, oleh Humboldt disebut “auzzere vorm” dan “innere vorm” oleh St. Takdir Alisyahbana (1972) disebut bentuk lahir dan bentuk batin, sedangkan oleh F. de Saussure (terjemahan Wade Baskin: 1974:67) disebut dengan signified (signifie) dan signifier (signifiant). —Noermanzah
“Penyair bukan membuat sesuatu dari yang tiada. Sajak adalah jadi-jadian, lewat kemampuan menggunakan segala faktor budaya yang dicerap, dimiliki, dan dibina oleh si penyair.” —Sitor Situmorang
“Daripada bertanya pada diri sendiri, 'Bagaimana cara menciptakan sesuatu yang baru?' tanyakan pada diri sendiri, 'Bagaimana cara mengubah sesuatu yang lama agar terasa baru?'” —Mark Manson
“Everything is a Remix'” —Kirby Ferguson
“Plato wrote that boredom is the mother of all invention. Our minds become creative because it helps us avoid the inherent anxiety of our own existence.” —Mark Manson
“Jangan bikin yang ruwet, sajak itu sesuatu yang sederhana, manusiawi, dan terjadi sehari-hari.” —Sapardi Djoko Damono
“Kalau pagi kita jalan ke barat, di belakang kita matahari. Bayang-bayang ada di depan, masa saya harus memaksa agar saya di depan bayang-bayang? Maka saya tulis Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan.” —Sapardi Djoko Damono
“Justru karena Juni tidak ada hujan, saya bikin ini. Mungkin hujan jatuh karena ada yang sangat mengharapkan.” —Sapardi Djoko Damono
“Saya bayangkan api dan kayu sedang bercinta.” —Sapardi Djoko Damono
“Tidak usah dipusingkan apa artinya, puisi itu untuk dihayati, tidak usah dipahami.” —Sapardi Djoko Damono
“Baca sebanyak-banyaknya, kemudian tiru.” —Sapardi Djoko Damono
“Lama-lama akan jadi diri sendiri. Harus nulis puisi sebanyak-banyaknya, meniru sebanyak-banyaknya, kalau sudah meniru seratus orang akan jadi diri sendiri.” —Sapardi Djoko Damono
“Modal seorang penulis adalah penguasaan bahasa.” —Sapardi Djoko Damono
“Namun, peralihan karir seorang penyair menjadi prosais, banyaknya merupakan cerita mengenai orang-orang yang kalah.” —Ageng Indra
“Meskipun kita menganggap kreativitas sebagai penciptaan sesuatu yang unik, sebagian besarnya tidaklah demikian. Faktanya, sebagian besar dari apa yang kita alami sebagai sesuatu yang “baru” hanyalah mengambil hal-hal lama dan mencampurnya kembali dengan cara-cara yang baru atau tak terduga.” —Mark Manson
“Salah satu kritik yang paling umum terhadap buku-buku saya adalah bahwa saya tidak 'menciptakan' sebagian besar saran yang saya berikan.” —Mark Manson
“Alih-alih berfokus pada kebahagiaan dan kepositifan, saya berfokus pada rasa sakit . Alih-alih menjual visi kesuksesan kepada orang-orang yang putus asa, saya membantu orang mempertanyakan definisi kesuksesan mereka.” —Mark Manson
“Karya kreatif bukan hanya kreatif karena 'baru'—karya kreatif juga kreatif karena menambahkan nilai tertentu ke dunia.” —Mark Manson
“Ketika saya menulis buku saya, The Subtle Art of Not Giving a F*ck , hampir seluruh isi buku itu hanyalah cara licik untuk membuat orang berpikir tentang nilai-nilai mereka dengan lebih jelas. Ada sejuta buku pengembangan diri di luar sana yang mengajarkan Anda cara mencapai tujuan dengan lebih baik, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mempertanyakan tujuan apa yang seharusnya Anda miliki sejak awal. Tujuan saya adalah menulis buku yang melakukan hal itu.” —Mark Manson
“Ketika saya menulis buku saya, The Subtle Art of Not Giving a F*ck , hampir seluruh isi buku itu hanyalah cara licik untuk membuat orang berpikir tentang nilai-nilai mereka dengan lebih jelas. Ada sejuta buku pengembangan diri di luar sana yang mengajarkan Anda cara mencapai tujuan dengan lebih baik, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mempertanyakan tujuan apa yang seharusnya Anda miliki sejak awal. Tujuan saya adalah menulis buku yang melakukan hal itu.” —Mark Manson
“Karya kreatif bukan hanya kreatif karena 'baru'—karya kreatif juga kreatif karena menambahkan nilai tertentu ke dunia.” —Mark Manson
“Everything is a Remix'” —Kirby Ferguson
“Tanpa film-film sebelumnya, tidak akan ada Star Wars. Penciptaan memerlukan pengaruh.” —Kirby Ferguson
“Sederhananya: menyalin adalah cara kita belajar.” —Kirby Ferguson
“Tak ada seorang pun yang memulai dari awal.” —Kirby Ferguson
“Kamu perlu menyalin untuk membuat dasar-dasarnya dari pengetahuan dan pemahaman, dan setelah itu, semuanya bisa mulai menjadi menarik.” —Kirby Ferguson
“Berikut ini adalah unsur-unsur dasar kreativitas: menyalin, mengubah, dan menggabungkan.” —Kirby Ferguson
“Kita semua diciptakan dari bahan yang sama.” —Kirby Ferguson
“Inilah evolusi: salin, ubah, dan gabungkan.” —Kirby Ferguson
“Dan budaya berevolusi dengan cara yang sama, tapi unsur-unsur tersebut bukan gen, adalah memes—ide, perilaku, keterampilan. Memes disalin, ditransformasikan, dan digabungkan.” —Kirby Ferguson
“Dan ide-ide dominan di zaman kita adalah meme yang banyak tersebar. Inilah evolusi sosial: salin, ubah, dan gabungkan. Begitulah cara kita, begitulah kita hidup, begitulah cara kita berkreasi. ” —Kirby Ferguson
“Kita tidak pernah malu dalam mencuri ide-ide hebat.” —Steve Jobs
“Aku akan menghancurkan android karena itu adalah produk curian. Aku bersedia untuk masuk ke dalam perang termonuklir untuk ini.” —Steve Jobs
“Kami percaya bahwa ide adalah properti dan kita terlalu posesif ketika kita merasa bahwa properti ini milik kita. ” —Kirby Ferguson
“Kebaikan umum adalah sebuah meme yang dihancurkan oleh kekayaan intelektual. Itu perlu disebarkan lagi. jika meme ini berkembang, hukum kita, norma kita, masysrakat kita, semua orang akan berubah.” —Kirby Ferguson
“Kebaikan umum adalah sebuah meme yang dihancurkan oleh kekayaan intelektual. Itu perlu disebarkan lagi. jika meme ini berkembang, hukum kita, norma kita, masysrakat kita, semua orang akan berubah. Ini adalah evolusi sosial.” —Kirby Ferguson
“... kebahagiaan suami dan isteri itu tidak bisa dibeli atau dijual di toko seperti kita beli barang. Karena kebahagiaan hanya bisa diraih dengan kompetensi, termasuk di dalamnya ilmu, value, skill, attitude, interest.” —K.H. Hafidz Abdurrahman
“Salah satu teoriku adalah bila orang memberimu saran, mereka justru berbicara dengan diri sendiri di masa lalu.” —Austin Kleon
“The act of writing is to me to listen,” —Jon Fosse in his Nobel lecture
“Hasil eksperimen Mehta dan Zhu mengungkapkan petunjuk berharga yang berlawanan dengan intuisi dalam ilmu kreativitas, bahwa dalam rangka mendorong pemikiran untuk bekerja luar biasa, hal pertama yang terkadang perlu dilakukan adalah membuat kotak pemikiran lebih kecil dan semakin kecil. Mengekang pikiran dengan pilihan yang makin sedikit, hingga tidak ada pilihan selain membangun ulang pilihan-pilihan tersebut dengan cara tidak biasa. Dengan kata lain, kreativitas tidak muncul sebagai bawaan lahir. Hal tersebut lebih sebagai reaksi terhadap lingkungan dan situasi yang memaksa seseorang memanfaatkan sumber daya yang ada dengan cara terbaik.” —Peter Hollins, How to Think Like Sherlock Holmes: 48
“Bukannya membatasi inspirasi atau orisinalitas, aturan-aturan tersebut justru memacu imajinasi dan kreativitas.” —Peter Hollins, How to Think Like Sherlock Holmes: 54—55
“Anda juga membutuhkan periode pemulihan agar kreativitas tetap optimal. Ada dua cara utama yang dapat Anda libatkan dalam periode pemulihan: istirahat dan tidur.” —Peter Hollins, How to Think Like Sherlock Holmes: 56
“The idea that creativity happens due to some lightning strike of inspiration is a myth. Inspiration happens during the work, not before it.” —Mark Manson
“Creative people don’t “find time” to be creative—they put in the time to be creative.” —Mark Manson
“There’s almost a direct correlation between how much someone created and how original their work ended up being.” —Mark Manson
“Sebuah kesuksesan tidak diraih secara tiba-tiba. Butuh kerja keras dan latihan yang konsisten dalam waktu bertahun-tahun bagi siapapun yang ingin menjadi seorang jenius di bidang yang ditekuninya.” —Himam Miladi, Menulis Itu Menyenangkan: 153
“Bahkan orang-orang dengan talenta besar jarang menghasilkan karya luar biasa sebelum berpuluh-puluh tahun berlatih.” —Himam Miladi, Menulis Itu Menyenangkan: 153
“Tidak seorang pun yang bisa menghasilkan karya kreatif yang luar biasa tanpa mempraktikkannya setidaknya selama satu dekade. Inilah aturan pertama dari hukum 10 tahun kesunyian (10 Years of Silence) versi Hayes.” —Himam Miladi, Menulis Itu Menyenangkan: 156
“Tanpa hambatan atas hasil yang diharapkan, Anda akan cenderung terpaku pada solusi nyaman tetapi tidak menarik. Sebaliknya, kenalkan hambatan-hambatan dan Anda akan berada di jalan menuju penciptaan berbagai ide kreatif, yang tidak pernah terbayangkan.” —Peter Hollins, How to Think Like Sherlock Holmes: 50
“It turns out that the secret to the creative 'greats' throughout history is less that they were creative geniuses and more that they were work-ethic geniuses.” —Mark Manson
“What I learned that year was that there is no difference between inspiration and lack of distraction. They are the same thing.” —Mark Manson
“They understand that creativity isn’t an invention, it’s a reinvention.” —Mark Manson
“This lays the foundation for the rest of the creative process, providing a well of knowledge and experience in the elements of the trade that can be remixed with each other to come up with new creative work in itself. Creativity is as much immersing yourself in your chosen field as it is contributing to and advancing it.” —Mark Manson
“Find people who you want to emulate and start emulating them. Get a job or an apprenticeship with someone who has a lot more experience than you, do everything they tell you to do—then do more on your own.” —Hunter, S., Bedell, KE, & Mumford, MD (2007)
“You don’t develop your own style or voice ex nihilo. You develop it by first understanding somebody else’s style and voice, and then differentiating yourself from it to create your own.” —Mark Manson
“Life is short and art is long.” —Hippocrates
“Life is short and art is long.” —Hippocrates
“Our life follows the image of a bow. The highpoint of this bow comes at the thirty-fifth year” —Dante
“At first, when people hear of a novel idea, a lot of them will laugh it off as ridiculous, outlandish, unnecessary, or just plain dumb. It’s here that the artist “buys” the idea at its low value, then finds a way to refurbish and “flip it” into something of higher value that the world understands and appreciates.” —Mark Manson
“Understand your market. Learn to spot undervalued ideas and assets. Develop the skill to repurpose them into something people enjoy and value.” —Mark Manson
“I write because I would like to live forever.” —Reginald Shepherd
“As is painting, so is poetry: some pieces will strike you more if you stand near, and some, if you are at a greater distance: one loves the dark; another, which is not afraid of the critic’s subtle judgment, chooses to be seen in the light; the one has pleased once the other will give pleasure if ten times repeated ....” —Horace
“‘Danger invites/rescue—I call it loving,’ as James Tate wrote in his early poem ‘Rescue.’ That project is over, not completed but abandoned (as Paul Valéry said all poems are), but the attempt to rescue my mother through poetry was a major motivation for many years.” —Reginald Shepherd
“Sekali berarti sudah itu mati,” —Chairil Anwar
“Yang fana adalah waktu. Kita abadi.” —Sapardi Djoko Damono
“Art reminds us of the uniqueness, particularity, and intrinsic value of things, including ourselves. I sometimes have little sense of myself as existing in the world in any significant way outside of my poetry. That’s where my real life is, the only life that’s actually mine.” —Reginald Shepherd
“You will have it in your power to blot out what you have not made public: a word once sent abroad can never return.” —Horace
“Art is a simulacrum of life that embodies and operates by means of death. The aesthetic impulse is the enemy of the lived moment: it attempts both to preserve and to transcend that moment, to be as deeply in the moment as possible and also to rise beyond it.” —Reginald Shepherd
“It’s the promise that beauty is possible and the threat that it’s only momentary: if someone doesn’t write it down it’s gone. The moment vanishes without a trace and then the person who experiences that moment vanishes and then there’s nothing.” —Reginald Shepherd
“Poetry rescues nothing and no one, but it embodies that helpless, necessary will to rescue, which is a kind of love, my love for the world and the things and people in the world.” —Reginald Shepherd
“It’s the promise that beauty is possible and the threat that it’s only momentary: if someone doesn’t write it down it’s gone.” —Reginald Shepherd
“Jagalah ilmu dengan menulis.” —Muhammad Rasulullah
“Jagalah ilmu dengan menulis.” —Muhammad Rasulullah
“Mewujudkan karya yang kuat memakan waktu lama—bisa seumur hidup, malah—tetapi syukurlah, kamu bisa melaluinya secara bertahap. Jadi, lupakan dekade, lupakan tahun, dan lupakan berbulan-bulan. Fokuslah pada proses harian.” —Austin Kleon
“Sekali sehari, setelah merampungkan tugas rutin, kembalilah pada dokumentasi proses berkaryamu dan temukan satu kepingan kecil yang bisa kamu bagi.” —Austin Kleon
“I didn’t sit down to write thirteen chapters so much as I lived each chapter over time, tackling insecurity, collaboration, fear, tapping into my true self, and basically just navigating the world of working for yourself.” —Adam J. Kurtz
“... sometimes, the internet just likes what it likes, and it’s smart to build on that success when you hit your stride.” —Adam J. Kurtz
“Engkau bisa tapa ngrame. Aku sendiri melakukannya tiap hari. Aku bekerja keras tiap saat, aku selalu dalam suasana perjalanan hampir tiap hari, aku selalu berada di tengah orang banyak hampir kapan saja. Bahkan ketika mengetik itupun berseliweran banyak orang di sekitarku. Tapi hatiku tetap bersedekap.” —Emha Ainun Nadjib (1997)
“Islam adalah agama pembebasan (dari nafsu keduniawian yang memerosokkan manusia di dalam kebinasaan) atau penyelamatan (berdasarkan konsep takdir-Nya). Dan puasa ditunjukkan oleh sikap Allah itu sebagai metode yang paling prakti—tetapi mendasar bagi proses pembebasan dan penyelamatan manusia atas dirinya sendiri.” —Emha Ainun Nadjib
“Syahadat adalah fundamen keselamatan. Shalat adalah tiang yang berdiri statis. Puasa adalah pedoman manajemen kehidupan di setiap rumah, masyarakat, negara, kebudayaan, dan peradaban. Zakat adalah “minyak pelumas” bekerjanya “mesin hidup” dan penyeimbang mekanisme. Sementara haji adalah “makuto” puncak-puncak pencapaian ibadah kehidupan manusia.” —Emha Ainun Nadjib
“Metode pembebasan bagi kehidupan justru melalui cara mengendalikan, menyadari batas-batas, kesanggupan menyaring, menyeleksi dan mensublimasikan. Ini berlaku dalam hal apa saja.” —Emha Ainun Nadjib
“Kita tak mungkin menjalankan politik kenegaraan dengan cara melampiaskan kekuasaan sewenang-wenang, kecuali memang kita menargetkan kehancuran di depan, lambat atau cepat.” —Emha Ainun Nadjib
“Husnul khatimah dan su'ul khatimah itu, menurut para ulama, ditentukan berdasarkan kebiasaan seseorang.” —KH Hafidz Abdurrahman, MA
“Almost every writer will tell you how important it is to keep a daily diary or notebook, but very few emphasize how important it is, if you want to publish, to have a system for going back through those personal notebooks and diaries and turning them into public writing.” —Austin Kleon
“So those are the kinds of notes I write to myself. Either sentences in my own writing, words I like, questions I have, or examples I think might fit somewhere and want to learn more about.” —Ryan Holiday
“Most of the time, what I write down are quotes (I used to put them on a blog instead but it was too unwieldy). They’re either famous quotes or quotes from the writer that I think are smart. It’s very important that you mark quotes properly so you never risk forgetting to attribute.” —Ryan Holiday
“There was a time in my life where I didn’t read much, and now I look back on it as the most superficial and bleak point of my existence. Ever since I allowed myself to be pulled down the rabbit hole of books–the endless chain of citation, influence and recommendation–my life has improved exponentially.” —Ryan Holiday
“Experience is the best teacher you will ever have, and travel will give you the education you need.” —Nikita Gill
“To feel like your best self again, what you need is a pep talk.” —Prachi Nain
“To feel like your best self again, what you need is a pep talk.” —Prachi Nain
“Pep talks are like vitamins: You can take them every day preemptively, or you can wait until your body signals a lack of them — but sooner or later, you will need your vitamins.” —Niklas Göke
“Reading and writing poetry can exercise that capacity (make it meaningful and understandable), improving one’s ability to better conceptualize the world and communicate it — through presentations or writing — to others.” —John Coleman
“Reading and writing poetry can exercise that capacity (make it meaningful and understandable), improving one’s ability to better conceptualize the world and communicate it — through presentations or writing — to others.” —John Coleman
“The number one thematic benefit poetry users cited was “understanding”—of the world, the self, and others.” —John Coleman
“And bevies of new research show that reading fiction and poetry more broadly develops empathy. Raymond Mar, for example, has conducted studies showing fiction reading is essential to developing empathy in young children (PDF) and empathy and theory of mind in adults (PDF).” —John Coleman
“The program in Medical Humanities & Arts (PDF) even included poetry in their curriculum as a way of enhancing empathy and compassion in doctors, and the intense empathy developed by so many poets is a skill essential to those who occupy executive suites and regularly need to understand the feelings and motivations of board members, colleagues, customers, suppliers, community members, and employees.” —John Coleman
“The program in Medical Humanities & Arts (PDF) even included poetry in their curriculum as a way of enhancing empathy and compassion in doctors, and the intense empathy developed by so many poets is a skill essential to those who occupy executive suites and regularly need to understand the feelings and motivations of board members, colleagues, customers, suppliers, community members, and employees.” —John Coleman
“Indeed, poetry may be an even better tool for developing creativity than conventional fiction. Clare Morgan, in her book What Poetry Brings to Business, cites a study showing that poems caused readers to generate nearly twice as many alternative meanings as “stories,” and poetry readers further developed greater “self-monitoring” strategies that enhanced the efficacy of their thinking processes.” —John Coleman
“Finally, poetry can teach us to infuse life with beauty and meaning. A challenge in modern management can be to keep ourselves and our colleagues invested with wonder and purpose.” —John Coleman
“Poetry isn’t a one-size-fits-all solution to every business problem. There are plenty of business leaders who’ve never read poetry and have been wholly successful. But to those open to it, reading and writing poetry can be a valuable component of leadership development.” —John Coleman
“‘Tuhan’ adalah suatu otoritas, suatu hegemoni tunggal yang amat menentukan. Antara Tuhan dengan tuhan ada beda tingkat otoritasnya. Yang Tuhan mutlaknya nggak karuan, yang tuhan memusingkan setengah mati.” —Emha Ainun Nadjib
“Otoritas otentik Tuhan biasa disebut qudrah, otoritas pinjam di tangan manusia dinamakan iradah: Tuhan memberi keputusan Anda berambut lurus bagaikan ijuk, Anda menentukan rambut itu dikeriting di salon.” —Emha Ainun Nadjib
“Kalau Anda memakai ‘tradisi liberal’ lain lagi: setiap manusia! Setiap manusia berhak menentukan nilai berdasarkan keyakinan dan anggapannya masing-masing.” —Emha Ainun Nadjib
“Atau karena Anda sedang jengkel oleh berkuasanya sistem-sistem sosial besar yang amat sempit memeluangi tawar-menawar kolektif, Anda lontarkan sinisme: “Yang menentukan adalah topdown guidance”. Barangkali maksudnya adalah 'Petunjuk Bapak!'” —Emha Ainun Nadjib
“Atau karena Anda sedang jengkel oleh berkuasanya sistem-sistem sosial besar yang amat sempit memeluangi tawar-menawar kolektif, Anda lontarkan sinisme: “Yang menentukan adalah topdown guidance”. Barangkali maksudnya adalah 'Petunjuk Bapak!'” —Emha Ainun Nadjib
“Atau dengan tradisi latihan empati demokrasi, Anda akan menjawab: yang menentukan adalah hasil tawar-menawar dalam kebersamaan hidup manusia.” —Emha Ainun Nadjib
“Yang menentukan apa yang baik dan apa yang buruk dan lain sebagainya itu ada tiga. Pertama, makhluk yang keberadaan dan kehadirannya membuat ngeri semua orang. Kedua, makhluk yang sekali bersin keluar dari lubang hidungnya uang miliaran rupiah. Dan ketiga, makhluk yang mengendalikan peralatan komunikasi zaman: pers, jurnalisme audiovisual, iklan-iklan.” —Emha Ainun Nadjib
“John F. Kennedy pernah sempat meromantisir peran karya seni dalam sejarah dengan ucapannya yang terkenal, 'kalau politik kotor, puisi yang membersihkannya.'” —Emha Ainun Nadjib
“Atau dengan tradisi latihan empati demokrasi, Anda akan menjawab: yang menentukan adalah hasil tawar-menawar dalam kebersamaan hidup manusia.” —Emha Ainun Nadjib
“Manusia, pada tataran fungsi dan titik orbit mana pun dan kapan pun, senantiasa membutuhkan sawang-sinawang, saling bercermin dan saling mengoreksi.” —Emha Ainun Nadjib
“Akan tetapi Amerika Serikat sendiri ternyata adalah ‘tuhan’ bagi masyarakat dunia. Bahkan jenis ‘tuhan’ yang mengerikan.” —Emha Ainun Nadjib
“Jadi saya ucapkan selamat menikmati suguhan tuhan-tuhan semu, yang membuat mimpi-mimpi semu. Merekalah guru besar putra-putri Anda.” —Emha Ainun Nadjib
“Sometimes, purpose is found in the small, meaningful moments that align with our true selves.” —Sheila Darcey
“As Frederic and Mary Ann Burssat state in their book, 'Spiritual Literacy, it’s the ability to read the signs written it the texts of your own experience.'” —Terri Ann Heiman
“Tidak mungkin ada orang yang tidak terpengaruh. Karena pengetahuan itu tidak tumbuh dari dalam diri kita. Kita serap itu dari luar, sengaja atau tidak sengaja.” —Kiki Sulistyo
“Afrizal Malna bilang, kalau saya naik bus, kemudian busnya berjalan di jalan yang rusak dan tubuh saya terguncang-guncang, saya tidak akan menulis puisi bunyinya 'aku kemudian terguncang-guncang,' tidak, katanya. Saya akan menulsi puisi, yang kalau orang baca itu, dia terguncang-guncang kayak saya naik bus itu.” —Kiki Sulistyo
“Ide itu tidak usah dicari—kalau misalnya tidak ada, kalau ada, ya, dipakai—pancing dia (dengan) tulis satu baris saja, satu baris ini akan memancing baris-baris lain.” —Kiki Sulistyo
“Bermain itu bukan main-main; bermain itu ada aturannya. Main-main itu tidak serius; bermain itu serius.” —Kiki Sulistyo
“Sejak awal 1982 kita menyaksikan berbagai gugatan agar sastra lebih menunjukkan peran sertanya dalam proses perubahan sosial. Ini jelas bukan sekedar gejala kesusastraan, tapi bersumber pada kompleksitas kegelisahan sosial yang lebih luas. Meskipun batang tubuhnya berupa pemikiran sastra, namun ia adalah ‘saudara kembar’ dari sebutlah meluasnya kesadaran akan keperluan sosiologi dalam banyak ilmu-ilmu-pilah moderen, munculnya antitesa terhadap tradisi arsitektur moderen, tumbuhnya solidaritas-solidaritas baru dalam kehidupan beragama, atau makin banyak diselenggarakannya kegiatan yang menegur-sapakan berbagai spesialisasi kehidupan.” —Emha Ainun Nadjib
“... tumbuhnya komitmen baru sastra moderen kita terhadap lingkungan konkritnya, merupakan salah satu dorongan di antara dorongan-dorongan lain untuk menciptakan gelombang kesadaran baru masyarakat yang mencoba merangkum dan mengutuhkan kembali kehidupan yang dewasa ini terpecah berserakan.” —Emha Ainun Nadjib
“Tentu saja sastra yang konsern dengan perubahan sosial bukanlah ‘sastra yang mengangkat senjata’ terhadap suatu kekuasaan fisik. Sebab, pertama, hal-hal yang harus dirubah dan dibebaskan tidak sekedar berada di luar sastra, sebutlah misalnya politik dan ekonomi yang menciptakan sistem nilai adab-budaya tertentu yang menyempitkan nilai kesenian, tetapi bahkan juga dikandung oleh dunia dan sikap kesusastraan itu sendiri, yakni hal-hal yang pada batas tertentu merupakan tiran atas nilai sastra itu sendiri, atas sastrawannya maupun masyarakatnya. Dan kedua, setidaknya dengan sikap ‘sastra yang membebaskan’, bisa mulai ditumbuhkan suatu kemungkinan di mana kesusastraan dan kesenian pada umumnya bisa menjadi salah satu komponen pendorong perubahan sosial ke arah kehidupan yang lebih manusiawi.” —Emha Ainun Nadjib
“Sastra dan seni yang baik terwujud selalu karena ia mengandung pemikiran dan perasukan masalah-masalah manusia. Karena itu tidak ada pameo ‘sastra untuk sastra’ kecuali kita berbicara tentang bunga plastik yang tak perlu akar karena ia tak hidup.” —Emha Ainun Nadjib
“Sastra dan seni yang baik terwujud selalu karena ia mengandung pemikiran dan perasukan masalah-masalah manusia. Karena itu tidak ada pameo ‘sastra untuk sastra’ kecuali kita berbicara tentang bunga plastik yang tak perlu akar karena ia tak hidup.” —Emha Ainun Nadjib
“Mungkin sastra itu semacam energi batin, yang berposisi hakiki, niscaya atau sejati, di dalam diri manusia.” —Emha Ainun Nadjib
“Apabila sastra direduksi dari keutuhan manusia, akan berlangsung ketidakseimbangan yang serius. Ada semacam lobang gelap di dalam jiwa manusia yang membatalkan keutuhan kemanusiaannya. Jika manusia berlubang dan tak seimbang ini berkumpul menyusun suatu sistem sosialitas, maka kebudayaan yang dihasilkannya akan penuh guncangan, peradaban yang dibangunnya tidak memiliki kesuburan.” —Emha Ainun Nadjib
“... yang utama saya sangat menikmati kenyataan bahwa sastra tidak bisa mati, bahkan pun mungkin sesudah manusianya mati.” —Emha Ainun Nadjib
“Sastra tidak musnah oleh riuh rendah Negara, Industri dan Kapitalisme yang sangat tidak berpihak pada manusia. Negara yang hanya mampu memandang kehidupan manusia pada lapis paling permukaan, yakni yang kasat mata, atau yang di seputar jangkauan indera.” —Emha Ainun Nadjib
“Jika manusia itu punya keperluan terhadap Tuhan, maka manusia sangat membutuhkan sastra untuk mengolah proses perohanian dan pelembutan kehidupan keber-Agama-annya. Dan jika manusia berkumpul sebagai bangsa, mereka sangat butuh sastra untuk punya kemungkinan mencapai ke-beradab-an Negaranya.” —Emha Ainun Nadjib
“Sebagaimana dimafhumi, semua wacana nilai menyepakati bahwa manusia, masyarakat, Bangsa dan Negara sangat membutuhkan sastra.” —Emha Ainun Nadjib
“... kalau para pelaku Agama memerlukan istiqamah sambungan silaturahminya dengan Tuhan, maka ia memerlukan sastra.” —Emha Ainun Nadjib
“Nyawa manusia terletak pada rohaninya, sebagaimana nyawa ibadat ada pada khusyu`nya, atau nyawa rumahtangga dan keluarga ada pada cintanya, atau nyawa Negara ada pada Tanah Air yang dicintai oleh penghuninya, serta Ibu Pertiwi yang dijunjung oleh manusia-manusianya.” —Emha Ainun Nadjib
“Kalau masih ada sastra, maka masih ada manusia. Kalau masih ada manusia, kita punya harapan akan ada Negara, tidak sekadar Perusahaan yang dinegara-negarakan, serta Pasar yang didemokrasi-demokrasikan. Kalau suatu saat terbangun Negara, maka akan terpilih juga Pengelola Negara yang memahami rakyatnya sebagai manusia.” —Emha Ainun Nadjib
“Hadapilah dan rumuskan pernyataan Tuhan itu dengan ilmu, lantas rasakan dan selamilah secara sastra, kemudian bandingkan hasil di antara keduanya.” —Emha Ainun Nadjib
“... jarak antara Tuhan dengan manusia bukan terbentang jarak materi, bukan jarak ilmu, melainkan jarak sastra.” —Emha Ainun Nadjib
“Sebenarnya tak ada pengarang yang tidak memasukkan fakta ke ceritanya. Hanya, tiap-tiap pengarang punya cara dan takaran sendiri-sendiri.” —Dea Anugrah
“Dalam tempayan-tempayan fiksi, khayalan dan fakta semestinya tak jadi minyak dan air. Keduanya harus berpadu menjadi sesuatu yang bukan sekadar fakta sekaligus bukan semata khayalan.” —Dea Anugrah
“Aku mempelajari ritme dan ketepatan dari penulisan puisi, dan mempelajari cara menyampaikan pikiran secara runtut dari penulisan prosa.” —Dea Anugrah
“Yang kusadari, aku lebih banyak bertanya dalam puisi dan lebih banyak menilai dalam prosa.” —Dea Anugrah
“Yang kutahu, setiap penulis pasti dibentuk oleh sejarah membacanya.” —Dea Anugrah
“Aku senang membaca dan kupikir membaca lebih penting ketimbang menulis.” —Dea Anugrah
“Penyair yang menyekatkan perhatian pada diri sendiri hanya menghasilkan sedu-sedan dan keluh-kesah, bukan sajak yang cukup berarti.” —Subagio Sastrowardoyo
“... dalam membentuk pengetahuan baru, manusia dibantu oleh pengetahuan terdahulu.” —Muhammad Baqir al-Sadr (1959)
“Kamu tidak harus memiliki trauma untuk menjadi seorang penulis. Yang perlu kamu miliki adalah perspektif.” —Amy Tan
“Jika kamu memiliki tujuan yang serius, yaitu memahami diri sendiri, sifat manusia, dunia, dan konflik yang membuat kita sangat menarik, kamu akan menemukan cerita yang ingin kamu ceritakan.” —Amy Tan
“Kalau mau terus maju dan sukses, perkuat imajinasi. Hindari halusinasi. Karena halusinasi adalah tugas tukang bubur.” —Fahd Pahdepie
“Sajak cinta–juga sajak apapun sesungguhnya–akan menjadi syair yang akan mewaktu, berusia lebih panjang dari usia percintaan itu sendiri, seperti bait sajak Rendra yang kami kutip di awal pengantar ini.” —Dedy Tri Riyadi
“The journal is not so much a way of diarizing one’s life, but a portable studio, a place where you can hang out, with your imagination, your intuition, your inspiration.” —Berensohn
“Each thought that is welcomed and recorded is a nest egg, by the side of which more will be laid. Thoughts accidentally thrown together become a frame in which more may be developed and exhibited… Having by chance recorded a few disconnected thoughts and brought them into juxtaposition, they suggest a whole new field in which it was possible to labor and to think. Thought begat thought.” —Thoreau
“Darwin followed suit, keeping current his own set of papers: his field notebooks, in which he recorded his immediate observations, often in the form of drawings and sketches; his scientific journal, which combined observations from his field notebooks with more integrative and theoretical musings; and his personal diary. Even when Darwin disembarked from the ship for a time, traveling by land through South America, he endeavored to maintain the nautical custom of noting down every incident, every striking sight he encountered.” —Annie Murphy Paul
“Let the collector's motto be, 'Trust nothing to the memory;' for the memory becomes a fickle guardian when one interesting object is succeeded by another still more interesting.” —Charles Darwin
“[A naturalist] ought to acquire the habit of writing very copious notes, not all for publication, but as a guide for himself. He ought to remember Bacon's aphorism, that Reading maketh a full man, conference a ready man, and writing an exact man; and no follower of science has greater need of taking precautions to attain accuracy; for the imagination is apt to run riot when dealing with masses of vast dimensions and with time during almost infinity.” —Charles Darwin
“Entrepreneur is a mindset first, a skill set, and rules.” —Robert Kiyosaki
“Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut kepada hal-hal kecil dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepadaNya, yang lain-lain menjadi kecil adanya.” —Emha Ainun Nadjib
“Ingatlah bahwa tak seorang tukang bakso pun pernah takut menjadi tukang bakso. Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding tukang bakso? Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua.” —Emha Ainun Nadjib
“'Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari,' Pak Ustadz melanjutkan, 'karena kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajat rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat… Masya Allah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah!'” —Emha Ainun Nadjib
“Bahkan pada titik tertentu, Eliot menjelaskan bahwa penyair harus “mendistorsi” bahasa demi menghasilkan makna, bahkan jika alam ini saling terbentuk melalui pola koherensi, maka sebagian besar tugas penyair ada pada penggunaan bahasa yang lebih tepat dalam memberikan definisi alternatif tentang realitas.” —Wawan Kurniawan
“Setiap masa tentu berpeluang menawarkan hal-hal baru dan menggemberikan, namun dari para pendahulu, seperti halnya yang disampaikan Eliot pada banyak kesempatan, akan menjadi ruang belajar yang sangat baik bagi seorang penyair. Sampai seorang penyair mampu memberikan rekam atas kondisi zamannya melalui daya ungkap yang khas.” —Wawan Kurniawan
“Menjadi penyair barangkali tampak seperti sebuah pertarungan yang kemungkinan berpeluang menyediakan kekalahan dibandingkan dengan kemenangan itu sendiri. Namun, bukankah hidup seperti itu yang menyenangkan?” —Wawan Kurniawan
“Saya pada akhirnya berpikir, bahwa puisi bukanlah sekadar perasaan belaka. Puisi menyimpan kerja-kerja akal, pikiran yang mendalam dan tidak hanya berpusat pada perasaan.” —Wawan Kurniawan
“... saya belajar dari Sully bahwa puisi menjadi sebuah upaya yang tidak mudah untuk menghubungkan antara perasaan dan pikiran. Dua hal yang kadang bertentangan dan di dalam puisi, mereka berdua melebur untuk mengungkapkan atau menyampaikan hal-hal secara tulus dari apa yang seorang penyair miliki.” —Wawan Kurniawan
“Tapi dalam perjalanan saya menulis, puisi tampak hadir sebagai lintasan yang mengarahkan kita pada penemuan diri yang sebenarnya.” —Wawan Kurniawan
“Barangkali puisi melemparkan tali kepada saya, yang tengah berusaha lepas dari dunia yang ingin menenggelamkan pikiran dan perasaan saya secara bersamaan.” —Wawan Kurniawan
“Sebab orang-orang yang berada di puncak kesuksesan tidak hanya berlatih keras atau lebih keras dari orang lain. Mereka berlatih sangat jauh lebih keras.” —Apprentice
Tahun 2025
“Dari pengalaman gua & banyak riset di luar sana, mengubah habit memang dimulai dari self-awareness. Mengakui adanya habit buruk sehingga secara ‘sadar’ kita bisa mengambil pilihan ke arah habit baik.” —Fellexandro Ruby
“Nyatanya, pikiran bawah sadar mengendalikan lebih dari 90% keseharian kita. Ada satu journal yang dipublish oleh Cambridge di 2015 dan bikin pemahaman conscious (sadar) vs. unsconscious (bawah sadar) ini lebih mudah dipahami. Namanya, Passive Frame Theory.” —Fellexandro Ruby
“Makanya penting belajar mindfulness, untuk bisa jeda sesaat, mengambil alih ‘kesadaran’, lalu kita jadi bisa mengambil pilihan habit yang lebih bijak.” —Fellexandro Ruby
“Ketika kita bisa memproses emosi negatif di kejadian ini menjadi netral, perubahan mulai terjadi. Habit buruk ini mulai lepas, dan klien memulai habit yang lebih baik.” —Fellexandro Ruby
“Salah satu bagian paling menjengkelkan semenjak saya menjadi seorang penulis adalah, ide-ide tulisan seringkali datang di waktu yang tidak tepat.” —Reza Cahya kamila
“Untuk bisa mendapatkan pembaca, saya harus mencari, membangun, dan menemukan. Dan untuk bisa ditemukan, saya harus memberitahu.” —Reza Cahya kamila
“Seorang pembaca akan rela mengeluarkan uangnya untuk membeli karya seorang penulis, jika si pembaca tersebut percaya bahwa karya penulis itu bernilai.” —Reza Cahya kamila
“Ada banyak andil dari buku-buku yang saya baca dalam mengubah hidup saya menjadi lebih baik. Salah satu cara paling mudah untuk mengubah seseorang, adalah dengan menulis.” —Reza Cahya kamila
“Semua orang mungkin bisa menulis, tetapi tidak semua orang mampu menjadi penulis.” —Reza Cahya kamila
“Kemampuan untuk bisa konsistensi menulis itu tidak dibangun dalam satu dua hari, tetapi dari usaha kecil yang terus diupayakan semampu kita.” —Reza Cahya kamila
“Salah satu tantangan tersulit bagi seorang penulis untuk bisa konsisten menulis setiap hari adalah mencari ide.” —Reza Cahya kamila
“... isi buku tersebut adalah kumpulan tulisan yang telah ditulis sejak lama, yang memiliki tema yang sama, lalu disatukan menjadi sebuah buku.” —Reza Cahya kamila
“Cara ini sepertinya banyak diambil oleh para penulis, termasuk Kurniawan Gunadi. Mereka tinggal menulis secara konsisten setiap hari, dengan tema yang beragam. Setelah dirasa kumpulan tulisan tersebut cukup untuk sebuah buku, mereka tinggal menyerahkannya ke penerbit.” —Reza Cahya kamila
“Buku Semua Lelah yang Perlu Kita Rasakan Saat Dewasa yang diterbitkan Buku Mojok ini adalah gabungan tulisan yang saya terbitkan di Tumblr, yang memuat satu tema yang sama, yaitu pengalaman dan pelajaran yang saya ambil selama menginjak usia dewasa.” —Reza Cahya kamila
“Bahkan dengan bersikap rasional kita dapat membuat keputusan atau mengambil tindakan berdasarkan analisis yang matang, logika yang baik, dan penalaran yang baik dibandingkan apabila kita dipengaruhi oleh emosi maupun opini subjektif.” —Apprentice
“... menulis bebas itu harus 'gila.'” —Bagus Ramadhan
“Every hour you spend inching through a boring book is an hour you could’ve spent plowing through a brilliant one.” —Austin Kleon
“A pile of books is nothing to be ashamed of. It says, 'No matter what, at least we have more books to read.'” —Austin Kleon
“I believe that the first step towards becoming a writer is becoming a reader, but the next step is becoming a reader with a pencil.” —Austin Kleon
“There’s a way of reading that is like writing. You feel in collaboration… You have a pen in your hand, you’re going along in a way that’s, like, half creating it as you go. And you’re also strip-mining it for anything you can use… you’re sifting for what could be gold.” —Patricia Lockwood
“I love this idea of marginalia as a way to turn a book into a medium for conversation — a kind of literary note-passing.” —Austin Kleon
“In composition studies, a collage is a discontinuous essay form made up of discrete bits of discourse—description, dialogue, narrative, explanation, and the like. A collage essay (also known as a patchwork essay, a discontinuous essay, and segmented writing) generally forgoes conventional transitions, leaving it up to the reader to locate or impose connections between the fragmented observations.” —Richard Nordquist
“Jadi, sepanjang tur gua ngumpulin premis. Ngumpulin dengan cara apa? Sebelum tidur gua nyatet satu kalimat yang paling berkesan buat gua hari ini.” —Raditya Dika
“Contoh kalimat ... Januari tanggal 18, haji bolot cerita ke gua umurnya 83 tahun, tapi gua ngelihat dia masih semangat kerja. Udah, gitu doang. Apa gua bikin premis soal betapa malunya gua umur segini udah mikirin pengin selesai; kenapa, ya, ada orang yang kerja sampai 83, kan jadi presmis, tuh; bakal sekocak apa, ya, gua umur 83, kan, bisa.” —Raditya Dika
“Contoh kalimat ... Januari tanggal 18, haji bolot cerita ke gua umurnya 83 tahun, tapi gua ngelihat dia masih semangat kerja. Udah, gitu doang. Apa gua bikin premis soal betapa malunya gua umur segini udah mikirin pengin selesai; kenapa, ya, ada orang yang kerja sampai 83, kan jadi presmis, tuh; bakal sekocak apa, ya, gua umur 83, kan, bisa.” —Raditya Dika
“Gua belajar menemukan keindahan dalam hal sehari-hari aja, sih.” —Hindia (Baskara Putra)
“Trinitas gue: tiga yang paling gue suka dalam menulis lirik itu mas Cholil, Tulus, sama Jimi Multhazam. Kalau gue mau belajar nulis sesuatu yang ringan tapi efektif itu gue melihat Tulus, kalau gue mau melihat cara belajar menulis yang aktual kayak baca berita dan tegas itu ke mas Cholil, kalau gue pengin belajar bermain dengan bahasa gue melihat bang Jimi Multhazam.” —Hindia (Baskara Putra)
“Dalam penulisan, apa pun yang gue denger pasti memberikan influence ke gua.” —Hindia (Baskara Putra)
“Gua ada trik tiap kali mau ngerilis sesuatu yang baru. Gua berkali-kali bikin playlist entah di apple music, spotify, atau di YouTube. Jadi, kayak bikin moodboard pakai pinterest, tapi playlist lagu-lagu gitu. Masukin 30 (lagu), dengerin dua minggu: oh, yang ini nggak cocok. Gua keluarin empat, masukin dua lagi. Jadi, lama-lama kayak dapat 10—15 lagu terakhir yang kayak gue tahu: oh, ini sound yang mau gue kejar buat rilisan habis ini.” —Hindia (Baskara Putra)
“Gua selalu menganggap lagu pertama dalam sebuah rilisan itu sakral. Kalimat pertama itu ngebuka keseluruhan rangkaian karyanya.” —Hindia (Baskara Putra)
“Kemarahan itu nggak harus selalu diutarakan dengan distorsi atau dengan berteriak, sebenarnya. Ada momen-momen pas gue masih tinggal di rumah bokap-nyokap gue dari kecil sampai gede, di mana gue lebih takut sama orang tua gue pas mereka diam dan nggak mau ngomong dibandingin mereka pas marah.” —Hindia (Baskara Putra)
“Amateur is a word that’s kind of a pejorative, but the original meaning of the word ‘amateur’ is ‘lover of.” —Austin Kleon
“So being an amateur at something just means that you’re more interested in doing it for the love of the thing rather than the making money of the thing.” —Austin Kleon
“If I had to boil down my message for everyone, it’s just to find a time and a place every day and go there and see what happens.” —Austin Kleon
“But for me, just going through the motions is actually a way that I enter into the work. I just pick up a pen and literally doodle, or if I write the date at the top of the page in my diary, there’s something about actually using my hand to make marks on a page that tells my brain, ‘Hey, it is time to get going here. It is time to get to work.’” —Austin Kleon
“I think that one of the things that people really misunderstand about creative work is they think that you have to have an idea before you start working, whether you’re playing a guitar or drawing on a piece of paper or kneading clay or something. But I’ve actually found that it’s in the work, and the manipulation of your materials, and simply going through the motions, that’s when the ideas happen.” —Austin Kleon
“I love to procrastinate, but the way I procrastinate is that I procrastinate on something I should be doing with something else I should probably be doing that just seems more fun.” —Austin Kleon
“Reading is one of the ways I procrastinate from writing. The funny thing about reading is that you almost always come up with an idea for writing when you’re reading.” —Austin Kleon
“I would make a drawing for my son, and he would make a drawing for me, and we’d have a little drawing exchange. And it felt like some of the most pure, artistic moments that we had together, that we were making something just so it existed for the other person.” —Austin Kleon
“Tanam satu kebaikan dalam hidup setiap orang yang kamu kenal!” —Fahd Pahdepie, Muda Berdaya Karya Raya, hlm. 169
“The new heroin addiction is connectivity. The only solution is not one that most people want to face, which is to become lovers of solitude and silence… I love to spend time alone in my room, and in my ideal world the first hour of every day would be in bed, writing down thoughts, harvesting dreams, before anyone phones or you have any internet access.” —V. Vale
“I’m a big quote collector and during the pandemic, I made a zine full of quotes called Angry and Curious, which included a quote by Henry Rollins: ‘I am angry and curious. These two things propel me forward.’” —Austin Kleon
“Creativity is not magic. Creativity is for everyone.” —Austin Kleon
“Because if you don’t start to make some money, you’ll give up.” —Maya Sayvanova
“Like most people, I am a product of my mentors.” —Ryan Holiday
Film animasi Jumbo, kata Rian Adriandy sebagai sutradara dan penulis skenarionya, sudah dibocorkan rencana produksinya sejak 2021 sebelum rilis pada 31 Maret 2025 lalu. Dia merujuk cara pemasaran yang dibahas dalam buku Austin Kleon berjudul Show Your Work.
“Pada dasarnya, fenomenologi mempelajari struktur berbagai jenis pengalaman mulai dari persepsi, pikiran, ingatan, imajinasi, emosi, hasrat, dan kemauan hingga kesadaran jasmani, tindakan yang diwujudkan, dan aktivitas sosial, termasuk aktivitas linguistik.” —David Woodruff Smith
“Struktur bentuk-bentuk pengalaman ini biasanya melibatkan apa yang disebut Husserl sebagai 'intensionalitas', yaitu, keterarahan pengalaman terhadap berbagai hal di dunia, sifat kesadaran bahwa ia merupakan kesadaran akan atau tentang sesuatu.” —David Woodruff Smith
“Menurut fenomenologi Husserlian klasik, pengalaman kita diarahkan ke—mewakili atau 'menargetkan'—sesuatu hanya melalui konsep, pikiran, ide, gambar, dll. tertentu. Semua ini membentuk makna atau isi dari suatu pengalaman tertentu, dan berbeda dari hal-hal yang mereka hadirkan atau maksudkan.” —David Woodruff Smith
“Fenomenologi mempelajari struktur pengalaman sadar sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama, beserta kondisi pengalaman yang relevan. Struktur utama suatu pengalaman adalah intensionalitasnya, cara pengalaman tersebut diarahkan melalui konten atau maknanya terhadap objek tertentu di dunia.” —David Woodruff Smith
“Pengalaman tidak hanya mencakup pengalaman yang relatif pasif seperti penglihatan atau pendengaran, tetapi juga pengalaman aktif seperti berjalan atau memaku paku atau menendang bola. (Rentang ini akan spesifik untuk setiap spesies makhluk yang menikmati kesadaran; fokus kita adalah pada pengalaman kita sendiri, sebagai manusia. Tidak semua makhluk sadar akan, atau akan mampu, mempraktikkan fenomenologi, seperti yang kita lakukan.)” —David Woodruff Smith
“Pengalaman sadar memiliki ciri yang unik: kita mengalaminya , kita menjalaninya atau melakukannya. Hal-hal lain di dunia ini mungkin kita amati dan libatkan. Namun, kita tidak mengalaminya, dalam arti menjalaninya atau melakukannya.” —David Woodruff Smith
“Bagaimana kita mempelajari pengalaman sadar? Kita merenungkan berbagai jenis pengalaman sebagaimana kita mengalaminya. Artinya, kita melanjutkan dari sudut pandang orang pertama. Akan tetapi, kita biasanya tidak mengkarakterisasikan suatu pengalaman pada saat kita melakukannya.” —David Woodruff Smith
“Fenomenologis klasik mempraktikkan tiga metode yang dapat dibedakan. (1) Kami menggambarkan jenis pengalaman sebagaimana kami menemukannya dalam pengalaman kami sendiri (masa lalu). Jadi, Husserl dan Merleau-Ponty berbicara tentang deskripsi murni dari pengalaman hidup. (2) Kami menafsirkan jenis pengalaman dengan mengaitkannya dengan fitur konteks yang relevan. Dalam hal ini, Heidegger dan para pengikutnya berbicara tentang hermeneutika, seni penafsiran dalam konteks, khususnya konteks sosial dan linguistik. (3) Kami menganalisis bentuk jenis pengalaman. Pada akhirnya, semua fenomenologis klasik mempraktikkan analisis pengalaman, dengan menyingkirkan fitur-fitur penting untuk elaborasi lebih lanjut.” —David Woodruff Smith
“Cormac McCarthy mengatakan kepada seorang pewawancara untuk Majalah New York Times bahwa 'buku terbuat dari buku,' tetapi dia terkenal enggan membahas bagaimana tulisannya sendiri diambil dari karya penulis lain.” —Michael Lynn Crews
“Cormac McCarthy mengatakan kepada seorang pewawancara untuk Majalah New York Times bahwa 'buku terbuat dari buku,' tetapi dia terkenal enggan membahas bagaimana tulisannya sendiri diambil dari karya penulis lain.” —Michael Lynn Crews
“Eksplorasi inovatif terhadap pengaruh sastra McCarthy ini—yang mustahil dilakukan sebelum arsip dibuka—sangat memperluas pemahaman kita tentang bagaimana salah satu penulis terkemuka Amerika telah terlibat dengan ide, gambar, metafora, dan bahasa pemikir lain dan menjadikannya miliknya sendiri.” —Michael Lynn Crews
“Itulah tugas penyair, yaitu menterjemah (huruf “t” pada awal kata saya kira sengaja tidak diluluhkan Subagio sebagai penegasan makna kata “terjemah”) apa yang tak terucap, mengungkap rahasia hidup dengan memberdayakan kata, menggerakkan fungsi bahasa, agar kehidupan bisa terjaga.” —Rendra (1974)
“Puisi adalah sumbangan, nafkah atau balas jasa manusia penyair kepada bahasa.” —Hasan Aspahani
“Menulis puisi berarti menggunakan bahasa dengan kesadaran yang lebih, menaikkan pemakaian bahasa ke tingkat yang lebih tinggi, ke tingkat puisi. Dengan citraan, salah satu perangkat puitika, di mana kata-kata dengan intens diolah, dengan memadukannya atau karena pemakaiannya bisa menghadirkan perangkat lain, memungkinkan penyair menciptakan kebaruan-kebaruan dalam bahasa. Terus-menerus, sampai pada batas, yang itupun berusaha ia lampaui.” —Hasan Aspahani
“Menulis puisi adalah ikhtiar mendobrak, melampaui, meruntuhkan batas-batas, kurungan, jeratan atau kungkungan dalam kehidupan, apa yang tak bisa dilakukan dengan ikhtiar lain. Untuk kemudian menyadari bahwa upaya itu pun akhirnya membangun kekangan lain, dinding yang hanya akan bisa ditembus lagi nanti seiring waktu. Begitulah memang, ada semacam absurditas takdir Sisifus juga di sini.” —Hasan Aspahani
“Toh, para penyair kita menikmati ketegangan itu. Ia gigih bertahan, menjalani misi kepenyairannya, seperti menjalankan peran seorang nabi – satu sisi dari sekeping mata uang seorang sosok penyair – selain peran kontras lainnya yaitu bermain atau mempermainkan bahasa seperti seorang anak-anak.” —Hasan Aspahani
“Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal; tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, hanya peduli tentang apa yang benar dan mendesak dan penting.” —Mark Manson, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
“Masalah tidak akan pernah berhenti; mereka hanya berganti bentuk atau naik level.” —Mark Manson, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat
“Quotes are a great way to get a burst of inspiration.” —Lucy King
“As a writer, I like to create my own mantras. And yet, I will use a quote when someone has said exactly what I am trying to express.” —Lucy King
“Sometimes it arrives in the middle of the night when you have to get up at 6am for work the next day.” —Lucy King
“Creativity is not something you can turn on and off like a tap.” —Lucy King
“After all, creativity is about showing up. It’s about putting in work regardless of your mood, outside factors or obstacles.” —Lucy King
“Over the past few years, I’ve turned my chaotic thoughts into clear ideas and slashed my stress levels — all by mastering note-taking.” —Josh Spilker
“It wasn’t always easy, but I discovered that with intention and creativity, note-taking could add a dose of clarity to otherwise chaotic situations.” —Josh Spilker
“Kartunis Lynda Barry mungkin adalah orang yang paling berpengaruh bagi saya, dan salah satu pelajaran hebatnya adalah, 'Di era digital, jangan lupa untuk menggunakan jari-jari Anda.'” —Austin Kleon
“Jika Anda melihat buku-buku saya, semua judulnya ditulis tangan dan ilustrasinya digambar tangan. Jika Anda melihat buletin saya, semua karya seni yang Anda lihat dibuat oleh kedua tangan saya sendiri.” —Austin Kleon
“Saya pikir jika Anda seorang penulis, setiap kali Anda membuka halaman, Anda sedang menanam benih. Perlu waktu untuk mengetahui apakah kata-kata Anda akan tumbuh menjadi sesuatu yang bermakna. Banyak benih yang tidak berakar, tetapi beberapa benih, jika Anda memberinya tanah dan air yang tepat, akan tumbuh menjadi bunga yang indah. Benih ditanam di buku catatan saya, saya menumbuhkannya menjadi buletin atau esai, lalu saya mengumpulkan bunga-bunga itu dan menatanya menjadi karangan bunga seperti buku.” —Austin Kleon
“Saya orangnya suka kebiasaan, agak suka menimbun, dan saya punya 3-4 buku catatan sekaligus (buku harian [diary], buku catatan harian [logbook], buku catatan harian [commonplace book], dan buku catatan saku [pocket notebook]) yang masing-masing punya merek sendiri yang suka saya gunakan.” —Austin Kleon
“Pembuat film, David Lynch, mengklaim dia telah kehilangan dua atau tiga ide besar, 'Tuliskan idemu dan berkata baiklah: saya tidak akan pernah melupakan ide ini.'” —Kirby Ferguson
“Memori jangka pendek Anda memang sangat pendek sekitar 15 hingga 30 detik. Jadi, ketika ide itu datang—waktu terus berjalan—ulangi pada diri Anda, simpan dalam pikiran Anda, dan kemudian tuliskan—pastikan Anda memberikan detail yang cukup sehingga Anda dapat mengingat ide lengkapnya nanti —.” —Kirby Ferguson
“Semuanya adalah remix dan ini adalah cara yang lebih baik untuk memahami kreativitas.” —Kirby Ferguson
“Seorang seniman yang benar-benar hebat sering kali membutuhkan sikap seorang sarjana. Ia harus bersedia menggali masa lalu dan menyelaminya lebih dalam.” —Austin Kleon
“Saya teringat pada motto saya sendiri: 'Tidak masalah apakah buku itu bagus sekarang, buku itu hanya perlu ada.'” —Austin Kleon
“Hampir semua tulisan yang bagus dimulai dengan usaha awal yang buruk. Anda perlu memulai dari suatu tempat. Mulailah dengan menuangkan sesuatu—apa saja—di atas kertas. Seorang teman saya mengatakan bahwa draf pertama adalah draf awal—Anda langsung menuangkannya. Draf kedua adalah draf awal—Anda memperbaikinya. Anda mencoba menyampaikan apa yang ingin Anda sampaikan dengan lebih akurat. Dan draf ketiga adalah draf gigi, di mana Anda memeriksa setiap gigi, untuk melihat apakah gigi tersebut tanggal atau kram atau rusak, atau bahkan, Tuhan tolong kami, sehat.” —Anne Lamott, Bird By Bird
“Ini adalah cara termurah dan paling efektif untuk menghasilkan ide. Cara paling mudah untuk mengatasi hambatan. Dan ketika Anda membuat jurnal, ide muncul dengan mudah tanpa tekanan untuk memaksakan kreativitas.” —Victoria Muggridge
“Menulis jurnal adalah meditasi dalam gerakan. Sebuah pelepasan alam bawah sadar. Sebuah cara untuk membuang beban sehingga saya dapat melangkah maju.” —Victoria Muggridge
“Menulis jurnal adalah sumber ide-ide terbaik saya. Di situlah saya mengolah sebelum mengemas. Menyempurnakan sebelum menerbitkan. Itulah cara saya tetap unggul. Karena saya tidak duduk diam menunggu kejelasan.” —Victoria Muggridge
“Di sinilah konten saya lahir. Tulisan saya meningkat. Kreativitas saya tumbuh. Tanpa jurnal, saya tidak akan punya bisnis. Saya tidak akan punya suara. Saya tidak akan punya kejelasan untuk tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.” —Victoria Muggridge
“Tiga cara untuk mengubah jurnal Anda menjadi bisnis menulis yang berkembang pesat: (1) tinjau jurnal Anda untuk mendapatkan ide konten, (2) gunakan jurnal untuk mengatasi hambatan menulis, dan (3) biarkan jurnal Anda mengungkapkan penawaran yang ingin Anda buat.” —Victoria Muggridge
“Apa yang menonjol? Inilah yang ingin Anda bagikan.” —Victoria Muggridge
“Konten terbaik Anda tidak berasal dari pemaksaan kata-kata. Konten terbaik berasal dari ketenangan dan pengamatan terhadap pikiran Anda sendiri.” —Victoria Muggridge
“Semakin banyak saya menulis tentang Tuhan, semakin dalam iman saya tumbuh. Semakin dalam iman saya tumbuh, semakin kuat kepercayaan diri saya. Semakin kuat kepercayaan diri saya, semakin tinggi kualitas klien yang saya tarik.Hanya dari coretan acak selama lima belas menit sehari.” —Victoria Muggridge
“Ide bisnis terbaik Anda ada di jurnal Anda. Saat Anda melihat tema yang berulang dalam tulisan Anda, tanyakan pada diri sendiri: Apakah ini masalah yang sudah saya selesaikan? Lalu, ubah menjadi sumber daya berbayar; Apakah ini akan membantu audiens saya? Jadi, ajarkan dalam buletin atau kursus; Apakah orang-orang terus bertanya kepada saya tentang hal ini? Mengapa tidak membuat produk berdasarkan hal ini?” —Victoria Muggridge
“Kebanyakan penulis tidak kesulitan menemukan ide. Mereka kesulitan melihat nilai dalam kata-kata mereka sendiri. Jurnal Anda menyimpan jawabannya. Yang penting adalah mengetahui di mana mencarinya.” —Victoria Muggridge
“Menulislah selama 15 menit sehari. Biarkan saja. Setiap hari.” —Victoria Muggridge
“Hanya pena, selembar kertas (dan sedikit keberanian) yang Anda perlukan untuk membangun bisnis menulis yang berhasil.” —Victoria Muggridge
“Menulis adalah serangkaian pilihan.” —Maya Sayvanova
“Saya berpendapat perbedaan besar antara penulis pemula dan penulis hebat adalah kesadaran mereka dalam memilih kata.” —Maya Sayvanova
“Jika Anda ingin menonjol dalam bidang ini (pengembangan diri), Anda harus bekerja keras untuk menunjukkan kemajuan Anda.” —Ron Markley
“Orang-orang tidak membutuhkan informasi Anda. Mereka butuh konfirmasi. Konfirmasi bahwa dengan mengikuti saran Anda, mereka akan mendapatkan hasil.” —Ron Markley
“Jika Anda bukan siapa-siapa dan ingin menulis buku pengembangan diri, lakukan ini. Berikut dua cetak biru yang bisa Anda curi: 1. Kurasi dan ambil tindakan: Kumpulkan ide-ide pengembangan diri dan praktikkan—di depan umum. Anda butuh bukti. Saat orang melihat kemajuan Anda dan merasa itu dapat dicapai, mereka akan mengikuti Anda. 2. Ciptakan ceruk pasar yang unik dan ambil tindakan: Ambil ide-ide pengembangan diri yang ada, berikan sentuhan Anda sendiri, lalu tunjukkan hasil Anda kepada publik.” —Ron Markley
“Berhentilah menuliskan hal-hal lama yang membosankan tentang pengembangan diri..” —Ron Markley
“Yang tidak saya sadari adalah: bahwa terobosan yang sesungguhnya terjadi ketika Anda memperlakukan menulis seperti kebiasaan, bukan kesibukan.” —Urna Gain
“Penyair adalah manusia yang memproses peristiwa dari mengalami, menyadari, menghayati, lalu memaknai.” —Hasan Aspahani
“Namun ketika kamu meluangkan waktu, kamu menghadapi kenyataan pahit bahwa kamu telah sebenarnya harus melakukannya. Dan itu menakutkan.” —Malam Arnold
1. Saya akan mempelajari keterampilan menulis yang dapat menghasilkan uang terlebih dahulu.
2. Saya akan memilih satu niche yang menguntungkan—dan melakukannya secara total.
3. Saya akan mencari tahu apa kekuatan menulis utama saya.
4. Saya akan membangun portofolio saya sendiri daripada menunggu pengalaman atau by-line
5. Saya akan menulis untuk menyelesaikan masalah, bukan hanya untuk mengekspresikan masalah.
6. Saya akan membangun pemirsa sejak hari pertama.
7. Saya tidak akan menyentuh konten berbentuk panjang.
8. Saya akan berhenti membuang-buang waktu menulis untuk editor tanpa jawaban 'ya' yang jelas.” —Hikma Mahroof
“Jika saya harus memulai dari awal lagi, saya akan belajar copywriting sebelum memikirkan cara agar tulisan saya bisa diterbitkan di mana pun.” —Hikma Mahroof
“Kamu tidak perlu 10 ceruk. Kamu perlu satu ceruk pasar yang bayarannya bagus.” —Hikma Mahroof
“Memahami keterampilan menulis unikmu memberi kamu peluang lebih baik untuk memposisikan diri dan menonjol di pasar.” —Hikma Mahroof
“Tapi kenyataannya adalah, kamu tidak perlu pengalaman untuk mulai membangun kredibilitas. Kamu membutuhkan inisiatif dan tidak ada seorang pun yang memberi kamu portofolio—kamu yang membangunnya.” —Hikma Mahroof
“Kisah kami bermakna. Namun, yang membuatnya menarik adalah bagaimana kisah tersebut membantu orang lain.” —Hikma Mahroof
“Jika saya dapat kembali ke masa lalu, saya akan tetap menulis untuk penyembuhan—tetapi saya akan menarik garis tegas antara pemrosesan pribadi dan pengembangan profesional.” —Hikma Mahroof
“Jika saya memulainya hari ini, saya akan: (1) menawarkan lead magnet (daftar periksa, panduan, templat gratis), (2) memulai buletin, dan (3) mengembangkan pembaca tersebut dengan wawasan mingguan.” —Hikma Mahroof
“Mulailah dengan apa yang berhasil: kuasai satu keterampilan yang menjual, fokus pada satu ceruk pasar yang menghasilkan keuntungan (kamu hanya memerlukan satu klien pada awalnya), dan buat portofolio dan publikasikan hasil karya sendiri.” —Hikma Mahroof
“Padahal, kesusastraan adalah suara hati dan penyelidikan kesusastraan bukan hanya pekerjaan otak, tetapi terutama pekerjaan hati, yang ikut bergetar dengan obyek penyelidikan dan sebagai penyelidikan harus mengandung serta memantulkan kembali getaran-getaran itu.” —H.B. Jassin
“Jadi, masing-masing pengarang yang sudah mapan dari yang permulaan sampai yang terakhir, maksud saya akan dibicarakan satu-satu seperti saya dulu membicarakan Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Nur Sutan Iskandar. Semua. Dan secara tuntas. Saya senang itu. Membicarakan seorang pengarang dengan hanya satu bukunya saya tak pernah puas.” —H.B. Jassin
“... membaca kembali buku harianmu akan melipatgandakan kekuatan sebuah diary karena aku jadi mampu menemukan pola-polaku sendiri, mengenali apa yang benar-benar berarti bagiku, dan memahami diriku lebih baik.” —Austin Kleon (2019:126—127)
“Jika seni dimulai dengan ke mana kita mengarahkan perhatian kita, maka kehidupan terdiri atas menaruh perhatian terhadap hal-hal yang menarik perhatian kita.” —Austin Kleon (2019:127)
“Sederhananya: Seni semestinya menjadikan hidup kita lebih baik.” —Austin Kleon (2019:138)
“Seandainya menciptakan karyamu akan merusak hidup siapa pun, termasuk hidupmu sendiri, maka karya itu tak pantas dibuat.” —Austin Kleon (2019:138)
“Kalau menciptakan karyamu malah menambah kemalangan ke dunia, tinggalkanlah dan lakukan hal lain.” —Austin Kleon (2019:138)
“Karya seni adalah untuk kehidupan, bukan sebaliknya.” —Austin Kleon (2019:139)
“Ketidakpastian adalah dasar berkembangnya seni.” —Austin Kleon (2019:144)
“Berpikir membutuhkan sebuah lingkungan tempat kamu dapat menguji berbagai macam ide dan tanpa dihakimi.” —Austin Kleon (2019:147)
“Kita memerlukan orang lain untuk membantu kita berpikir.” —Austin Kleon (2019:151)
“Baca buku-buku lama. ... hampir setiap masalah yang kamu temui telah ditulis oleh manusia lain yang hidup ratusan tahun bahkan mungkin ribuan tahun sebelum dirimu.” —Austin Kleon (2019:155)
“Kita memiliki ingatan yang sungguh pendek.” —Austin Kleon (2019:156)
“Kreativitas adalah mengenai koneksi, dan koneksi itu tidak dibuat dengan menyimpan segalanya di tempat masing-masing.” —Austin Kleon (2019:161)
“Menyamakan produktivitas dengan kreativitas adalah tindakan keliru.” —Austin Kleon (2019:162)
“Produktivitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang optimal.” —Eddy Herjanto (2007)
“Ide yang sungguh orisinal sama langkanya dengan kotoran kuda goyang.” —Pat Blakely
“1% penulis teratas tahu bahwa hampir semuanya telah dikatakan. Akan tetapi, mereka juga paham bahwa konten yang paling menarik datang dari berbagi perspektif yang unik, bukan curah pendapat mengenai ide yang sepenuhnya baru..” —Pat Blakely
“Menjadi seorang 'penulis yang lambat' bisa jadi merupakan hukuman mati dalam ekonomi konten.” —Pat Blakely
“Tujuan kebanyakan penulis adalah menghasilkan uang dari hasil karya mereka. Namun kebanyakan penulis memulainya karena mereka jatuh cinta pada seni.” —Pat Blakely
“Sekarang saya menulis untuk hidup, bukan untuk berekspresi. Saya mencapai tujuan tetapi melupakan asal usul saya.” —Pat Blakely
“Menulis untuk pembaca membuat saya stres. Karena ketika saya menulis untuk pembaca, ada tujuan. Titik data. Beberapa tujuan yang ingin dicapai—biasanya konversi.” —Pat Blakely
“Dalam dunia bisnis, pembaca bukanlah pembaca. Mereka adalah pelanggan.” —Pat Blakely
“Saya kehilangan minat menulis ketika saya berpikir bahwa seorang penulis harus mengalahkan penulis lain. Bahwa saya harus memilih antara menulis untuk keuntungan atau kedamaian.” —Pat Blakely
“... 'gerak dengan kehendak' (harakah irâdiyyah) yang dilakukan al-muharrik (si penggerak) pasti bersesuaian dengan apa yang disukainya. ... prinsip ini berlaku kekal bagi semua makhluk hidup yang bergerak.” —Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Raudhatul Muhibbîn (2011:68).
“Setiap pikiran disaring oleh hati, bukan pikiran.” —Joseph Dalton
“Kalau buahnya berupa pikiran (gagasan) maka biasanya lebih ditekankan pada akal dan penggunaan akal, tetapi alangkah lebih tepatnya lagi apabila pikiran tersebut juga dikaitkan dengan kalbu atau hati atau roh ...” —Ali Garishah, Manhajut Tafkir Al-lslami (Metode pemikiran Islam, 1994:16)
“... semua gerakan alam semesta dan seluruh isinya sebenarnya merupakan sebuah gerakan dengan kehendak (harakah irâdiyyah) yang berjalin berkelindan dengan cinta. Karena cinta dan kehendak memang merupakan landasan dan titik awal dari semua perbuatan. Dan sebuah perbuatan hanya akan terwujud ketika ia berangkat dari cinta dan kehendak.” —Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Raudhatul Muhibbîn (2011:72).
“... sebenarnya cinta dan kehendak adalah pokok pangkal
dari semua kebencian dan ketidaksukaan. Karena sesungguhnya sesuatu
yang dibenci dan tidak disukai akan menafikan keberadaan apa yang dicintai.
Sementara sebuah tindakan, ... sebenarnya
tetaplah berpulang pada keinginan agar yang dicintai tetap ada.” —Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Raudhatul Muhibbîn (2011:73).
“... hakikat cinta adalah gerakan jiwa yang mencintai terhadap yang dicintainya. Karena cinta memang gerak yang berkesinambungan.” —Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Raudhatul Muhibbîn (2011:73).
“... cinta tidaklah muncul hanya disebabkan kecantikan dan keindahan, tetapi ia tumbuh karena kecocokan jiwa dan kesamaan karakter sebagaimana dulu ia diciptakan.” —Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Raudhatul Muhibbîn (2011:158).
“... dan mengapa sebagian besar pendiri berfokus pada gejala, bukan sistem.” —Gregory D. Welch
“Jika Anda ingin menjadikan menulis sebagai profesi dan unggul di bidang tersebut, Anda harus berpegang teguh pada apa yang ingin dibaca orang dan menghasilkan uang darinya.” —Evans Okoro
“We must act out passion before we can feel it.” —Evans Okoro
“Namun, tidak ada kemuliaan dalam kelaparan, bukan? Anda harus menemukan cara untuk menyatukan keduanya agar dapat hidup dari karya seni Anda.” —Evans Okoro
“Saya jadi tahu bahwa menulis hanya demi uang (berdasarkan kebutuhan klien saya) saja, membuat Anda frustrasi. Jika Anda hanya menulis tentang apa yang Anda rasakan tanpa mempertimbangkan pembaca, tidak akan ada yang membacanya, dan Anda akan bangkrut.” —Evans Okoro
“Jika Anda dapat menggabungkan menulis demi uang dan gairah, Anda dapat meraih lebih banyak lagi.” —Evans Okoro
“Untuk unggul dalam hal apa pun, Anda harus konsisten dalam hal itu.” —Evans Okoro
“Katakanlah Anda menulis puisi atau novel, dan Anda ingin menghasilkan uang darinya, Anda harus sering membuat konten agar orang-orang mengenal Anda lebih baik. Tentu saja, ribuan publikasi dan situs web membayar penulis untuk membuat konten bagi mereka dan Anda dapat membuat buku puisi dan menjualnya secara daring. Anda tetap harus berupaya membangun audiens Anda.” —Evans Okoro
“Anda tidak boleh sepenuhnya meninggalkan dunia menulis demi uang karena Anda ingin mengejar gairah Anda. Anda butuh uang untuk membantu gairah Anda berkembang.” —Evans Okoro
“Cari tahu cara memadukan apa yang ingin Anda sampaikan dengan apa yang dibutuhkan orang, dan Anda akan mencapainya dengan lebih cepat.” —Evans Okoro
“Jadi, fokuslah pada audiens Anda karena saat Anda mulai mengeluarkan konten, konten tersebut tidak akan lagi berfokus pada Anda, melainkan audiens Anda.” —Evans Okoro
“Padahal, AI lebih menyerupai asisten magang yang pintar, tetapi belum sepenuhnya paham konteks. Di sinilah sering timbul salah paham.” —Ivan Lanin
“Padahal, menurut Jeremy, justru sebaliknya. Biarkan AI yang bertanya lebih dulu. Dengan begitu, AI memahami kebutuhan kita secara lebih akurat, seperti asisten baru yang butuh pengarahan sebelum bisa membantu dengan baik.” —Ivan Lanin
“Jadikan AI sebagai partner dialog yang memperdalam pemahaman, bukan hanya mesin jawaban.” —Ivan Lanin
“Penelitian Jeremy menunjukkan bahwa perbedaan hasil kolaborasi dengan AI bergantung pada sikap penggunanya. Mereka yang menganggap AI sebagai alat cenderung cepat puas. Sebaliknya, yang memperlakukan AI sebagai rekan kerja akan memberi umpan balik, melatih, dan memintanya memperbaiki hasil. Mereka melibatkan AI dalam proses berpikir.” —Ivan Lanin
“Jeremy juga menekankan pentingnya disiplin mencari inspirasi. Inspirasi tidak ditunggu, tetapi dilatih dan dipupuk. Makin kaya referensi, pengalaman, dan sudut pandang yang kita bawa ke dalam interaksi dengan AI, makin beragam pula keluaran yang dihasilkan.” —Ivan Lanin
“Pertanyaannya bukan bagaimana kita menggunakan AI, melainkan bagaimana kita bekerja bersama AI. Kolaborasi itulah yang membuka berbagai kemungkinan baru.” —Ivan Lanin
“The ugly fact is books are made out of books.” —Cormac McCarthy
“If you want to be a writer, you have to be a reader first.” —Austin Kleon
“Kamu tidak bisa menjadi penulis yang baik tanpa menjadi pembaca yang setia.” —JK Rowling
“Jika kamu ingin menjadi penulis, kamu harus melakukan dua hal di atas segalanya: banyak membaca dan banyak menulis. Tidak ada jalan keluar dari kedua hal ini yang saya ketahui, tidak ada jalan pintas… Jika kamu tidak punya waktu untuk membaca, kamu tidak punya waktu atau alat untuk menulis.” —Stephen King
“Menulis berasal dari membaca, dan membaca adalah guru terbaik tentang cara menulis.” —Annie Proulx
“Fakta buruknya adalah buku terbuat dari buku.” —Cormac McCarthy
“Bacalah dengan pola pikir seorang tukang kayu yang sedang melihat pepohonan.” —Terry Pratchett
“Baca, baca, baca semuanya — sampah, klasik, bagus dan buruk, dan lihat bagaimana mereka melakukannya. Sama seperti tukang kayu yang bekerja sebagai murid dan mempelajari majikannya. Baca!” —William Faulkner
“Jika kamu menjejali diri dengan puisi, esai, drama, cerita, novel, film, komik, majalah, musik, kamu akan secara otomatis meledak setiap pagi seperti Old Faithful. Saya tidak pernah mengalami masa kering dalam hidup saya, terutama karena saya memberi makan diri saya sendiri dengan baik, sampai-sampai saya meledak.” —Ray Bradbury
“Saat saya membaca, saya mencari sesuatu untuk dicuri. Pembaca selalu menanyakan pertanyaan tradisional, 'Dari mana kamu mendapatkan ide?' Saya menjawab: 'Kita semua punya ide sepanjang waktu. Namun, saya mencarinya. Kamu tidak.'” —Philip Pullman
“Membaca adalah inti sari. Membaca adalah kebahagiaan.” —Nora Ephron
“Saya merasa aneh bertemu penulis yang juga bukan pembaca setia. Saya bertemu dengan salah satu penulis di bar tempo hari dan saya menatapnya dengan aneh. Dia bilang dia tidak punya waktu. Ini mengingatkan saya bahwa pembaca mungkin adalah orang-orang saya terlebih dahulu, sebelum penulis. Penulis cenderung menjadi orang yang menyebalkan.” —Rosecrans Baldwin
“Saya tidak pernah punya keinginan untuk menjadi penulis. Saya ingin menjadi pembaca.” —Adam Phillips
“Saya tidak suka menulis. Saya suka membaca.” —William Giraldi
“Andai saja kamu ingat sebelum kamu mulai menulis bahwa kamu telah menjadi pembaca jauh lebih lama daripada saat kamu menjadi penulis. Kamu cukup mengingat fakta itu dalam pikiranmu, lalu duduk diam dan bertanya kepada diri sendiri, sebagai pembaca, karya tulis apa di dunia ini yang paling ingin kamu baca …” —JD Salinger, Seymour: An Introduction
“Jika kamu merasa ingin menulis, berbaringlah dan bacalah buku: itu akan berlalu.” —Fran Lebowitz
“Menciptakan sesuatu yang akan ‘hidup’—yang bisa mengubah dan memberikan dampak yang sama selama berpuluh-puluh tahun—menuntut tidak hanya rasa takzim terhadap karya, tetapi juga kesabaran yang sungguh-sungguh dalam prosesnya.” Ryan Holiday, Perennial Seller (2017:18)
“Seni tidak bisa diburu-buru. Seni harus dibiarkan berproses dengan sendirinya. Seni harus diberikan ruang—mustahil mendesaknya atau memperlakukannya seperti salah satu hal dalam daftar tugas kita.” Ryan Holiday, Perennial Seller (2017:21)
“We can’t do anything to change the world until capitalism crumbles. In the meantime we should all go shopping to console ourselves.” —Banksy
“Profesional pemasaran harus mengadopsi pendekatan pencitraan merek yang konsisten dan dimulai dengan budaya dan nilai-nilai inti bisnis.” —Lyle McKeany
“Desain dan gambar yang digunakan untuk menyampaikan sudut pandang perusahaan Anda membantu Anda menarik jenis pelanggan yang Anda cari.” —Lyle McKeany
“Begitu Anda memutuskan bahwa ide gila Anda dapat menjadi bisnis, maka Anda harus mulai memikirkan hal-hal ini. Misi, visi, dan nilai-nilai Anda menentukan corak budaya, pencitraan merek, dan komunikasi eksternal (misalnya posting blog, wawancara, dan siaran pers).” —Lyle McKeany
“Pemasaran adalah permainan yang sulit. Semua profesional pemasaran bersaing untuk mendapatkan waktu dan uang pelanggan dan calon pelanggan mereka. Anda biasanya hanya punya beberapa detik untuk menarik perhatian seseorang, jadi manfaatkanlah waktu itu sebaik-baiknya.” —Lyle McKeany
“Logline film itu: protagonis ingin mencapai apa, dengan cara apa, sehingga .... Namun, ....” —Yandy Laurens
“Kamu tidak dapat menciptakan nilai, jika kamu tidak berinteraksi dengan orang lain.” —Po-Shen Loh (2023)
“Saya suka kenyataan bahwa kewirausahaan adalah tentang menciptakan hal-hal baru.” —Po-Shen Loh (2023)
“Orang-orang yang akan paling sukses adalah mereka yang sangat pandai dalam menciptakan nilai.” —Po-Shen Loh (2023)
“Keberagaman juga tentang berpikir secara berbeda, tentang memandang dunia dengan cara yang berbeda.” —Kirby Ferguson (2018)
“Kunci untuk memecahkan masalah seperti ini adalah mencoba banyak taktik yang berbeda hingga akhirnya menemukan sesuatu yang berhasil.” —Kirby Ferguson (2018)
“Jadi, bagaimana kita berpikir lebih beragam? Dengan menggabungkan berbagai paradigma. Paradigma adalah cara Anda melihat dunia, itu adalah pandangan Anda.” —Kirby Ferguson (2018)
“... keberagaman itu mengandung ideologi-ideologi yang berbeda dan saling bertentangan — orang-orang dengan paradigma berbeda yang mungkin tidak akur.” —Kirby Ferguson (2018)
“Jadi, kaum liberal, konservatif, libertarian, sosialis, religius, nonreligius, semuanya menemukan cara untuk bersaing dan bekerja sama secara damai.” —Kirby Ferguson (2018)
“Keberagaman adalah kekuatan demokrasi, pasar bebas, dan platform terbuka.” —Kirby Ferguson (2018)
“Keberagaman lebih inovatif, lebih produktif, lebih adaptif, dan lebih cerdas.” —Kirby Ferguson (2018)
“Ketika Anda mencoba memecahkan masalah yang sulit dan kompleks, waspadalah terhadap pemikiran kelompok dan ruang gema. Pertimbangkan bagaimana Anda dapat menjadi lebih beragam, bagaimana Anda dapat menggabungkan paradigma dan alat yang berbeda.” —Kirby Ferguson (2018)
“Segala sesuatu adalah campuran. Setiap lagu, setiap film, setiap meme, setiap ide, setiap penemuan, setiap penemuan. Segala sesuatu yang kita ciptakan disalin, diubah, dan digabungkan dari budaya kita.” —Kirby Ferguson (2020)
“Dan seperti halnya ciptaan kita yang diremix dari dunia sekitar kita, keyakinan kita diremix dari apa yang kita tonton, baca, dan dengar.” —Kirby Ferguson (2020)
“Anda telah menyerap ide-ide baru dan ide-ide itu telah mengubah diri Anda. Ulangi proses ini berulang-ulang, dan identitas Anda dapat diubah.” —Kirby Ferguson (2020)
“Jika Anda tidak menyadari apa yang sedang terjadi, Anda bisa tertipu. Anda bisa dibohongi, Anda bisa dieksploitasi, Anda bisa menjadi umpan meriam dalam perang budaya orang lain.” —Kirby Ferguson (2020)
“Untuk tetap memahami realitas, Anda perlu menyadari cara Anda memahami media dan dunia. Memiliki kesadaran, baik itu tentang kebiasaan, emosi, atau bias Anda, memberi Anda kembali kekuatan dan memungkinkan Anda membuat pilihan yang lebih bijak.” —Kirby Ferguson (2020)
“Dan hal pertama yang perlu Anda ketahui adalah di mana pemahaman kita dimulai. Dimulai dengan pola.” —Kirby Ferguson (2020)
“Apa yang dilakukan media, semua media, adalah mengecilkan realitas jauh, jauh, jauh ke dalam ukuran yang mudah dicerna. Anda tidak bisa minum langsung dari selang pemadam kebakaran. Setiap outlet media menampilkan cerita yang menurut mereka penting dan dari pilihan ini kami menemukan pola. Vox memberi Anda satu jenis pola, Breitbart memberi Anda yang lain, PBS Newshour memberi Anda yang lain lagi. Dan ketika Anda menggunakan media sosial, Anda membuat pola itu sendiri , dengan setiap klik, dengan setiap pengikut, dengan setiap suka.” —Kirby Ferguson (2020)
“Anda kemudian mulai mendistorsi makna pola-pola ini. Anda mengubahnya menjadi cerita-cerita kecil yang membantu Anda memahami dan mengingat.” —Kirby Ferguson (2020)
“Proses penyederhanaan dan distorsi ini kemudian menghasilkan narasi utama. Ia menghasilkan ideologi. Anda berubah menjadi beberapa versi konservatif atau liberal atau libertarian atau progresif atau semakin lama, kita berubah menjadi penganut teori konspirasi.” —Kirby Ferguson (2020)
“Ideologi bagaikan program yang sedang Anda jalankan. Kita suka menyalahkan media karena memprogram kita, tetapi kita juga bertanggung jawab. Kita sendiri yang mengembangkan ideologi kita selama bertahun-tahun dan puluhan tahun, berdasarkan apa yang kita pilih untuk ditonton, dibaca, dan didengarkan.” —Kirby Ferguson (2020)
“Anda kemudian mulai mendistorsi makna pola-pola ini. Anda mengubahnya menjadi cerita-cerita kecil yang membantu Anda memahami dan mengingat.” —Kirby Ferguson (2020)
“Saya kemudian menerbitkan 'Everything is a Remix: Reality' yang menggunakan paradigma copy-transform-combine untuk menjelaskan bagaimana kita memahami dunia dan media.” —Kirby Ferguson (2020)
“Remix. Menyalin, mengubah, dan menggabungkan materi yang sudah ada untuk menghasilkan sesuatu yang baru.” —Kirby Ferguson (2021)
“Tik Tok sedang melakukan remix. Anda melakukan gerakan tari versi Anda sendiri.” —Kirby Ferguson (2021)
“Meme adalah hasil racikan. Anda mengambil foto, Anda menggunakannya kembali, lalu orang lain mencobanya, lalu banyak orang mencoba kombinasi, termasuk racikan meme lain.” —Kirby Ferguson (2021)
“Ketika Anda mengambil sesuatu yang lama dan menggunakannya dalam sesuatu yang baru, itulah yang disebut remixing.” —Kirby Ferguson (2021)
“Remixing memungkinkan kita membuat musik tanpa memainkan alat musik, membuat perangkat lunak tanpa coding, menciptakan ide-ide yang lebih besar dan lebih kompleks dari ide-ide yang lebih kecil dan lebih sederhana.” —Kirby Ferguson (2021)
“Anda tidak memerlukan peralatan mahal untuk melakukan remix, Anda tidak memerlukan distributor, Anda bahkan tidak memerlukan keterampilan atau... pertimbangan yang baik. Semua orang dapat melakukan remix dan semua orang melakukannya.” —Kirby Ferguson (2021)
“Dari lagu, film, dan meme, hingga teknologi yang mengubah hidup kita, hingga cara kita memahami realitas, hingga evolusi kehidupan itu sendiri… semuanya pasti merupakan sebuah remix.” —Kirby Ferguson (2021)
“Namun salah satu contoh paling terkenal dan paling tidak dikenali dalam musik pop adalah "One More Time" milik Daft Punk, yang memotong lagu Eddie Johns. Pertama, tiga bagian dipisahkan. Kemudian lagu diperlambat. Bagian kedua kemudian diulang tiga kali, kemudian bagian pertama dimainkan sekali, urutan kecil ini diulang dua kali lagi, kemudian bagian ketiga diulang tujuh setengah kali, kemudian bagian pertama dimainkan — . Seluruh urutan ini diulang sepanjang lagu. Lagu Eddie Johns menjadi lagu Daft Punk hanya dengan memotongnya, meregangkannya, dan mengatur ulang bagian-bagiannya.” —Kirby Ferguson (2021)
“Dahulu jarang bagi musisi untuk mengakui bahwa mereka meniru, tetapi kini hal itu telah menjadi umum. Seperti Dave Grohl yang berbicara terbuka tentang penjiplakan ketukan dari band disko saat ia menjadi drummer Nirvana.” —Kirby Ferguson (2021)
“Dan ketika kontroversi muncul atas lagu Olivia Rodrigo 'Brutal' yang mungkin meniru riff Elvis Costello, Costello mengatakan hal itu tidak apa-apa dan dia juga melakukannya. 'Begitulah cara rock and roll bekerja. Anda mengambil pecahan-pecahan sensasi lain dan membuat mainan baru.'” —Kirby Ferguson (2021)
“Musisi dan DJ Questlove mengatakan bahwa '... DNA setiap lagu terletak pada lagu lainnya. Semua ide kreatif berasal dari ide lainnya.'” —Kirby Ferguson (2021)
“Bagian besar dari apa yang brilian tentang Kanye West… adalah orang-orang yang ia salurkan. Dan ini jelas tidak menciptakan karya yang kurang kreatif. Ini menciptakan karya yang *lebih* kreatif.'” —Kirby Ferguson (2021)
“Pilihlah area untuk menyelaminya. Buatlah sekecil mungkin, tetapi jangan terlalu kecil.” —Kirby Ferguson (2021)
“Baca artikel, baca buku, dengarkan podcast, bicara dengan orang lain, coba hal baru, dapatkan pengalaman. Ini bukan hanya tentang pembelajaran pasif. Keluarlah dan nikmati dunia nyata.” —Kirby Ferguson (2021)
“Tinjau kembali apa yang Anda pelajari dan pahami maknanya. Buat hubungan, petakan, ubah menjadi cerita. Jangan hanya menumpuk informasi, Anda perlu mengolahnya, menyempurnakannya, memeliharanya, mencabutinya. Anggap saja seperti taman. Anda harus merawatnya agar apa pun dapat tumbuh.” —Kirby Ferguson (2021)
“... teknik pembangkitan ide yang belum banyak diketahui yang baru saja saya temukan. Teknik ini dibuat oleh desainer Will Chau dan ia menyebutnya Metode 1 + 1 = 3.” —Kirby Ferguson (2021)
“Pertama-tama, perlu disangkal: tidak ada rumus yang dapat diandalkan untuk kreativitas. Kreativitas adalah tindakan yang secara alamiah misterius. Itu seperti kotak hitam. Namun, ini tidak berarti Anda tidak dapat menggunakan beberapa alat. Sering kali alat-alat itu tidak akan berfungsi, tetapi terkadang akan berfungsi dan di situlah alat-alat itu bekerja.” —Kirby Ferguson (2021)
“Ciri umum inovasi adalah bahwa inovasi menemukan hubungan yang tidak dapat dilihat orang lain.” —Kirby Ferguson (2021)
“Chau menggunakan Banksy sebagai contoh seniman yang berfokus pada hubungan yang tidak biasa, seperti seniman anarkis yang melemparkan karangan bunga.” —Kirby Ferguson (2021)
“Metode Chau berfokus pada elemen ini, yaitu hubungan yang tak terlihat. Berikut adalah empat langkah secara singkat, lalu saya akan mengilustrasikannya dengan sebuah contoh.
1) DEFINISI MASALAH
Sederhana saja: apa masalah yang ingin Anda selesaikan? Dan ya, itu memang masalah. Jika menurut Anda bukan masalah, temukan masalahnya.
2) MENENTUKAN KETEGANGAN
Di sinilah kita mulai menemukan hubungan yang aneh. Cari elemen-elemen yang tidak cocok, yang tampak berlawanan. Temukan dua elemen yang kontras dan pisahkan.
3) DAFTARKAN ASOSIASI
Ini adalah curahan pikiran. Buat daftar kata-kata dan ide-ide yang terkait dengan dua elemen yang kontras ini. Tidak ada yang salah, silakan tulis apa pun yang terlintas dalam pikiran.
4) HUBUNGKAN TITIK-TITIK
Dari dua daftar yang baru Anda buat, hubungkan satu item dari satu daftar ke item di daftar lainnya.” —Kirby Ferguson (2021)
“Chau menggunakan Banksy sebagai contoh seniman yang berfokus pada hubungan yang tidak biasa, seperti seniman anarkis yang melemparkan karangan bunga.” —Kirby Ferguson (2021)
“Chau menggunakan Banksy sebagai contoh seniman yang berfokus pada hubungan yang tidak biasa, seperti seniman anarkis yang melemparkan karangan bunga.” —Kirby Ferguson (2021)
“Creativity isn’t about invention. It’s about connection.” —Will Chau (2016)
“When you combine two unrelated things, you get a third thing—something unexpected and new.” —Will Chau (2016)
“Great ideas don’t live in silos. They happen at the intersection.” —Will Chau (2016)
“Take something you know, and mix it with something you don’t. That’s where magic happens.” —Will Chau (2016)
“Innovation isn’t additive—it’s multiplicative.” —Will Chau (2016)
“... I try to write the kind of book that I would like to read. (... saya berusaha menulis jenis buku yang ingin saya baca.)” —David McCullough (Interview with NEH chairman Bruce Cole, Humanities, July/Aug. 2002, Vol. 23/No. 4)
“Every book is a new journey. I never felt I was an expert on a subject as I embarked on a project. Mary Lee Settle, who is a writer whose work I greatly admire, said, "I write to find out." That says it perfectly. (Setiap buku adalah perjalanan baru. Saya tidak pernah merasa ahli dalam suatu subjek saat memulai sebuah proyek. Mary Lee Settle, seorang penulis yang karyanya sangat saya kagumi, berkata, 'Saya menulis untuk mencari tahu.' Ungkapan itu tepat sekali.)” —David McCullough (Interview with NEH chairman Bruce Cole, Humanities, July/Aug. 2002, Vol. 23/No. 4)
“I work very hard on the writing, writing and rewriting and trying to weed out the lumber. (Saya bekerja sangat keras dalam menulis, menulis ulang, dan berusaha menyingkirkan hal-hal yang tidak perlu.)” —David McCullough (Interview with NEH chairman Bruce Cole, Humanities, July/Aug. 2002, Vol. 23/No. 4)
“When I began, I thought that the way one should work was to do all the research and then write the book. In time I began to understand that it's when you start writing that you really find out what you don't know and need to know. (Ketika saya mulai, saya berpikir bahwa cara seseorang seharusnya bekerja adalah dengan melakukan semua riset terlebih dahulu, baru kemudian menulis buku. Seiring waktu, saya mulai memahami bahwa ketika kita mulai menulis, kita benar-benar menemukan apa yang tidak kita ketahui dan perlu kita ketahui.)” —David McCullough (Interview with NEH chairman Bruce Cole, Humanities, July/Aug. 2002, Vol. 23/No. 4)
“I remembered a line from an interview that Thornton Wilder had given to the Paris Review about how he came up with the ideas for the novels and the plays he wrote. He'd said, "I imagine a story I'd like to read in a book or see performed on the stage and if I find nobody has written it, I write it so I can read it in a book or perform it on the stage. (Saya teringat sebuah kalimat dari wawancara Thornton Wilder dengan Paris Review tentang bagaimana ia mendapatkan ide untuk novel dan drama yang ia tulis. Ia berkata, "Saya membayangkan sebuah cerita yang ingin saya baca di buku atau tonton di panggung, dan jika ternyata belum ada yang menulisnya, saya menulisnya agar saya bisa membacanya di buku atau menontonnya di panggung.")” —David McCullough (Interview with NEH chairman Bruce Cole, Humanities, July/Aug. 2002, Vol. 23/No. 4)
“What she taught in essence is that attitudes aren't taught, they're caught. If the attitude of the teacher toward the material is positive, enthusiastic, committed and excited, the students get that. If the teacher is bored, students get that and they get bored, quickly, instinctively. (Intinya, yang ia ajarkan adalah bahwa sikap tidak diajarkan, melainkan ditangkap. Jika sikap guru terhadap materi positif, antusias, berkomitmen, dan bersemangat, siswa akan memahaminya. Jika guru bosan, siswa akan memahaminya, dan mereka pun cepat bosan secara naluriah.)” —David McCullough (Interview with NEH chairman Bruce Cole, Humanities, July/Aug. 2002, Vol. 23/No. 4)
“The great thing about the arts is that the only way you learn how to do it is by doing it. (Hal yang hebat tentang seni adalah satu-satunya cara Anda mempelajarinya adalah dengan melakukannya.)” —David McCullough (Interview with NEH chairman Bruce Cole, Humanities, July/Aug. 2002, Vol. 23/No. 4)
“You can't learn to play the piano without playing the piano, you can't learn to write without writing, and, in many ways, you can't learn to think without thinking. Writing is thinking. To write well is to think clearly. That's why it's so hard. (Anda tidak bisa belajar bermain piano tanpa bermain piano, Anda tidak bisa belajar menulis tanpa menulis, dan, dalam banyak hal, Anda tidak bisa belajar berpikir tanpa berpikir. Menulis adalah berpikir. Menulis dengan baik berarti berpikir jernih. Itulah mengapa menulis itu sangat sulit.)” —David McCullough (Interview with NEH chairman Bruce Cole, Humanities, July/Aug. 2002, Vol. 23/No. 4)
“Exactly. We all know the old expression, "I'll work my thoughts out on paper." There's something about the pen that focuses the brain in a way that nothing else does. That is why we must have more writing in the schools, more writing in all subjects, not just in English classes. (Tepat sekali. Kita semua tahu ungkapan lama, "Saya akan menuangkan pikiran saya di atas kertas." Ada sesuatu tentang pena yang dapat memfokuskan otak dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh alat tulis lain. Itulah sebabnya kita harus lebih banyak menulis di sekolah, lebih banyak menulis di semua mata pelajaran, bukan hanya di kelas Bahasa Inggris.)” —David McCullough (Interview with NEH chairman Bruce Cole, Humanities, July/Aug. 2002, Vol. 23/No. 4)
“Ide bagus tidak akan berguna jika tidak ditemukan.” —Logan Heftel
“Metode Bob (Bob Richardson) adalah membaca semua yang telah dibaca subjeknya, dalam urutan saat mereka membacanya, menelusuri perkembangan intelektual mereka.” —Megan Marshall
“Banyak penulis—termasuk saya sendiri—telah menekankan pentingnya pengurangan, atau mengetahui apa yang harus dihilangkan.” —Austin Kleon
“Sebuah buku yang sukses tidak dibuat dari apa yang ada di dalamnya, tetapi dari apa yang tidak ada di dalamnya.” —Mark Twain
“Anda menghabiskan seumur hidup bermain musik untuk mempelajari musik apa yang tidak boleh dimainkan.” —Dizzy Gillespie
“Cobalah untuk menghilangkan bagian-bagian yang cenderung dilewati pembaca.” —Elmore Leonard (2007), Elmore Leonard's 10 Rules of Writing
“Hidup adalah seleksi. Tugas tukang kebun hanyalah menghancurkan gulma ini, semak itu, atau pohon itu, dan membiarkan yang lain tumbuh. Tapi gulma yang mana? Semak yang mana? Pohon yang mana? Tepat sekali. Itulah seninya.” —Ralph Waldo Emerson
“Masa-masa sulit dapat diperlunak, keterbatasan dapat diperlebar, dan beban berat menjadi lebih ringan bagi mereka yang dapat memberikan tekanan yang tepat.” —Seneca
“Setiap karya seni sejati menunjukkan dua kualitas, Kebaruan—seorang sejarawan seni dapat memperkirakan setidaknya tanggal pembuatannya—dan Keabadian—karya tersebut tetap ada di dunia lama setelah pembuatnya dan masyarakatnya tidak ada lagi.” —WH Auden dalam esainya “Some Reflections on the Arts”
“... salah satu berkat terbesar yang dianugerahkan Seni kepada kehidupan kita adalah bahwa Seni merupakan sarana utama kita untuk berbagi dengan orang mati, dan saya pikir, tanpa komunikasi dengan orang mati, kehidupan manusia seutuhnya tidaklah mungkin.” —WH Auden dalam esainya “Some Reflections on the Arts”
“Saya menduga bahwa alih-alih benar-benar membosankan, langkah transkripsi ini juga bisa menjadi langkah kreatif, dan saya akan melihat pola pikir, menghasilkan ide-ide baru.” —Austin Kleon
“Rekomendasi Bob tentang keterampilan menulis sederhana dan sering diulang: "Bab-bab pendek!" Biografi Thoreau dan Emerson yang ditulisnya masing-masing berisi 100 bab singkat bernomor, yang dikelompokkan menjadi beberapa bagian. William James menyumbang 90 bab. Inilah disiplin Bob, caranya mengatur tempo untuk jangka panjang dan menghindari informasi yang berlebihan.” —Megan Marshall
“Bob pernah merangkum prinsip utama filsafat William James: 'Perhatian dan keyakinan adalah hal yang sama. Apa yang Anda perhatikan adalah kunci dari apa yang Anda yakini.' Dari kuartet ini, saya belajar nilai dari memperhatikan orang lain secara dekat, sebuah kebaikan yang aktif dan mutlak yang dapat kita semua tuju dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam tulisan kita.” —Megan Marshall
“'Kurasa itu benar,' tambah Bob. 'Buku-buku yang bertahan lama adalah buku-buku yang menghidupkan temanya.' Biografi Bob memang begitu. Teladannya mengajarkan kita caranya.” —Megan Marshall
“Saya berusia 71 tahun, dan saya telah melakukan ini selama lebih dari 50 tahun, melakukannya pada tingkat yang cukup terlihat untuk usia 40 tahun. Pada saat ini semuanya menjadi kebiasaan. Semuanya adalah mesin yang bekerja dengan cara tertentu: pengamatan, evaluasi langsung dari pengamatan, dan kemudian pengarsipan mentalnya, atau menuliskannya di selembar kertas. Saya sering menggambarkan cara kerja seorang berusia 20 tahun versus, katakanlah, seorang berusia 60 atau 70 tahun. Seorang berusia 20 tahun memiliki jumlah data terbatas yang telah mereka alami, baik melihat atau mendengarkan dunia. Pada usia 70 tahun, itu adalah area penyimpanan yang jauh lebih kaya, matriks di dalamnya lebih bertekstur, dan memiliki lebih banyak kontur. Jadi, pengamatan yang dilakukan oleh seorang berusia 20 tahun dibandingkan dengan kumpulan data yang tidak lengkap. Observasi yang dilakukan oleh seseorang berusia 60 tahun dibandingkan dengan kumpulan data yang jauh lebih kaya. Dan observasi tersebut memiliki resonansi yang lebih besar, lebih kaya.” —George Carlin (2008)
“Di usia ini, saya memiliki jaringan pengetahuan, data, observasi, perasaan, nilai, dan evaluasi yang bekerja secara otomatis. Lalu, ketika saya duduk untuk menulis secara sadar, saat itulah saya menunjukkan keahlian saya. Saat itulah saya menyatukan semuanya dan berpikir, bagaimana cara terbaik untuk mengekspresikannya? Lalu, saat menulis, Anda menemukan lebih banyak lagi, karena pikiran mencari koneksi lebih lanjut.” —George Carlin (2008)
“Saya sering mencatat satu halaman, catatan di buku memo kecil. Saya sering mencatat hal-hal seperti itu. Karena ketika saya tidak sedang berada di dekat buku memo kecil, saya punya perekam digital. Sebagian besar pencatatan terjadi saat saya menonton televisi.” —George Carlin (2008)
“Creativity is a mental process by which an individual creates new ideas or products, or recombines existing ideas and product, in fashion that is novel to him or her (kreativitas adalah suatu proses mental yang dilakukan individu berupa gagasan atau produk baru, atau mengombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya).” —James J. Gallagher (1985)
“Kreativitas adalah kemampuan memecahkan masalah yang memberikan individu mampu menciptakan ide-ide asli atau adaptif fungsi kegunaannya secara penuh untuk berkembang.” —Widayatun
“Kreativitas adalah kemampuan menghasilkan bentuk baru menggunakan metode-metode baru.” —Chaplin (1989)
“Kreativitas adalah keterampialn menentukan pertalian baru dengan melihat subjek perspektif baru dan membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua atau lebih konsep dalam pikiran.” —James R. Evans (1989)
“Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk memikirkan sesuatu dengan cara baru dan tidak biasa serta mendapatkan solusisolusi yang unik.” —Santrock
“Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.” —Barron (dalam Ali & Arori, 2006)
“Kreativitas sebagai berikut: Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Ia mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. Ia harus mempunyai maksud atau tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata, walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Ia mungkin dapat membentuk produk seni, kesusastraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural atau metodologis.” —Drevdahl (dalam Hurlock, 1978: 4)
“Kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai ciri-ciri seorang kreatif. Lebih lanjut Guilford mengemukakan dua cara berpikir, yaitu cara berpikir konvergen dan divergen. Cara berpikir konvergen adalah cara-cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan berpandangan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar. Sedangkan cara berpikir divergen adalah kemampuan individu yang mencari berbagai alternatif jawaban terhadap persoalan. Dalam kaitannya dengan kreativitas, Guilford menekankan bahwa orang-orang kreatif lebih banyak memiliki cara-cara berpikir divergen daripada kovergen.” —Guilford (dalam Ali &Asrori, 2006: 41)
“Kreativitas sebagai suatu aktivitas kognitif yang menghasilkan suatu pandangan yang baru mengenai suatu bentuk permasalahan dan tidak dibatasi pada hasil yang pragmatis (selalu dipandang menurut penggunaannya).” —Solso, Maclin & Maclin (2007: 444)
“Kreativitas sebagai proses kemampuan memahami kesenjangan-kesenjangan atau hambatan-hambatan dalam hidupnya, merumuskan hipotesis-hipotesis baru, dan mengkomunikasikan hasilhasilnya, serta sedapat mungkin memodifikasi dan menguji hipotesishipotesis yang telah dirumuskan.” —Torrance (dalam Ali & Asrori, 2006: 41)
“Kreativitas sebagai suatu proses yang tercermin dari kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas dalam berpikir.” —Munandar (2002: 95)
“Kreativitas dapat ditinjau dari empat aspek atau biasa disebut dengan istilah 'Four P’s of Creativity: Person, Process, Press, and Product', yaitu: a. Pribadi (Person): tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya (Hulbeck, dalam Munandar, 2004). b. Proses (Process): langkah-langkah proses kreatif menurut Wallas (dalam Munandar, 2004) yang banyak diterapkan dalam pengembangan kreativitas, meliputi tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. c. Produk (Product): kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru (Barron, dalam Munandar, 2004). d. Pendorong (Press): menekankan faktor 'press' atau dorongan, baik dorongan internal, berupa keinginan dan hasrat untuk mencipta atau bersibuk diri secara kreatif; maupun dorongan eksternal dari lingkungan sosial dan psikologis.” —Rhodes (dalam Munandar, 2004: 20-22)
“Berpikir kreatif berarti menemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk mengerjakan apa saja.” —Schwartz (1996:74), Berpikir dan Berjiwa Besar
“Puisi yang baik tidak memberi tahu kita apa yang dirasakan tokohnya. Ia membuat kita merasa.” —Astrajingga Asmasubrata (2025)
“Scenius berarti kecerdasan dan intuisi dari keseluruhan adegan budaya. Ini adalah bentuk komunal dari konsep jenius.” —Brian Eno
“Itu karena ingatan lebih didasarkan pada kepentingan dan makna daripada waktu, detail atau bahkan fakta.” —Mark Mason
“Benarlah bahwa seorang penyair sesungguhnya tidak menulis di atas kertas kosong. Tidak jarang ia menulis puisi di atas puisi lain yang pernah atau sedang dibacanya. Dalam arti ini, karyanya merupakan respons atau tanggapan atas karya lain yang menjadi sumber belajar dan sumber inspirasinya. Wajar juga kita sering menemukan puisi yang seakan-akan merupakan versi lain dari puisi lain. Kita sama tahu, Chairil Anwar pun telah dengan cerdas dan lihai melakukan kerja semacam ini. Begitulah proses belajar yang mesti dijalani seorang penyair untuk menemukan bahasanya sendiri.” —Joko Pinurbo (2019:184), Berguru kepada Puisi
“Saya selalu ingin menjadi seseorang, tetapi sekarang saya menyadari bahwa saya seharusnya lebih spesifik.” —Lily Tomlin
“... spesifisitas membuka tiga atribut penting yang menjadi kunci kinerja (yaitu: unik, fokus, dan jelas)” —Josh Spector
“Semakin kabur tujuan Anda, semakin kecil kemungkinan Anda akan mencapainya.” —Josh Spector
“Sama yang paling penting adalah gua tahu skill gua apa, itu aja yang gua tajemin.” —Raditya Dika
“Banyak orang bilang, pekerjaan gua apa, sih. Ada penulis lah, ada ini lah, perkerjaan lo banyak banget. Ya, pekerjaan memang banyak, tapi skill-nya satu: its only storytelling.” —Raditya Dika
“Semua hal itu bisa, kalau kita pelajarin. Yaudahlah, gua buka buku Lupus—Hilman Hariwijaya yang nulis—gua coret tiap kali gua ketawa, gua garis bawahin, kenapa gua ketawa gara-gara ini, formulanya apa, ya. Jadi, gua mempelajari formula-formulanya.” —Raditya Dika
“Berpikir tentang kebenaran dapat merupakan proses berpikir kreatif (menggagas pemikiran baru), misalnya melangsungkan aktivitas berpikir untuk menghasilkan sebuah pemikiran [baru], kemudian mengkaji kesesuaiannya dengan fakta hingga pemikiran itu sesuai dengan fakta yang ditunjukkannya.” —Taqiyuddin an-Nabhani (1973:78)
“Adapun cara, untuk menghasilkannya dibutuhkan akal yang kreatif atau akal jenius, meskipun penggunaannya terkadang dilahirkan oleh akal yang biasa-biasa saja.” —Taqiyuddin an-Nabhani (1973:84)
“Metode tidaklah harus dihasilkan oleh akal yang jenius. Tetapi cara haruslah dihasilkan oleh akal yang kreatif atau genius, baik ia orang terpelajar atau bukan, sebab menghasilkan cara tidak berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tetapi berkaitan dengan aktifitas berpikir yang berlangsung untuk menghasilkan cara. Dari sinilah manusia berbeda-beda dalam menyelesaikan problem-problem, sebab problem-problem itu dipecahkan dengan cara.” —Taqiyuddin an-Nabhani (1973:84)
“Karena itu, berpikir tentang cara merupakan karakteristik akal yang kreatif atau jenius, karena menyelesaikan masalah bergantung pada berpikir tentang cara.” —Taqiyuddin an-Nabhani (1973:84)
“Apa pun yang kita lakukan, kita semua adalah pendidik. Tugas kita adalah mendidik orang tentang apa yang kita lakukan, bagaimana kita melakukannya, dan mengapa itu penting.” —Mindi Raker (2014)
“Tidak ada aturan yang mengharuskan Anda melepaskan hobi tertentu untuk meraih kesuksesan, tetapi mengubah hobi menjadi sumber nafkah memang ada harganya. Penyaluran kreativitas dapat membantu Anda dalam banyak hal. Berikan otak Anda waktu istirahat untuk membuat sesuatu, memanggang sesuatu, atau bahkan membongkar sesuatu.” —thefuture.com
“Manusia pada dasarnya adalah mesin peniru. Meniru adalah cara kita belajar berjalan, berbicara, dan menjelajahi dunia. Namun, dalam hal ide—terutama yang kita anggap "orisinal"—semuanya berbeda.” —thefuture.com
“Spiritualisme kritis dan proses kreatif adalah suatu perjalanan untuk menemukan diri kita sendiri, sehingga kita tidak perlu bergaya ini-itu untuk menjadi unik dan berkarakter. Jika kita menemukan diri kita sendiri, dengan sendirinya kita unik dan berkarakter secara otentik.” —Ayu Utami (2015) dalam Menulis dan Berpikir Kreatif cara Spiritualisme Kritis
“Berpikir kreatif membantu kita melihat masalah dengan perspektif baru dan mengantar kita menemukan penyelesaian yang inovatif,” —Ayu Utami (2015) dalam Menulis dan Berpikir Kreatif cara Spiritualisme Kritis
“Yang kita katakan tidak sama dengan yang kita pikirkan.” —Ayu Utami (2015) dalam Menulis dan Berpikir Kreatif cara Spiritualisme Kritis
“Hukum dalam dunia kreatif bukanlah bersifat perintah dan larangan”, dengan kata lain; “kita bukan robot. Kita tidak menjadi hidup dengan manual. Kita manusia. Kita bekerja dengan informasi dan mengambil keputusan dengan kehendak bebas dan pertimbangan akal budi.” —Ayu Utami (2015) dalam Menulis dan Berpikir Kreatif cara Spiritualisme Kritis
“Dan begitulah cara saya mendapatkan pekerjaan berbayar pertama sebagai reporter dan kolumnis: Saya menulis secara gratis, memosting secara teratur, dan ditemukan oleh seseorang yang menghargai suara saya.” —Christine Wolf (2020)
“Perkataan kecil yang sembrono bisa menjadi badai konflik. Sebaliknya, perhatian kecil bisa berbuah kepercayaan besar. Sedikit disiplin menabung pun bisa berbuah ketenangan di masa depan.” —Ivan Lanin (2025)
“Kreativitas pada dasarnya adalah kemampuan untuk menghasilkan ide, karya, atau solusi yang baru. Biasanya ia orisinal, dan bernilai.” —Baskara Puraga (2025)
“Kita sering diajarkan untuk menunggu inspirasi—ide yang sempurna, percikan, momen "aha!"—sebelum menulis. Namun, inilah kenyataan pahitnya: inspirasi tidak bisa diandalkan. Ia datang di saat ia menginginkannya, bukan di saat kita membutuhkannya. Jika kita bergantung padanya, kita akan menghabiskan lebih banyak waktu menunggu daripada menulis.” —Kate Smith (2025)
“Daripada mengejar motivasi, bangunlah momentum.” —Kate Smith (2025)
“Tetapkan aturan yang tak bisa diganggu gugat: menulislah sesuatu setiap hari. Bukan karena terinspirasi, tapi karena itu latihanmu. Mungkin 500 kata. Mungkin 10 menit. Mungkin satu paragraf yang tak masuk akal. Tak masalah — yang penting adalah kehadiranmu.” —Kate Smith (2025)
“Kreativitas bukan tentang memiliki ide yang sempurna. Kreativitas tentang mengubah momen biasa menjadi kisah yang bermakna.” —Kate Smith (2025)
“Alasan sebenarnya mengapa kebanyakan penulis "kehabisan ide" bukanlah kurangnya kreativitas — melainkan rasa takut. Takut tidak cukup baik. Takut tidak ada yang peduli.” —Kate Smith (2025)
“Anda tidak bisa mengendalikan hasilnya. Anda hanya bisa mengendalikan apa yang Anda lakukan hari ini.” —Kate Smith (2025)
“Penulis terbaik tidak mengejar kesempurnaan. Mereka membangun kebiasaan.” —Kate Smith (2025)
“Anda tidak perlu mempublikasikan semua tulisan Anda. Namun, Anda perlu menulis secara teratur. Latihan harian itulah—catatan kasar, pemikiran yang setengah jadi, draf yang tak kunjung membuahkan hasil—yang mempertajam pemikiran Anda dan membuka suara Anda.” —Kate Smith (2025)
“Jika Anda serius ingin menulis, berhentilah menunggu kilat menyambar. Bangun rutinitas. Berkreasilah tanpa berpikir berlebihan. Jangan terobsesi dengan bagaimana tanggapan orang terhadap tulisan Anda. Terobsesilah dengan seberapa sering Anda duduk untuk berkarya.” —Kate Smith (2025)
“Karena rahasia untuk menjadi penulis yang lebih baik — dan memiliki lebih banyak ide daripada yang bisa Anda gunakan — adalah membosankan, sederhana, dan kuat: Konsistensi mengalahkan inspirasi. Setiap saat.” —Kate Smith (2025)
“SAINs dan fiksi adalah dua dunia yang tampaknya terpisah, bahkan bertolak belakang. Sains berbasis fakta, sementara fiksi berbasis imajinasi. Namun, ketika keduanya bertemu, hasilnya bisa menakjubkan, bahkan penting.” —Dee Lestari (2024)
“Salah satu kontribusi terbesar fiksi sains adalah kemampuannya sebagai katalisator untuk kreativitas dan inovasi. Banyak penemuan teknologi modern yang terinspirasi oleh ide-ide yang awalnya muncul dalam fiksi sains. Ini menunjukkan bahwa fiksi sains tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai pendorong inovasi.” —Dee Lestari (2024)
“Sains memberikan bahan baku bagi fiksi, sementara fiksi memberikan konteks dan imajinasi yang diperlukan untuk menjelajahi ide-ide baru. Ketika keduanya berpadu, kita tidak hanya mendapatkan cerita yang menarik, tetapi juga wawasan yang mendalam tentang dunia di sekitar kita.” —Dee Lestari (2024)
“Banyak penemuan yang awalnya muncul dari imajinasi para penulis fiksi sains. Contohnya, konsep telepon pintar yang kita gunakan sehari-hari sudah ada dalam karya-karya seperti Star Trek. Dalam serial tersebut, perangkat komunikasi yang digunakan oleh karakter-karakternya mirip dengan smartphone modern. Hal ini menunjukkan bagaimana imajinasi dapat memicu inovasi nyata di dunia nyata.” —Dee Lestari (2024)
“Fiksi sains adalah jembatan yang menghubungkan imajinasi dan realitas, dan setiap cerita yang kita baca dapat menjadi sumber inspirasi untuk inovasi dan perubahan.” —Dee Lestari (2024)
“Menulis fiksi sains itu seperti memasak. Kita butuh bahan-bahan yang tepat untuk menciptakan hidangan yang lezat dan menggugah selera. Dalam hal ini, bahan-bahan tersebut adalah fakta ilmiah, imajinasi, dan unsur-unsur dramatis. Menggabungkan semua itu bisa jadi tantangan, tapi dengan beberapa tips praktis, kamu bisa meramu cerita yang bukan hanya menarik, tetapi juga cerdas.” —Dee Lestari (2024)
“Perhatikan bagaimana mereka membangun dunia, mengembangkan karakter, dan menyampaikan informasi ilmiah. Dengan cara ini, kamu bisa belajar banyak dan mengembangkan gaya penulisanmu sendiri.” —Dee Lestari (2024)
“Sains adalah pengetahuan yang terorganisir. Kebijaksanaan adalah kehidupan yang terorganisir.” —Will Durant (1926)
“Ketika Anda membaca ulang sebuah karya klasik, Anda tidak melihat lebih banyak hal dalam buku tersebut dibandingkan sebelumnya; Anda melihat lebih banyak hal dalam diri Anda dibandingkan sebelumnya.” —Clifton Fadiman
“Gayanya Ryan Holiday itu sangat khas, dan gua belum pernah ngelihat ada yang bisa replicate exactly seciamik dan sebagus itu. Gua bahkan sampe nontonin podcast-podcast-nya Ryan Holiday di mana dia ceritain proses kreatifnya dia; dia ngeluarin satu tray yang isinya, tuh, semua notes dia research dia untuk bikin satu buku.” —Raditya Dika
Tahun 2026
Topik kutipan: proses kreatif, pemikiran, dan pemasaran
5-1-2026
“Realitanya, meraih kesuksesan sebagai individu kreatif di era modern ini tidak semata-mata ditentukan oleh bakat, tetapi dengan visibilitas.” —Ammie-Marie Littke (2025)
“Banyak penyair yang karyanya paling banyak dibaca saat ini belum tentu yang terbaik dalam menulis puisi—mereka hanyalah yang terbaik dalam memainkan permainan pemasaran.” —Ammie-Marie Littke (2025)
“Banyak penyair yang sukses bukan hanya penulis yang terampil—mereka juga memahami cara memasarkan karya mereka secara efektif.” —Ammie-Marie Littke (2025)
“Seorang penyair yang memahami SEO, algoritma media sosial, dan cara mengemas karyanya untuk pembaca modern hampir selalu akan mengungguli penulis yang lebih terampil secara teknis tetapi tidak terlibat dalam promosi diri digital.” —Ammie-Marie Littke (2025)
7-1-2026
“bulan di atas kuburan
Kesan yang terumus dalam kata kata secara spontan itu, terucap dalam hati berulang ulang, terus-menerus memburu ingatan.” —Sitor Situmorang (1984:x)
Kesan yang terumus dalam kata kata secara spontan itu, terucap dalam hati berulang ulang, terus-menerus memburu ingatan.” —Sitor Situmorang (1984:x)
“Ini berarti bahwa latar belakang pengarang berikut proses penciptaannya bukan tidak ada manfaatnya untuk diketahui. Malahan penting sekali diketahui, sebagaimana terbukti dengan sajak Sitor di atas.” —Pamusuk Eneste (1984:x)
“Setiap pengarang akan mempunyai pengalamannya sendiri, sudah terumus kan atau belum.” —Pramoedya Ananta Toer (1984:1)
“... suatu conditio sine qua non, yang bagiku memberi kemungkinan untuk kerja kreatif.” —Pramoedya Ananta Toer (1984:2)
“Di pulau yang kunamai mistikum itu kerja kreatif adalah mengagungkan sang Gusti yang menghidupi, melahirkan kenyataan baru, yang kemudian hidup di luar waktu. Ia tetap dalam keadaannya sewaktu dilahirkan, tak peduli dua tiga atau empat generasi telah datang dan pergi. Ia kalis dari tanggapan suka atau tidak suka, generasi demi generasi. Ia tak tergoyahkan oleh kritik, analisa, makalah, apalagi pemberangusan.” —Pramoedya Ananta Toer (1984:4)
“Dalam Konferensi Kebudayaan BMKN awal tahun 50-an Romo Dr. P.J. Zoetmulder SJ menyatakan: Sastra menciptakan dirinya sendiri. Aku pikir, beliau tidak keliru bila melihat proses kreatif semata-mata dari jurusan mistikum dan meninggalkan mekanisme kreativitas, yang tak terpisahkan dari prosesnya. Justru mekanisme itu yang menjamin bahwa kreasi selamanya manusiawi, mengandung kekurangan, kesalahan, dan kekeliruan. Poly-interpretasibilitas atasnya tak lain dari barometer kemanusiawian kreasi. .... Tentang kemanusiawian kreasi tak lain dari Hegel yang menyebutkan tentang ein notwendiger Anachronismus, sebagai salah satu dari sejumlah cercah dari kemanusiawian kreasi artistik.” —Pramoedya Ananta Toer (1984:4)
“Mekanisme kreativitaslah yang menggugah tanggapan senang atau tidak, benci atau tidak, sampaisampai orang melarang, mem bakar, atau memujanya. Sedangkan tanggapan pada gilirannya sematamata ditentukan pesangon seseorang atau jelasnya total jenderal informasi dalam dirinya yang ditentukan oleh rasio atau dagingnya, atau kedua-duanya sekaligus. Sedang kreasi itu sendiri tetap dalam keadaannya selama peradaban mendukungnya.” —Pramoedya Ananta Toer (1984:4)
“Proses kreatif adalah semata mata bersifat individual, yang bisa terjadi hanya setelah terbentuk mistikum sebagai conditio sine qua non. Mistikum, kebebasan pribadi yang padat (condensed), yang melepaskan pribadi dan dunia di luarnya, yang membikin pribadi tidak terjamah oleh kekuasaan waktu, suatu kondisi di mana yang ada hanya sang pribadi dalam hubungan antara kawula dengan Gusti dengan bukti kegustiannya, tertampillah sang kreator dengan Kreator melalui pernyataan pernyataannya.” —Pramoedya Ananta Toer (1984:5)
“Dalam kehidupan alam semesta, manusia sebagai individu hanya merupakan sebuah noktah, namun titik yang tiada bandingan di seluruh alam semesta itu sendiri. Dan titik ini—berbeda dari isi alam selebihnya—mengandung dalam dirinya sang waktu yang tiga matra. Matra pertama merangkup pesangon—seluruh data informasi yang dihimpunnya melalui pengalaman indrawi, nalar, dan perasaan, yang merupakan jutaan benang dan simpul yang berhubungan dengan pribadi-pribadi lain (nyata dan niskala), benda-benda (nyata dan niskala). Matra pertama dengan rangkuman pesangon itu membawa pribadi ke matra kedua—posisi kini. Dengan matra pertama dan kedua sebagai pesangon pribadi dapat memasuki matra ketiga—posisi yang akan datang.” —Pramoedya Ananta Toer (1984:5)
“Dengan kemajuan teknologi, proses kreatif lebih mudah dibikin jelas melalui cara kerja komputer, yang juga bisa melahirkan perpaduan baru dari data yang disimpannya. Bukankah kreasi tak lain dari wujud baru hasil perpaduan dari data tertentu yang tersimpan dalam pesangon? Setiap pribadi kaya akan pesangon asal tidak mengalami kerusakan pada jaringan syaraf atau otak, maka teoritis setiap orang mempunyai peluang berkreasi. Walhasil kreatif bukan suatu yang muluk, justru wajar. Tinggallah kini faktor pribadi yang membedakannya dari komputer: keberanian, kemauan, disiplin, keyakinan, tanggung jawab, dan kesadaran, yang membikinnya berprakarsa tanpa perintah. Dengan unsur-unsur mental itu, dengan dukungan jaringan syaraf yang waras dan tersedia otot-otot sehat yang diperlukan, kreasi justru suatu keharusan.” —Pramoedya Ananta Toer (1984:6)
12-1-2026
“Semakin tinggi nilai karya sastra, sebenarnya tak lain karena semakin tinggi nilai sentaknya pada kesadaran dan tanggung jawab. Maka yang dilahirkan tanpa dan menolak kesadaran dan tanggung jawab, dalam trance ataupun “kesetanan”, bukan saja bukan seni dan justru yang dinamakan antikultur.” —Pramoedya Ananta Toer (1984:6)
13-1-2026
“Saya mulai menulis, lebih tepatnya mencorat-coret, sebagai cara untuk berpikir: untuk menemukan, memahami, lebih mengetahui, mengurai benak yang khaotik; untuk memberi bentuk kepada pikiran, perasaan, dan pengalaman, hal-hal lain yang abstrak, amorf, serba-tidak jelas. Juga untuk menemukan sejauh mana saya bisa merentang suatu pikiran atau imajinasi, mengujinya, meragukan, mengoreksi asumsi keliru, dan seterusnya.” Nukila Amal (2023)
“Mengarang—dalam arti mengada-adakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada—itu datang lebih kemudian.” Nukila Amal (2023)
“Tanpa eksplorasi dan main-main dengan bahasa, menulis akan tidak asyik dan sangat menjemukan.” Nukila Amal (2023)
“Buat saya membaca buku adalah kegiatan “kabur” yang menyenangkan, kabur ke dalam cerita dan kabur dari sekitar.” Nukila Amal (2023)
“Saya tidak membaca lagi karya-karya terdahulu sebab itu sudah selesai, tapi ada saat-saat harus saya membaca-baca lagi saat buku diterjemahkan, untuk koreksi dan penyuntingan. Ada bagian-bagian yang saat dibaca sekarang bikin saya meringis atau mengernyitkan kening karena apa ya, aneh sajalah. Tapi itu wajar saja sebagai bagian dari proses panjang menulis selama ini.” Nukila Amal (2023)
“Jika karya itu kemudian dimuat atau diterbitkan berarti ada ukuran bahwa karya tersebut ternyata layak dibaca orang lain.” Nukila Amal (2023)
“Menulis adalah sesuatu yang intuitif dan instingtif, menuruti logika tertentu, juga tantangan artistik tertentu setiap karya. Itu semua bagian dari proses kreatif, cara berpikir, sensibilitas saya sebagai penulis dari awal sampai kini. Saya kira akan repot betul jika berangkat menulis dengan pretensi dan tujuan ini-itu, membayangkan pembaca dan selera mereka.” Nukila Amal (2023)
16-1-2026
“Secara umum untuk sastra Indonesia saya lebih senang membaca dan lebih terinspirasi dari buku-buku puisi sebab berurusan dengan bahasa dan gagasan, karya penyair-penyair seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad.” Nukila Amal (2023)
“Kalau soal teknikalitas sastra, James Joyce; Ulysses salah satu buku yang sering saya baca-baca kembali bagian-bagiannya. Juga tulisan Henry Green, William Gaddis, Bruno Schulz—mereka tidak terbebani dengan kaidah baku ini-itu, cara-cara formulaik yang sudah terbukti atau mudah, lebih memilih jalan sunyi. Sangat memikat untuk membaca karya mereka dengan mata penulis.” Nukila Amal (2023)
“Nah, sumber-sumber bacaan itu bisa menghasilkan pantikan, dalam arti bisa memunculkan gagasan penulisan dan bagaimana saya mengolah informasi itu dan dari gagasan itu bisa menjadi tulisan.” Nukila Amal (2023)
“Ada masa ketika saya membaca secara intens satu topik, misalnya, tentang otak, kesadaran, neurologi. Dan itu kemudian saya niatkan menjadi cerita. Karena salah satu cara saya memproses informasi yang didapat adalah dengan cara menuliskannya.” Nukila Amal (2023)
26-1-2026
“Saya rasa ini penting: kenangan dan ide muncul di suatu tempat. Esai adalah tempat untuk ide; esai harus terasa seperti sebuah tempat. Esai harus memberikan perasaan seperti memasuki sebuah ruangan.” Elisa Gabbert (2024)
“Saya menganggap esai sebagai ranah bagi penulis dan pembaca. Ketika saya mengerjakan sebuah esai, saya memasuki ruang yang definisinya tidak begitu jelas. Jika kita meminjam istilah Alexander lagi, esai yang sedang dikerjakan adalah 'situs'.” Elisa Gabbert (2024)
“Teknik adalah fungsi, tetapi arsitektur adalah estetika. Anda tidak hanya mendesain untuk fungsi—Anda ingin orang merasakan sesuatu.” Elisa Gabbert (2024)
“Saat menulis, saya mencoba menjadi seorang arsitek. Saya mencoba membuat pembaca merasakan apa yang saya rasakan; bahkan ketika saya tidak bermaksud meyakinkan mereka tentang sesuatu, dan sebagian besar waktu memang tidak, menulis adalah tindakan yang secara halus memaksa. Pemaksaan itu bersifat kooperatif, seperti halnya pertunjukan apa pun.” Elisa Gabbert (2024)
2-2-2026
“Sebab pada mulanya (dan pada akhirnya?) puisi adalah perihal sejumlah kata yang menjelma semacam susunan kimiawi dalam sebuah komposisi – apa pun yang telah mendorongnya, dan seperti apa pun wujud jadinya – sebelum ia mengacu kepada hal-ihwal di dunia. Dengan kata lain, puisi pertama-tama memanggil perhatian pembaca kepada unsur-unsurnya: kata, bunyi dan imaji dan ritme yang ditimbulkannya, jeda, ruang kosong di sekitarnya, dan seterusnya.” Hasif Amini (2011:xiv)
“Membaca puisi memang kadang (atau sering) berarti membiarkan diri kita menyusuri saja rangkaian kata dan pelbagai jejaknya: imaji, bunyi, tapi juga sunyi yang melatari atau mengantarainya, pun “denyar” serta “bayang-bayang” (ide maupun bentuk puisi) yang bisa datang dari pelbagai penjuru. Maka, ketika rangkaian makna membayang dalam pembacaan, secara bersamaan semua unsur puisi itu sesungguhnya tengah bergerak ke dalam benak. Di situ kata demi kata pun mendapatkan kembali bobotnya sebagai artefak, dengan segenap latar belakang yang dikandungnya, sebagaimana benda seni – lukisan, patung, instalasi – yang hadir kuat dan merebut perhatian di sebuah ruang.” Hasif Amini (2011:xv)
“Hadirnya sajak bebas telah menambahkan satu 'bentuk baru' yang penting – sumbangan khas budaya tulis bagi khazanah puisi. Namun, meski memberi arah baru yang revolusioner dalam puisi modern, ia toh tak membuat punah pelbagai bentuk persajakan yang diwariskan oleh tradisi lisan.” Hasif Amini (2011:xvii)
“Atau barangkali lebih baik disebut 'pilihan', karena proses penciptaan tak selalu hanya menuruti kendali kesadaran, dan bisa mengandung unsur-unsur kebetulan atau aleatoris di dalamnya. Sebuah percikan ide atau suasana atau mood yang memantik suatu momen penciptaan dalam diri seseorang, pada saat yang berbeda akan merangsang bangkitnya momen yang berbeda setiap kali dan akhirnya menghasilkan karya yang berbeda pula, termasuk 'pilihan' bentuknya.” Hasif Amini (2011:xvii)
3-2-2026
“Sebab pada mulanya (dan pada akhirnya?) puisi adalah perihal sejumlah kata yang menjelma semacam susunan kimiawi dalam sebuah komposisi – apa pun yang telah mendorongnya, dan seperti apa pun wujud jadinya – sebelum ia mengacu kepada hal-ihwal di dunia. Dengan kata lain, puisi pertama-tama memanggil perhatian pembaca kepada unsur-unsurnya: kata, bunyi dan imaji dan ritme yang ditimbulkannya, jeda, ruang kosong di sekitarnya, dan seterusnya.” Hasif Amini (2011:xiv)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar